aku sudah melewati tujuh puluh tujuh hari yang campur aduk, beberapa kali hujan dan badai, sesekali kuyup sekaligus kering. semua hal itu menghantamku dalam keikhlasan. kau berseloroh dalam kepalamu, mengatai aku bodoh, padahal kau sudah lipat payungmu dan meletakkannya di lemari usang. sorot mata mu yang seperti partikel layang di bulan Desember, terus menerus membekukan setiap bara api yang berusaha ku hidupkan. senyap yang kini tercipta dalam pembatasku, berotasi begitu lambat sambil menyulam namamu dalam ribuan kunut. dengan ingatan yang ku punya, setiap hal kecil dari dirimu adalah lapisan terdalam dari asa yang ku ikat dalam perasaanku. kau adalah sani yang muncul dalam rebas mataku. semakin kau patahkan, justru perasaan ini tumbuh semakin kokoh. aku menikmati posisiku, dalam doa yang tidak bisa kau dengar, dari jarak ketidakingintahuanmu. berada di titik ini sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa, menjanjikan kelegaan bisa menyimpanmu dalam relung setiap hari tanp...
rangkaian kisah untukmu