Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2013

Pendusta Hitam

kau suruh aku menunggu menitipkan janji pada puing kenangan lalu kau mohonkan padaku untuk tidak jemu memintaku bersabar terlebih dahulu kau katakan cintamu nyata untukku merangkak bimbang kau pada ucapanmu kini kau berlalu meninggalkan segenggam harapan palsu ada dusta setiap menatap mata sayu itu tersuguh ragu bergelimpung seperti inikah cinta yang kau agung-agungkan? kau saja, berjanji tidak bisa! apalagi menjagaku! kau selalu berkata kaulah yang paling mengerti aku toh, kini apa?! kau malah yang membuatku kian menjauh omong kosongmu terlalu mudah terbaca hatiku masih bisa meraba siapa yang benar dan siapa yang salah sudah jelas! kau tidak menyelipkan namaku dalam doa ucapanmu palsu! penuh semu yang tak berguna kau pengecut! yang hanya berkata 'iya' namun berlalu kau memang tak memiliki arti menyuguhkan tetesan rindu katamu? mulutmu terlalu besar sayang! teorimu terlalu panjang hingga dusta mengelilingi hidupmu ucapanmu mentah! tak terjamah o...

merindu layu Februari ungu

"25 Februari 2012..." sebutkan lagi akhir Februari kelabu meminta sambutan sekali lagi dengan padu layak mega menghantam ribuan memori lucu ketika kau bergeming, menumpahkan emosi rindu berkecamuk jadi satu warna apalagi yang kau perlu? aku tak tahu duka apa yang menyelimuti relung jiwamu kosong? atau bahkan sedang mengais pilu? perlukah aku mengarah lagi untuk melihat rongsokan cerita semu? bak lelucon tak terjamu kali ini sudah tiba saatnya waktu untuk daku mengucap selamat pada hari di tahun lalu terkisahkan kau dan aku menjadi padu bercerita mengenai bahagia luka tempo dulu harmoni tak sejalan tanpa perlu usikan palsu mengejar kata rindu yang menggebu kelu menarik bait dalam irama semu tak menentu sudah jelas kau dan aku hanya klasik layu malu menyerbu menuang ragu kau dan aku tau semua kini rancu tak ada kini namun lalu berakhir bersama tawa yang kian membisu relung tak bernyawa lalu tersapu meratap tak guna, pilu terus menyeru terakhir lar...

aku masih menunggumu

"meskipun ada yang lain yang membuatku jatuh cinta, tapi hatiku pada akhirnya selalu kembali padanya. selalu seperti itu. - AIS" tertulis untuk kau yang selalu ada di hatiku, aku melihatmu, aku memperhatikanmu. dari sini, di titik ini. titik yang tak pernah berubah, dimana semuanya jelas hanya ada satu orang yang ada mengisi labirin-labirin dalam hatiku. setiap kali tatapan yang tertuju, selalu mengarah padamu, aku begitu merindukanmu. memperhatikanmu dari kejauhan, tertawa bodoh melihat gerak-gerikmu. aku begitu merindukanmu. dan tak ada alasan mengapa, sudah pasti rinduku belum bisa berbalas jelas dihadapmu. apakah kau tak melihatku? apakah kau tak mendengar perasaanku? perasaan yang menahun ku pendam. aku disini, aku akan menunggumu hingga kau bisa membaca kembali setiap nafasku yang selalu menyebutmu, namamu dalam setiap doa. dan hingga kini pun yang ku inginkan hanya kamu, dirimu seutuhnya. dan meskipun semua ini terasa begitu menyakitkan, lihatlah aku masih bisa te...

terenggut keabadian

abadi? aku tak ingin mendengarnya kematian? aku tak berniat mengingatnya alurku terlalu cepat berlalu nafasku tersendat dibelakang tertinggal bersama bayangmu yang telah lama menghitam keabadian? aku benci itu di saat tawa memecah hari-hari ku dengan tak berperasaan dia merebutmu memvoniskan aku kedalam duka yang teramat gila fungsi otak yang melumpuh tatapan yang nanar tanpa bayangan kebutaan sejenak menguasai aku sekarat! senja seperti apa yang indah? kalau mataharinya sudah menghilang pelangi mana yang menawan? jika warnanya telah pudar langit seperti apa yang terang? bahkan bulan dan bintang telah meremangkan sinarnya rindu yang bagaimana ini? di setiap detaknya tak terbalaskan waktu angin malam yang silih berganti pun tak dapat menyampaikan seluruh debaran bahagia seperti apa ini? jika sang pemilik senyum telah di renggut keabadian? tak menitipkan sisa, tak bercelah melebarkan luka yang menganga begitulah keabadian merenggu...

In memoriam-rest in peace :')

"apa kabar kau disana? rindu ku disini tak memiliki jeda. mereka berkepanjangan meminta pertemuan. iya pertemuan yang abadi...." pertemuan.. pertemuan.. rindu.. rindu.. begitulah hatiku terus meronta-ronta. tak terbendung. air mata setiap tetesnya menginginkan pertemuan. pertemuan bersama mu yang telah di surga. tak kuasa menghilangkan setiap debaran rindu yang kian lama semakin membelenggu. berkarat. tak terbalas. keabadian yang sudah meluluh kan setiap inci rindu yang tersemat namamu disana. wajahmu, tawamu, tingkahmu, bahkan amarahmu masih jelas terekam di benakku. situasi apa yang telah ku lupakan? tidak ada! genggaman tangan mungilmu, sandaran bahu kecilmu, seulas senyum yang selalu kau perlihatkan padaku. setiap harinya. "apa kabar kau disana?" seperti itulah setiap harinya aku bertanya padamu. walau tanpa jawaban aku masih setia merapalkan pertanyaan itu pada sang malam. berharap kau mendengar ucapan terbata dalam kegelapan malam ku, dan berdiri dis...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

#surat untuk awan kelabu

mereka menghitam bercampur putih. mereka tak terik tapi berangin. mereka si awan kelabu. cuaca yang begitu sejuk namun terlihat samar dari balik jendela kamarku. warna favorit ku. kau tau kan? pada kesempatan ini aku ingin menceritakan sedikit banyak tentang percintaan teman sebangku ku. kau tau siapa bukan? hari ini kutulis kembali sepucuk surat untuk mu, kali ini di awan kelabu yang begitu kurindukan.mengenai cerita dari seorang teman. teman ini adalah gadis yang paling tenang yang pernah ku temui. pemikiran yang dewasa dan di modif dengan paras yang indah. rasa sakit yang ia pendam setiap harinya kadang menjadi tanda tanya bagiku. entah kenapa dalam hal menutupi luka, dia memang sangat handal. kau tau bukan bagaimana lelakinya yang dulu sempat beberapa kali ku ceritakan padamu, lelaki yang mempermainkan teman ini? menjanjikan banyak hal di masa depan. berikrar untuk menjadikan teman ini satu-satunya di akhir cerita. lelaki yang kini entah kemana telah bermuara, hilang bak terte...