Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2013

maaf aku belum sempat membalasnya #4 (end)

"mbak, ini ada paket untuk mbak avi, katanya dari Padang" "kapan datangnya bik? "seminggu yang lalu mbak. maaf bibik baru kasi sekarang soalnya kata ibuk selesai si mbak ujian dulu baru di kasih" "oh begitu, makasih ya bik" "njee mbak" aku heran, selama tiga tahun ini aku tak pernah dapat kiriman paket dari Padang, kotaku dulu. tempat dimana aku kehilangan cinta pertama itu. tapi sudahlah, sudah tiga tahun berlalu mungkin dia juga sudah di kelilingi gadis-gadis yang jauh lebih baik dari pada aku. tapi kenapa paket ini bisa sampai kesini? dengan hati-hati aku membuka box besar itu. aku kaget melihat isi-isi didalamnya. tidak hanya satu jenis barang saja. melainkan ada beberapa. ada disana sebuah album foto besar penuh dengan foto-foto ku ketika memasuki kelas baru dulu, ketika aku mengikuti lomba solo song, lomba gitar solo dan beberapa foto ku sedang tertidur, ada lagi miniatur Tinkerbell lengkap bersama PeterPannya di bungkus d...

maaf aku belum sempat membalasnya #3

sudah dua minggu sejak kejadian kinan menyatakan perasaannya padaku. aku memang tidak melihat perubahannya secara drastis hanya saja, aku sudah mulai melihat dia mulai rajin pada pembelajaran yang ada. dia mulai mengerjakan catatan, PR dan latihan. itu sebuah kemajuan. dia memang benar-benar ingin menunjukkannya. dan hari ini di awali dengan pelajaran bahasa indonesia yang di ajar oleh guru paling galak di sekolah ini, namanya bu Dewi. aku tau, bu Dewi paling tidak suka jika ada muridnya yang tidak memperhatikan pelajaran yang ia berikan. hukuman yang akan diterima murid yang melanggar akan sangat mengangetkan pastinya, kecuali untuk murid yang bisa menjawab pertanyaannya. "Kinan! saya sedang menerangnkan, kenapa anda bisa-bisanya tidur saat pelajaran saya" teriak bu Dewi dengan tegas "saya tidak tidur bu. saya hanya menundukkan kepala" "bagaimana bisa kamu bilang kamu tidak tidur, mata kamu saja merah" "saya hanya ngantuk bu" "ka...

maaf aku belum sempat membalasnya #2

ini sudah dua hari sejak kejadian kiriman note itu. aku masih belum berani bertanya kepada teman-teman ku. aku berusaha hanya menyimpan dan takkan ingin mencari tau lagi, tapi mustahil aku semakin penasaran akan sosok itu, kembali kudapati secarik kertas kini kertas itu berwarna merah terselip di buku catatan matematika ku disana ditulis kembali 'ayo semangat PR matematika banyak. kerjain yang rapi ya' # kinan  dan lagi ini maksudnya apa? sepertinya lama kelamaan aku akan seperti kolektor yang menyimpan kertas-kertas ini. baiklah aku akan memutuskan untuk benar-benar mencari tahu siapa lelaki ini. sudah cukuplah permainan anak-anak ini. aku sama sekali tidak tertarik lagi bermain teka-teki seperti ini sudah saat nya aku selesaikan. mungkin gea akan bisa membantu *** "pagi vi, tumben datengnya pagi banget?" "pagi juga. iya nih aku pengen nanya sesuatu sama kamu ge. mau minta tolong." "tolong apa?" "kamu kenal nggak sama kinan? kata...

maaf, aku belum sempat membalasnya #1

langit mendung mengawali pagi ini, sudah pukul enam tapi aku tetap saja belum ingin mempercepat gerakan. hari ini, hari pertama dimana aku menginjak kelas 9. betapa tidak aku malas melangkah, kelas yang notabene di dominasi oleh kaum adam telah sejak lama terbayang di kepalaku. sudah terbesit di benak bahwa hari ini pasti akan sangat membosankan. Aku mengawali pagi ini dengan muka malas dan setengah hati untuk melangkah keluar, sama halnya dengan langit yang kian memendung namun tak kunjung turun hujan. "Avi.. buruan nanti kita telat" teriakan mama mempercepat langkahku "iya ma tunggu bentar lagi minum" jawabku setengah berlari kecil "kamu ini, niat sekolah atau tidak sih nanti telat, mama lagi yang susah" "iya deh maaf" *** pukul 7.15 sangat bertepatan dengan bunyi lonceng ketika aku baru saja turun dari mobil. dengan malas  aku melangkah masuk kedalam pekarangan sekolah yang selama ini, sama sekali tak pernah aku pedulikan. hanya s...

bersama ayah, aku hidup #3 (end)

*** 26 Agustus 2012 Bangun pagi, semua sibuk memberes-bereskan barang-barang. Maklumi saja, kami baru saja pulang dari kampung. Ibu terlihat sibuk memasak di dapur, ayah terlihat sibuk dengan baju-bajunya yang berantakan. Hari ini aku merasa ada sesuatu yang kurang, mereka tidak ingat ini hari ulang tahunku. Mereka sibuk masing-masing. Aku pun tak berniat untuk mengingatkannya. Sampai aku mendapatkan kejutan dari teman-teman ku, mereka datang membawakan kue ulang tahun yang kelihatannya sangat menggiurkan. Ayah dan ibu tak menghiraukannya. Mereka meminta izin untuk pergi, aku di tinggal dirumah sendirian. Mereka mengatakan akan pulang malam hari. Bagaimana tidak, ini hari ulang tahunku, mereka pergi dan sama sekali tidak mengingatnya, padahal tahun kemarin semuanya masih saja indah. Dan lebih tepatnya ini ulang tahun ku yang ke 17. Setelah teman-temanku pulang, aku merapikan rumah membersihkannya. Menghidupkan lilin dan menghembusnya begitu berulang-ulang. Ayah, ibu dan adikk...

bersama ayah, aku hidup #2

*** “bul, kapan kesini? Aku sudah bisa pindah ke Padang. Anakku mana?” terdengar suara Ibu dari balik telfon. “rencana hari sabtu bun, naik kapal. Mas prapto udah ngasih tiketnya. Ini dia sudah besar sekali” jawab ayah lagi “aku rindu sekali dengan dia, sudah setahun aku tidak menjaganya. Kira-kira dia masih ingat wajah ku tidak ya bul? “ah pastilah ingat, kamu berlebihan sekali. Namanya anakmu, lahir dari perutmu, mana mungkin lupa” “oh iya ya. Aku tunggu hari minggu ya bul! Kabari aku kalau sudah sampai Sukabumi” “baik bun” sambil menutup telfon Ayah menghampiri ku yang sedang bermain bersama anak tetangga di depan teras, “Tikaaa, sini dulu nak” sahutnya. Dan aku berlari mendengar panggilan itu “apa yah?” “Sabtu kita jemput Ibu ya? Kita naik kapal, Tika belum pernah naik kapal kan?” “kapal? Iya Tika maau yah” *** Sukabumi, 9 Mei 1998 “assalamu’alaikum bun, aku sudah di depan rumahmu yang mana?” “tunggu bul, aku keluar” Dan muncul dari dalam sesosok w...

bersama ayah, aku hidup #1

“Langsa, 26 Agustus 1997..” Pagi yang begitu dingin. Tak seperti biasanya, mungkin di luar akan turun hujan. ah tapi kan masih pagi, terdengar langkah kaki, sepertinya itu bukan nenek, tapi siapa lagi? Itu seperti langkah seorang laki-laki. Pintu pun di buka perlahan seingatku, ternyata benar dugaanku, seorang laki-laki bertubuh kurus itu masuk dan membawa kantong besar di tangannya. Menarik tanganku sambil menggendongku “selamat ulang tahun pikacu kecil ayah…” ucapnya sambil mencium pipiku. Dan aku pun mulai kegirangan, sambil menyalami tangannya “terima kasih ayah” *** “mau dibawa sekarang? Besok saja hari ini biarkan dia merayakan ulang tahunnya disini” ucap nenek kepada ayah. “tapi bu, saya takut tidak mendapatkan tiket pesawat untuk besok” “besok kan hari rabu, mana mungkin tidak dapat. Jangan terburu-buru nang, nanti dia terkejut. Ibunya pun belum juga pulang kan?” “baiklah bu, hari ini kita rayakan saja ulang tahunnya. Ini pertama kalinya dia merayakannya, saya t...

izinkan aku menyayangi dia Tuhan

Tuhan, menurutmu apa masih adakah waktu bagiku untuk dia? untuk terus menyayangi dia? Tuhan, menurutmu menyayanginya terlalu dalam itu salah? jika kau beri kesempatan, izinkan aku untuk menyayangi dia sekali lagi Tuhan. Tuhan, kau tau jarak akan menghampiri ku, akankah aku bisa meraihnya kembali? Tuhan, kau paham bukan, bagaimana sulitnya mencari penggantinya? ku mohon, izinkan aku menyayanginya. Tuhan, jika sulit ujianmu untukku bisa kembali bersamanya, aku dengan senang hati menjalankannya. izinkan aku kembali berbahagia dengan dia. takkan ku sia-siakan dia. aku berjanji atas namaMu..." like what? like, i love you write by @ istiqasuwondo

ready or not? I gotta go!!

Negeri Hitler begitulah kira-kira sebutannya. terletak di benua Eropa, memiliki empat musim, iya, sebutkan saja itu negara Jerman. jauh sekali jika di bayangkan, dan berbeda sekali bila di telaah. itu negeri pelajar. memiliki kesempatan untuk belajar disana siapa yang bisa menolak? itu cita-cita terbesar saya ! orang tua saya sudah mengizinkan saya dengan ikhlas untuk menuntut ilmu di negeri yang belum pernah saya sentuh sama sekali itu. bahagia memang sangat menyelimuti, tapi ada hal-hal yang memberatkan saya atau yang bisa di katakan membuat saya ragu untuk melangkah kesana.  apakah sudah siap dengan aturan-aturan disana? apakah sudah mengerti adat-adat disana? apakah persiapan sudah begitu matang untuk menuntut ilmu disana? siapkah dengan cuaca disana?  atau bahkan makanan disana? itulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu membimbangkan hati saya. kadang jika di pikirkan itu bisa menjadi mimpi buruk. begitu banyak pikiran negatif memikirkannya. tapi beruntung, sa...

sedikit tentang putih abu-abu

Pertama dengan putih dan abu-abu  Menyatu dengan paduan serba baru  Melangkah dimusim orientasi minggu  Menanar lucu berdiri memaku.   Musim sekolah yang membosankan  Pelajaran yang mudah memuakkan  Terfikir hanya satu, permainan!  Di balik tabir biru, putih abu-abu menyenangkan!   Sejuk angin menerpa dedauan  Terik matahari menahan langkah senyuman  Berlari-lari di kala waktu senggang  Memutar buku jikalau bosan  Mencari kantin ketika lapar Mereka sebutkan, badung! Melanggar semua tata dan tertib. Mengeluarkan baju, tidak memakai ikat pinggang, bersepatu belang, cabut saat pelajaran, absen setiap saat. Itu, ketika sudah menghitung jari berada di lingkungan putih abu-abu. Saya sebagai salah satu siswi SMA sudah mulai merasakan kejenuhan dalam belajar, jangankan belajar, membuka buku saja sudah muak. Apalagi mendengar tahun sekarang, kelulusan dipersulit dengan berbagai macam jenis soal. Untuk belajar saja, tinggat kejenuhan ...

Dan saat itu aku sadar...."

Langit takkan pernah bisa menjawab isi hati seseorang, baik kau maupun aku. Langit hanya bisa melihat dan memperhatikan. Cinta, tak ada yang bisa mengerti selain diri sendiri dan sejatinya hati itu sendiri. Mengerti atau tidak, ketika jatuh cinta semua terasa bahagia, segalanya bisa berubah dalam seketika. Keakuan alam mutlak yang membuatnya terlihat seperti itu. Aku jatuh cinta. Tak mengerti bagaimana alurnya, yang jelas aku mencintaimu. Aku di butakan oleh hal-hal tentangmu. Kesabaran yang tak biasa ku miliki mendadak muncul melebihi oktaf biasanya. Nalarku tak pernah bergeming rancu. Yang jelas yang kurasa; rindu. Aku tak pernah menyesali telah mencintaimu, sebagaimana perlakuanmu, aku jelas jatuh dan cinta padamu. Kau sebutkan, kau mencintaiku dengan seluruh hatimu, dan aku sadar, itu hanyalah kenanganmu yang mencintaiku; bukan hatimu. Aku tak perlu rasa iba agar kau membalas hatiku, tak masalah bagiku, bersama atau tanpamu aku masih bisa berdiri, berjalan dan bah...