Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

menghabiskan waktu

sudut memoriku mulai menutup pelan semua harapan yang pernah ku gantungkan untukmu. jika berbalik ke hari-hari yang lalu, aku tak pernah bisa membayangkan akan mengalaminya sekali lagi. melarikan diri selalu menjadi jalan yang tepat namun tak pernah bisa memuaskanku. aku melukai banyak hati dalam proses melupakanmu. aku meninggalkan mereka di tengah jalan hanya karena mereka tak cukup buatku merasa tenang. suara mereka ribut membicarakan semua ketidakbisaanku bahkan semua yang bisa ku lakukan dalam beberapa hal. mereka bukan tempat yang tepat untuk melihat sisi terbaikku, karena hampir semua dari mereka menilai aku yang saat ini hanya dari balik ponsel itu. aku tak bisa lihat semua kebaikan mereka karena kau sudah tanamkan perih dalam setiap hembusan nafasku. sekencang-kencangnya aku berlari, sebegitu banyak bekas luka yang kau tinggalkan, kau takkan pernah merasakan betapa sulitnya mengapung disaat kau tak mampu berenang. aku begitu tenggelam ke dasar, hingga lupa bagaimana rasanya sa...

kepada awan

aku lelah menuliskan hal baik tentangmu. hal baik yang selama ini ku patri, rasanya sia-sia. hal baik yang selama ini aku bicarakan pada orang-orang bahwa kau berbeda. akhirnya aku berhenti membantah mereka. aku berhenti komplain terhadap citra buruk yang mereka rasakan terhadapmu. aku tidak bisa lagi membelamu, dan mengatakan kau berbeda. awan, ternyata kau sama saja. tidak ada hal yang menarik darimu selain, perasaanku ini. kau tidak berbeda dengan bajingan dingin di luar sana yang senang menerima perhatian. aku berusaha meyakinkan diriku bahwa apa yang terlihat dan yang ku jalani hampir setahun ini adalah garis perjalanan yang luar biasa, bertemu dengan orang seistimewa kau, berbagi tawa dengan segala lelucon anak-anak mu. tapi, poinnya bukan proses itu. kau memberi tanda titik di akhir percakapan, kau pamit tanpa mengatakan alasannya kenapa, padahal kau masuk setelah ku beri surat izin dengan segenap usaha yang baik. tapi kau mengiris hatiku berkali-kali setelah kepergian ini awan,...

selamat bertambah usia, awan.

104 hari sebelumnya, kau menemaniku sampai larut atau kau memang sengaja untuk minta ditemani. hari itu kau sedang sendirian, nada dering ponselku seperti biasa berbunyi. kau memberikan panggilan video seperti malam-malam lain yang biasa kita habiskan. kau dengan kaos putih favorit mu, celana pendek hitam itu, aku merapikan kerudung lalu kita saling menertawakan. kau makan sebungkus poki-poki dalam sekali lahap, kau garuk kepalamu dan aku menertawakan kebodohan itu. malam itu kau lanjut bercerita tentang perjalanan dinas yang singkat. menceritakan hal-hal baru yang belum pernah kau rasakan, seperti mulai menyukai udon misalnya. lagi-lagi kita menertawakan hal itu. bercerita seolah minta untuk didengarkan. dan aku mendengarkan sambil melihat senyum tipis itu hanya dari layar ponsel. mendengarkanmu berceloteh, melihatmu menonton film dari jauh, mendengarkan rekomendasi lagu favoritmu, yang selalu kau putar dari ponselmu yang satu lagi, atau yang lebih seringnya aku menyukai caramu menjel...