Langsung ke konten utama

Postingan

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...
Postingan terbaru

Enigma; sebuah sikap yang tidak jelas

  Sebenarnya, banyak hal yang tidak ingin aku rasakan ketika memilih mengenalnya lebih baik, untuk saat ini. Namun semua mengalir tak terkendali. Dunia seolah menarikku pada alunan kisah yang dirangkai isi kepalaku sendiri. Mengenai kebaikannya, wajah tampannya, kepribadiaannya, seolah-olah aku dihipnotis waktu. Tapi, aku selalu menyangkal bahwa ini adalah kebenaran yang sudah berulang kali ku temukan pada dirinya. Sampai berandai-andai bahwa dia sangat layak untuk ku jadikan harapan di masa depanku. Setelah berkali-kali hatiku patah, tak terbendung percaya, dan banyak koleksi ketakukan lain terhadap makhluk yang bernama laki-laki, seseorang ini mengembalikan harapan itu. Sesorang ini kembali membuatku merajut harapan di kepala, bahwa masih ada yang layak, masih banyak yang baik, dan masih ada yang bisa diandalkan. Pada setiap percakapan kami yang ku rekam di kepalaku, setiap nasihat yang ku dengar, setiap perlakuan yang ku nilai diam-diam menyimpulkan banyak kebaikan dalam hatik...

berbicaralah dengan lantang

setiap orang pernah memiliki cinta yang disembunyikan dalam hatinya, walaupun sempat diuji terang-terangan kepada yang bersangkutan. terlalu kompleksnya pikiran satu manusia dengan manusia lain, sehingga selalu menumbuhkan banyak pertanyaan yang membuat kepala perempuan seperti aku ini ingin meledak. apakah berdosa, memiliki sebuah perasaan lalu menyimpannya seolah perasaan itu sudah tidak ada. namun sewaktu-waktu mudah saja muncul lagi ke permukaan? bukankah artinya, perasaan itu selama ini sengaja tidak dihilangkan. dengan harapan, pertemuan selanjutnya akan merubah kesepakatan di awal tadi. aku tidak bisa menjadi teman dari seorang yang kadang saat berbicara dengannya, diam-diam hatiku berdebar. aku tidak bisa menenggelamkan keinginanku untuk berjalan pada jalur yang sudah ditetapkan. bagaimana, jika terus-terusan aku akan semakin menginginkannya?  namun pada kenyataannya, aku memilih untuk mencintai yang lain. aku membiarkannya menilai sebanyak yang dia mau tentang ucapanku yan...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...

cinta dipenghujung dua puluh

hari ini kotaku dingin. semilir angin menembus telingaku. aku termenung di depan jendela. merenungkan kebisingan yang bertebaran dalam kepalaku akhir-akhir ini. mempertanyakan mengapa manusia bisa tiba-tiba berhenti merasakan apapun. mengapa manusia tiba-tiba di usianya yang matang, malah terpeleset jauh dari prediksinya. seperti semua yang indah dalam diriku mati seketika. aku membuka jendela kamarku dan merasakan angin sekali lagi. betapa bebasnya mereka bergerak, menembus semua kulit manusia. kenapa kebebasannya tidak bisa ku raih. kenapa rantai ini mengikat diriku pada sumur yang begitu gelap. aku menghela nafas berkali-kali, menahan diri untuk tidak cengeng. udara dingin ini menarikku pada banyak memori indah yang hanya ada dalam kepalaku. seketika aku tertawa, terharu, seketika lagi aku menangis dan menyesali. tapi, apakah pantas manusia memiliki rasa sesal, sedangkan pilihan dari awal adalah milik mereka?  satu sisi kepalaku melarang untuk merasa menyesal dengan semua keputu...

kau biarkan aku berperang sendirian

tulisan ini terbentuk dari potongan-potongan perasaan yang tak bisa ku utarakan. saat itu menilai diriku dan kamu hanyalah bentuk ketidakdewasaan. namun setelah ku telusuri segala sisi dari hidupku, melihat dari sisi terluar perasaan kita, lingkungan baru membuat cara pandangku semakin berbeda. patutlah aku beranjak lebih cepat. depalan tahun lalu, sebelum kita memutuskan untuk saling memaafkan lagi. kita punya misi yang baik untuk dapat ku percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya. kau terjebak dengan pesona masa lalumu ini, aku terjebak dengan kata cinta yang selalu kau utarakan berkali-kali. sekejap kita bagaikan simpul tali yang terikat dengan erat. hari-hariku bersamamu adalah waktu dimana aku berusaha menyesuaikan diri, meninggalkan ego di kantong belakang, agar janji tersebut dapat terlaksana. ku beri kau seluruh dunia, agar semangatmu tak lagi hilang. ku beri kau seluruh cinta agar sepimu tak lagi datang. ku beri kau waktu yang berlimpah, agar kau tak perlu menanggung rindu. sa...

rasanya mengintip masa depan

aku sejenak larut dalam pikiranku, melihat dunia ternyata berbeda dari yang ada di kepala. seolah menampar kedewasaanku untuk tumbuh terus menerus, mengasah insting pertahanan diri entah dari siapa. mendapat banyak hal, sama halnya dengan bersiap menerima kehilangan. ada banyak jenis kehilangan yang kita temui saat menuju dewasa. entah itu dari keluarga, teman, maupun pasangan. entah apa yang menjadikan hidup menjadi berliku, tapi pada kenyataannya hidup memanglah begitu. semua hal akan silih berganti bertukar dari ketidaktahuan menjadi jera dan pembelajaran. saat ku putuskan keluar dari sangkar, aku menerima banyak pesan untuk berhati-hati dalam menerima apapun. hal yang diberi dunia luar, tidak akan sama dengan apa yang diberi dari dalam. bagaimana rasanya mengintip masa depan?  ternyata tidak ada yang menyenangkan. masa depan yang menyenangkan hanya ada di dalam kepala kita saja. semua skenario terbentuk karena hal indah yang diberikan oleh buku-buku dan film-film selama ini. ra...