Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

setelah aku sembilan belas tahun

seketika aku sadar, bukan mereka yang menghilang tapi akulah yang melarikan diri. semua pertemuan adalah sebuah tanda perpisahan. begitulah, selama ini aku menerjemahkan sebuah pertemanan. kita akan begitu dekat dan sangat dekat pada masanya, dan akan saling tak bersentuhan saat waktunya tiba. aku pernah mengalami perpisahan hebat. apa yang ada dalam diriku, terpaksa ku tinggalkan semua. apapun, termasuk diriku yang lama. kata orang, jika ingin menjadi lebih baik, kau harus berani melepaskan hal-hal yang dapat menahanmu. maka, saat itu aku meninggalkan semua hal dalam kotak yang berisi kenangan. aku meninggalkan mereka, saat mereka berat melepas. setiap hari, aku dikirimi rindu yang bertubi-tubi. setiap hari, aku ditanyai habis-habisan. setiap hari, mereka ada membantuku melupakan kesendirian. aku bersyukur, mereka memaklumi saat aku harus berusaha kuat. saat itu, aku masih delapan belas tahun, cukup rentan untuk lepas di dunia yang sibuk. cukup berani memang, hidup sendir...

karena dia adalah orangnya

aku sudah berjalan menempuh panas yang garang sampai merasakan suntikan dingin yang membekukan. aku sudah terjatuh dan berdiri dengan kaki yang terluka. sebelumnya aku juga sudah berhadapan dengan segala misteri serta kesialan yang kerap mengikuti. aku sudah berhenti dan menyerah untuk tidak lagi membuka lubang yang bernama, cinta. tapi, siapa sangka Tuhan adalah zat yang jauh lebih kuat dari segala keinginan. di saat aku tak lagi ingin berhubungan dengan segala hal tentangnya, di saat segala kekuatan sudah ku kerahkan untuk menghilang darinya. Tuhan membalikkan segala cinta yang sempat tertinggal. Ia mengangkat semua ego dalam isi kepalaku. hingga aku menyerah dan pasrah saat rindu menggerogoti perasaanku, akan dia. ternyata benar, tak selamanya aku mampu membenci dan menolak untuk lupa akan perasaan yang sudah terlanjur besar ku bentuk untuknya. perasaan yang selama itu ku paksa untuk mati demi sebuah harga diri. perasaan yang dibenamkan demi sebuah nama baik. ya, perasaan y...

engkau dari balik mataku

izinkan hari ini aku pulang ke matamu. untuk sejenak terlelap dan menenangkan perasaan. dari segala gaduh yang bergemuruh dalam terik hari-hariku. sebelumnya, aku ingin bersandar lebih lama dan mendekap mencari hangat, karena baru-baru ini di luar sana badai menggoyahkan isi percayaku. ajak aku berkelana lebih jauh lagi, mengenali isi bumi dan membaca setiap potong hatimu. kadang, aku ragu ingin menumpahkan rindu. takut, engkau tak kuat mengangkut beban berat yang menyiksa malam-malamku kala hujan. aku dirundung pilu saat malam, karena waktu terbaik untuk putus asa adalah malam hari. apakah karena gelap yang menghilangkanmu ataukah terang yang tak ingin pulang ke pangkuanku? yang jelas, aku tersedu. jangan beri aku jeda terlalu lama. itu semua ternyata menyiksa. bak kata orang, perempuan bicara tak sesuai isi hatinya. meski ia berusaha menjaga semampunya. perihal waktu yang kita punya, gunakanlah selagi bisa. karena aku tak banyak mampu merekam segalanya. mencintaimu itu seperti g...

menunggu terik

tulisan ini hanya bagian lain dari imajinasi seorang perempuan yang sedang bergelut dengan mendung. harinya menggelap sudah lama, katanya mentarinya sudah meredup. ia tak menemukan terang, setelah hatinya diamuk badai. katanya, setelah badai kita akan melihat secercah pelangi atau langit biru. tapi, ternyata penyair itu pendusta. duniaku tetap saja gelap. tetap saja mendung. bahkan saat aku berjalanpun tak ada bayang yang bersedia mengikuti. setelah semua ini terjadi, apakah aku harus menatap langit dan berharap melihat keindahan lagi? hari-hari memang menarik perhatian untuk bergembira. setiap ku temukan terik dimatanya, aku selalu menghindar. alasan lain untuk pergi, untuk apa aku bergeming menikmati hangatnya yang kapan saja mampu membakar isi hatiku? sekejap, dia memang mentari yang meghilang. mentari yang selalu menyinari segenap sisi kehidupanku. namun, ungkapan ini, tak cocok lagi kunobatkan untuk pria yang menginginkan mendung menaungi sudut mataku. ia menciptakan huja...

sebuah hubungan

perlulah kiranya kita berhenti sejenak dengan sebuah perasaan. mengenai sedang mencintai siapa atau ingin dicintai oleh siapa. terbesit dalam benakku mengenai sebuah hubungan yang diikat oleh banyak kenangan yang terbuang. hal ini, membuat hubungan itu hanyalah sebuah hubungan dengan kenangan. sebatas aku pernah mencintainya di masa lampau dan ia pernah mencintaiku dengan sabar. namun, dalam kenyataan cinta bukanlah semudah itu. ternyata bagiku tak cukup menjadikan kenangan sebagai landasan utama aku mempertahankan. baik kiranya rasa sayang yang terlanjur berlebih ini, tidak untuk disimpan terlalu lama. semua orang berhak mencintai terlalu dalam, tapi tidak untuk melukai dirinya sendiri. sebuah hubungan yang kerap dijalani penuh api, tak lagi baik untuk dijalani. begitulah kata pepatah. bukankah aku dan dia sedang sama-sama belajar dewasa? saling meninggalkan bukanlah berarti, kita harus berhenti mencintai. hanya saja, melepaskan berarti kita tau batas apa yang membuat kita ha...

Hari itu, perlu di ingat setidaknya selamanya

hari itu, seorang perempuan tengah berdiri diantara badai ketidak tahuan mengenai dirinya. hari itu, ia menemukan sosok yang mampu menerima kebimbangan hatinya lalu mengubah segalanya menjadi rencana-rencana indah dalam imajinasi seorang perempuan. hari itu, akan selalu diingatnya. mengenal seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. hidup yang mungkin akan terasa hambar tanpa kehadirannya. apa yang terjadi jika waktu itu mereka tak pernah dipertemukan? mungkin perempuan itu tak pernah belajar melepaskan sebuah perasaan yang terpendam. mungkin perempuan itu takkan pernah menyimpan sebuah nama dalam hatinya dengan rapat. mungkin perempuan itu juga tidak akan pernah menyelam ke dasar yang disebut orang-orang penantian panjang. hari itu, seorang perempuan merasa hatinya benar-benar berdebar kepada sesosok pria belia dan memilih menyimpan perasaannya saja. ia benar-benar tahu, jika semua dunia mendengar pria itu akan lari dan menghilang. demi tak kehilangan, perempuan itu memilih pe...

tidak diberi judul.

dalam hening yang menyekap mata, aku menanti dan menanti kabarmu. di ujung telfon selalu ku ucapkan kata rindu, namun tiada balas yang tersangkut di telingaku. dering telfon tak lagi mendominasi, pesan singkat pun mulai pudar. inikah, tanda hati ikut mundur? bagaimana bisa kita berjanji menuai rasa bersama dalam alunan hujan dan menghentikan waktu seolah hanya kita yang berjalan. benar, waktu begitu egois memisahkan isi kepalamu dari rindu. bukan karena mau tapi kita percaya waktu memang begitu.  singkat memori yang tersusun bagai jutaan puzzle. aku memilah satu per satu memori mana yang sedang kita lupakan. sebelumnya dalam puzzle pertama, aku menemukan kita pada usia yang belia. saling menemukan rasa dalam malu-malu yang sering melanda. sudah delapan tahun berlalu, sudah banyak pula lika dan liku yang menggaris jalan-jalan waktu kita. sudah banyak hati-hati yang terluka karena perasaan kita yang ku pikir selalu meruncing kedalam. sudah begitu banyak lontaran kalimat indah ter...

belajarlah dari Yusuf

bulan malam ini tenggelam di matamu. hati juga ikut menggopoh rindu yang kian berat. seulas senyummu bisa menggoyahkan iman manusia. karena senyummu bagai madu yang baru diambil dari sarangnya, manis sekali. aku tidak kuat bersembunyi jutaan manusia ternyata rela membawa rembulan di tangannya. mengalungkan emas dengan dada yang di busungkan. mereka menggoda dengan nafsu terliarnya. malam itu saat pintu tak terkunci kau memilih melarikan diri selang waktu yang bertebaran sepi langkah kakimu yang tegas terdengar dari balik rumah reotku kau perlihatkan sepasang cincin emas dan meminangku. katamu: jika waktu itu aku masih tinggal di sisimu. Tuhanku tidak akan mempercayakanmu padaku. sungguh rasa dalam dada yang Ia panaskan tak mampu membakar rasa hormatku. aku dalam ketidaksempurnaan masih mencintaimu walau tanpa rembulan namun ku junjung mentari di atas puncak kepala. agar kelak kita tak kehilangan cahaya untuk melengkapi dunia. with love, itijonas 12/7/17 01:22

mengenal Lukman.

Dari desir angin yang kacau juga suara bising dari mulut raksasa kenalkan ia Lukman lelaki hebat nan beriman sebab langkahnya selalu penuh cinta dan nafasnya disertai oleh hikmah kenalkan ia Lukman berkulit kuning langsat serta tinggi menjulang yang suka menebar kebajikan diantara topeng-topeng kemunafikan ia suka tersenyum, katanya ia suka beribadah ia selalu suka menjadi tangan atas agar dapat jadi contoh sampai tua kenalkan ia Lukman, pada suatu ketika ia ajarkan seorang anak untuk patuh pada keyakinannya katanya alangkah indah dunia jika ia bersama Tuhannya dia Lukman, sosok lelaki tauladan yang bermimpi menebar kebajikan sepanjang hayat. dia Lukman, Imam impian banyak wanita. with love, itijonas 9/7/17 20:12

teruntuk Adam

jadi Adam, dunia ini sempit. hanya seluas ruas jarimu yang membengkak. atau selebar perutmu yang melunak. di dunia ini kau turun, sebagai pengingat khilafku, khilafnya dan khilaf mereka . kau mengajarkanku untuk duduk bersandar paling bawah agar bisa mendengar dengan seksama tentang semua sabda alam rekaan manusia. teruntukmu wahai Adam, yang membakar pahitku jadi abu berputar, yang memercikkan api pada asramaku yang hilang, yang menuai bibit asa dengan serabut kelapa, yang sekiranya mampu putus dalam sekejap. oh Adam, aku begitu gila. setelah aku menyadari duniamu adalah dunia yang ku impikan. dan Adam, jika tak bisa ku sentuh, walau hanya sekejap, aku masih menginginkan kekosongan dunia. meski harus terlebih dahulu terbuang. teruntuk Adam, cintaku padamu akan terus berakar menembus perut dunia. with love, itijonas 6/7/17 00:11

menyayangi saja (tidak cukup)

dalam banyaknya ruas waktu, kau memilih menjadi apa?  atau apa yang akan kau lakukan untuk mengisi ruasmu yang kosong? *** aku menempatkan perasaan terlalu dalam. menempatkan kepedulian terlalu tinggi dan mengharapkan sesuatu terlalu ya terlalu besar pada seseorang. aku mengerti, menempatkan hal seperti itu pada seseorang yang belum tentu akan melakukannya untukmu adalah salah. bukan salahnya tidak peduli atau menempatkanmu pada posisi kesekian. salahmulah yang menempatkannya paling depan. karena pada akhirnya kau akan kecewa pada harapan yang kau bangun sendiri. pada akhirnyapun kau akan terdiam mendengar ia berusaha membenarkan posisinya tanpa berfikir dulu apa yang telah dilakukannya padamu. ingat! dia membenarkan posisinya. dan saat ia selesai kau akan merasa penyebab pertengkaran adalah dirimu. ya, kamu yang terlalu berharap padanya. saat itu aku berfikir cinta memang dapat mengalahkan segalanya. sisi berlebihan dan segala macamnya dapat muncul. yang kata orang ja...

Narasi bisu, mengenai mu dan perasaanku

narasi ini dituliskan untuk dia yang bermata coklat muda persis seperti cat kuku kesukaanku, yang memiliki belahan pada dagunya. rambut yang tipis dan ikal, gigi depan yang miring namun masih menawan. mungkin, tulisan ini terlambat diterbitkan. mungkin, perasaan juga terlambat menyampaikan. memang bahagia, mengenalnya dengan baik, dengan hangat. bercengkrama tanpa batas, tanpa jeda. hingga aku tau bagaimana itu sesal. waktu itu, aku mengenalnya dengan tak sengaja. dengan wujudnya ada, aku memotret setiap bagian dari dirinya. aku sudah berdebar sejak puisiku dipilih olehnya. setelah itu, aku mulai mendengar setiap kata-katanya. aku sudah merasa jatuh, saat mendengar puisinya. ketika itu, ia bacakan 'layang-layang'. aku sudah mencoba, menggambarkan perasaan melalui bangau origami. sudah ku selipkan pada sepucuk surat merah muda yang ku terakan namanya. aku sudah mencoba, mendekatinya dengan tulisan. mencoba memahaminya dengan buku-buku kesukaannya. jika jatuh padanya adalah...

aku baik-baik saja

malam, dingin ditambah lagi dengan lagu-lagu pilihan, pastilah jadi waktu untuk ku ataupun orang lain mulai berdrama dalam kepalanya. menggali semua ketidakmungkinan menjadi wujud utuh nan mustahil diterima logika. mungkin, untuk yang patah hati, ia membayangkan hatinya utuh kembali. untuk yang kecewa, mungkin ia membayangkan mampu memaafkan. untuk yang rindu, secepatnya terbayar tuntas. atau untuk yang telah bersama, berangan-angan semua akan baik-baik saja. begitu banyak pimikiran yang tidak bisa tersampaikan menjadikan air mata sebagai jawaban. mungkin terlalu klise jika mengatakan bahwa "baik-baik saja" pada semua orang maupun diri sendiri. tapi, selain jadi tameng, "baik-baik saja" mampu membuat hati kerap tenang. entahlah, mungkin ini analogi yang bisa ku tuliskan hari ini.  selain itu, "baik-baik saja" menurutku adalah kalimat penipu yang paling ampuh. meski sesungguhnya, kita tahu bagaimana mimik yang terpancar dari muka mereka. baiklah, s...