Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

engkau dari balik mataku

izinkan hari ini aku pulang ke matamu. untuk sejenak terlelap dan menenangkan perasaan. dari segala gaduh yang bergemuruh dalam terik hari-hariku. sebelumnya, aku ingin bersandar lebih lama dan mendekap mencari hangat, karena baru-baru ini di luar sana badai menggoyahkan isi percayaku. ajak aku berkelana lebih jauh lagi, mengenali isi bumi dan membaca setiap potong hatimu. kadang, aku ragu ingin menumpahkan rindu. takut, engkau tak kuat mengangkut beban berat yang menyiksa malam-malamku kala hujan. aku dirundung pilu saat malam, karena waktu terbaik untuk putus asa adalah malam hari. apakah karena gelap yang menghilangkanmu ataukah terang yang tak ingin pulang ke pangkuanku? yang jelas, aku tersedu. jangan beri aku jeda terlalu lama. itu semua ternyata menyiksa. bak kata orang, perempuan bicara tak sesuai isi hatinya. meski ia berusaha menjaga semampunya. perihal waktu yang kita punya, gunakanlah selagi bisa. karena aku tak banyak mampu merekam segalanya. mencintaimu itu seperti g...

menunggu terik

tulisan ini hanya bagian lain dari imajinasi seorang perempuan yang sedang bergelut dengan mendung. harinya menggelap sudah lama, katanya mentarinya sudah meredup. ia tak menemukan terang, setelah hatinya diamuk badai. katanya, setelah badai kita akan melihat secercah pelangi atau langit biru. tapi, ternyata penyair itu pendusta. duniaku tetap saja gelap. tetap saja mendung. bahkan saat aku berjalanpun tak ada bayang yang bersedia mengikuti. setelah semua ini terjadi, apakah aku harus menatap langit dan berharap melihat keindahan lagi? hari-hari memang menarik perhatian untuk bergembira. setiap ku temukan terik dimatanya, aku selalu menghindar. alasan lain untuk pergi, untuk apa aku bergeming menikmati hangatnya yang kapan saja mampu membakar isi hatiku? sekejap, dia memang mentari yang meghilang. mentari yang selalu menyinari segenap sisi kehidupanku. namun, ungkapan ini, tak cocok lagi kunobatkan untuk pria yang menginginkan mendung menaungi sudut mataku. ia menciptakan huja...