Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

yang mekar hanya hatiku

aku selalu berfikir, aku akan baik-baik saja ketika mengingatmu kembali, nyatanya aku masih tersiksa. aku tak berniat melupakan apapun, karena sejatinya kenangan hanya akan tinggal di sana, tanpa bisa ku kembalikan. kenangan itu akan tetap berada di linimasa ku, takkan bisa terhapus. aku sudah maju dua ribu langkah, tanpa kamu, tanpa menghubungimu, tanpa tau bagaimana kabarmu. kau sudah menghilang begitu lama, walaupun rasanya masih sama. kau tinggalkan jejak yang begitu pekat, sehingga sulit ku timpa. tak ada yang benar-benar bersedia membantuku untuk berdiri tegak, karena katanya aku harus bisa sendirian. terbukti, sampai hari ini aku tak ditemani siapapun menghadapi masa depan yang begitu gelap seperti yang kita bicarakan sebelas tahun lalu. kau tidak ada di sana menyaksikan aku melewati itu, apalagi orang lain. walaupun kau sudah memprediksikan aku mampu melawatinya, tapi aku berusaha dengan tangan gemetar. saat itu, tak ada tangan yang bisa ku pengang. tak ada bahu tempat aku bisa...

berdialog

malam ini seperti malam-malam kemarin. sulit sekali menutup mata. sulit sekali menyelam dalam selimut yang hangat. lagi-lagi kepalaku mengajak berdialog. untuk kesekian kalinya, menelaah dunia, menelusuri hati dan banyak lagi. tapi, sebenarnya akhir-akhir ini dunia ku mulai membaik. walaupun, masih banyak sana-sini yang berantakan, aku masih bisa pulas beberapa kali. tapi ada hal yang semakin mengusik ku beberapa bulan terakhir. iya, apalagi kalau bukan perihal hati.  untuk gadis yang hampir berada di fase melewati seperempat abad, mengapa perjalanan menuju rasa nyaman terhadap seseorang sulit sekali diraih. sebenarnya, tempat nyaman itu sudah ada di depan mata, namun kenapa sulit sekali melabuhkan segala keluh di pundaknya? kenapa banyak sekali pertimbangan yang harus ku jalani untuk bisa bersandar dalam pelukannya? aku seperti dihambat banyak tiang. aku seperti dilarang untuk menggenggam tangannya lebih lama. aku seperti dipukul kenyataan. padahal, aku selalu berusaha untuk menge...

epilog: dilupakan dengan mudah

seberapa banyak namanya kau sebut setiap hari? sudah berapa kali kau mengingat segala hal tentangnya? simpanlah semuanya dalam kantong mu, kau telah dilupakan. mengingat kenyataan bahwa kamu bukanlah bunga yang ingin dia simpan dalam kamarnya, sudah cukup untuk berhenti sebelum terlambat. kamu bukanlah apa-apa dimatanya selain, ilalang kecil yang tumbuh dalam penglihatannya, sangat kecil hingga kau sangat mudah dilewati. kenapa belum puas dengan segala bukti yang terlihat begitu nyata? kenapa harus memaksakan diri terlalu jauh, jika Tuhan mampu membalik-balikkan keinginannya. kenapa tidak kamu terima saja, kau telah dilupakan. kau ingat segala kebaikannya, leluconnya, isi kepalanya, kepribadiannya, lagu kesukaannya, warna yang dia pakai setiap hari, tapi tak ada satu hal darimu yang diingatnya. coba kau tanya padanya, apa lagu kesukaanmu, apa warna kegemaranmu, apa isi kepalamu hari ini. tidak, dia takkan pernah tau. kehadiranmu adalah ruang kosong yang ingin dia tutup. perhatikanlah, ...