Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

best friends like a sister

'kita terbiasa berbagi kisah. mulai dari terkecil hingga besar. kita seperti kembar yang berbeda. kita melalui setengah hidup bersama. bagaimana bisa sebuah kenangan itu PUDAR? TIDAK AKAN' 1998~ mungkin tepatnya kita tumbuh saling mengenal. berbagi banyak hal kecil yang dilakukan 4 bocah ingusan yang baru mulai belajar mengenal dunia luar. tak perlu mengenalkan nama masing-masing entah bagaimana kejadian mulanya, kita sudah terpatri untuk menghabiskan banyak hari kosong dimasa-masa transisi itu. ataukah dikarenakan pekerjaan orang tua kita yang sama? entahlah mungkin. BLOK F dan G ASRAMA POLISI ALAI 1 gadis lahir lebih awal 31 Agustus 1994 Izdihar Sausan, 2 gadis lagi lari berurutan, 13 Agustus 1995 Dwi Hariana Pane, kemudian 26 Agustus 1995 Annisa Istiqa Suwondo, dan 1 gadis terakhir hadir mengisi tempatnya Yuni Minzuriatina 24 Juni 1996. berempat mengarungi masa kecil yang begitu indah. tak terlupakan itu pasti. terlalu banyak hal unik dalam setiap detik yang pernah k...

Tapi katamu kita TEMAN?

aku meragui. entah kenapa aku meragui ucapanmu. bukan aku tidak percaya, bukankah kau mengatakan tak menyimpan rasa apapun terhadapku? hingga kini aku bertanya-tanya. sebenarnya ingin bertanya langsung, tapi lagi-lagi ragu mendahului opiniku. aku benar-benar ingin rasional dengan keadaan ini. menjadi positif mungkin lebih baik bukan? tapi, aku belum bisa bermain dengan kenyataan. kau tau, aku menyimpan rasa, tak besar memang. tak juga berharap. hanya sekedar cambukan untuk emosi hatiku, tak mengapa. tapi haruskah di akhir kita seperti ini? bahkan memulaipun belum. tak mengucapkan sepatah kata apapun? aku memikirkan. apakah ini benar seperti ucapanmu? kau terlihat sangat berani saat di dunia maya, tapi dengan nyata kau? sama sekali tak terlihat. bukan. bukan maksudku mengucilkanmu. akupun begitu, tapi setidaknya kau mengerti dengan konsekuensi yang kau ucapkan beberapa waktu dulu, tapi katamu kita teman kan? berteman tidak lebih. tidak ada yang salah? lalu sekarang ada apa? kau lup...

waktu hujan turun

'kita meyakini satu hal, cinta kita seperti; waktu hujan turun'   waktu itu kita selalu menyebutkan 'pertemuan kita selalu bersama hujan'. entah percaya ataupun tidak, aku juga meyakini itu. tak pernah terkecuali sedikitpun setiap pertemuan yang ada, kau dan aku selalu bersama hujan. tidak mengada-ada, aku memperhatikan, aku menghitung setiap pertemuan dan aku menandakan semua kegiatan, kita di temani hujan. aku suka bermain hujan, sama halnya denganmu. aku mencintai hujan, jauh sebelum pertemuan kita dulu. aku merindukan tetesan hujan setiap harinya, sama seperti setiap tetes hemoglobin ku merinduimu.  waktu hujan turun, kakiku bergegas menuju teras rumah, duduk berlama-lama menikmati aroma tanah basah, percikan menggelitik dari tetesan hujan membuatku memutar kenangan, saat bertahun-tahun yang lalu kita duduk menikmati hujan di temani sebuah ular tangga dan coklat panas di teras yang sama, menadahkan tangan serta bercanda di antara deru hujan yang memburu. ...

sehari kemarin : 'Kedutaan Negara Federasi Jerman'

kali ini gue mau share deh tentang kejadian yang gue alami tanggal 5 juni kemaren. ini demi melanjutkan mimpi-mimpi yang masih tergantung indah di otak gue. ini ceritanya, gue -insyaallah- bakalan ngelanjutin study ke negara Jerman. itu memang kesempatan yang nggak pernah gue bayangin selama ini. gue yang belum pernah mengenal bahasa ataupun kultur dari negara itu dengan pasti, tapi memutuskan untuk menginjakkan kaki kesana, mangadu nasib dan merubah kepribadian mungkin lebih tepatnya. setahun gue mempelajari banyak hal tentang negara Jerman. banyak yang belum gue mengerti, tapi gue nggak pernah nyerah buat cari tau segala hal yang menyangkut tentang sistem perkuliahan, cara belajar, jenis-jenis universitas, tatacara bebicara, dan segala hal lainnya. gue sempat ragu, negara ini, terlalu menjunjung tinggi kedisiplinan. waktu adalah hal yang paling berharga. begitulah kata mereka dilanjutkan, mungkin pas ditahun gue kena apes lagi, sistem perkuliahan di Jerman mengalami perubahan, b...

aku lelah

Pagi ini aku terbangun, alunan musik dari semalam masih terdengar sama. Ku ambil Handphone ku yang terletak tepat di samping bantal. Sejenak ku pandangi judul lagu tersebut, lirik dengan penuh emosi kerinduan. Aku mengerti itu hanya sebuah lirik lagu, tapi setidaknya pada setiap liriknya mengandung kesamaan dengan perwakilan hatiku saat ini. Aku kembali berbaring sejenak, merasakan ruang ini seperti berputar terlalu kencang. Dengan paksaan aku berdiri, bercermin, kulihat kantung mata yang terlihat begitu jelas bahkan lingkaran panda tercipta begitu pekat. Aku melihat mata ini begitu lelah. Bagaimana tidak, seminggu penuh aku hanya tidur kurang lebih dua jam, makan seadanya itu pun tidak dengan nasi, aku merasa aku tidak berada di tempat ku lagi. Tidak sama sekali Aku melihat tiga foto lelaki kecil tergantung di dinding kamar ku, tiga foto yang di ambil di tahun yang berbeda. Aku memandanginya sekali lagi, menyentuh ujung-ujung foto itu, terlalu lama aku berkutat memandanginya, ...

kau ada di sebelah kiri atas lengan bajuku

waktu itu sore, di lapangan hijau yang penuh dengan siswa yang tengah berbahagia, di tanggal yang seharusnya istimewa, semuanya tertawa bahagia. dan tepat sekali, itu pada pukul 17.12 di tanggal bahkan di jam yang bertepatan sama pula, aku memberanikan diri memintamu untuk menuliskan namamu di salah satu sudut baju putihku. aku meminta hanya namamu. tapi kau dengan penuh senyum manis itu memintaku terlebih dahulu untuk memberikan tanda tangan pada bajumu yang sudah di penuhi oleh coretan sahabat-sahabatmu. kau memberiku spidol hitam yang sudah hampir tak lagi berwarna. lama ku mencari ruang kosong yang tersedia, aku menemukan, sisi kanan paling bawah tepat di dekat buah kancing terakhir di bajumu. aku menuliskan tanda tangan sederhana ku, dan saat itu aku tanpa ragu menuliskan nama samaran kita dulu. tak perlu ku sebutkan apa itu, hanya 4 huruf yang kita kreasikan saat kita masih menjalin asmara. aku tersenyum, dan meminta izin untuk menulis nama itu, kau memperbolehkan. sungguh manis...