Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

sebelum mu

sebelum mu, hatiku telah patah. sebelum mu, hatiku sudah direbut bertahun-tahun dari diriku sendiri. sebelum mu, melihat ke arah lainpun tak punya nyali. sebelum mu, aku telah membebaskan diriku dari jerat rasa. tak ku lihat lagi bagaimana rasanya mencintai ataupun dicintai. sebelum mu, pria adalah hal pertama yang harus ku hindari dan cinta hanya mimpi buruk yang membuat tidurku tidak pernah nyenyak. cinta hanya pilihan terakhir yang ingin ku lakukan dalam hidup. sebelum mu, aku tak pernah berhenti menangis. aku selalu sesak nafas setiap kali hujan mulai turun. aku seperti barang rusak yang tersimpan dalam gudang. sebelum mu, aku tak pernah keluar dari selimutku. menahun, aku hanya menatap langit-langit kamarku. rasanya, menyedihkan. sebelum mu, aku lupa bagaimana caranya tersenyum. aku lupa caranya berinteraksi dengan suara-suara berat. aku memulihkan diriku dengan sedikit tenaga yang tersisa. tak ada yang membantuku untuk pulih dari patah hati. semua memaksaku untuk menjadi kuat. s...

Semua itu, pilihan kita mengatakannya atau tidak

Rasanya ketika kita mampu mengungkapkan isi hati kepada orang yang memberi debar akan sangat menyenangkan. perihal diterima atau tidak adalah urusan perasaan masing-masing. kita harus terima segala konsekuensi, yang terpenting adalah mengatakannya. tapi, seberapa banyak dari manusia yang memberanikan diri untuk mengatakannya dengan lantang tanpa berfikir matang? kebanyakan kita mundur karena belum sempat mengenal pribadi orang lebih dalam, dan terlalu cepat mengambil kesimpulan untuk pulang. Tapi bagiku, setiap kejadian yang terjadi tidak akan terulang lagi. kita tidak akan bisa mengembalikan waktu atau mengembalikan kesempatan. aku pernah memutuskan untuk berdiam diri, menunggu orang itu datang. namun, bertahun-tahun sudah ku tunggu, ia tak kunjung datang juga. hingga pada akhirnya, dia menemukan tempat baru, hati baru dan menggantikan kenangan yang sudah ku bangun dalam kepalanya. aku tergantikan begitu saja, tanpa sempat mengatakan apa yang ingin ku katakan. aku melewatkan satu kese...

waktu terberat

sudah saatnya bangkit dan berhenti sebentar. perjalanan yang masih panjang membuat tubuh lelah. aku harus berhenti, mengistirahatkan diri dari keributan, memberi jeda pada setiap ucapan. beranjak dewasa ternyata melelahkan. isi kepala seakan tumpah akan kekhawatiran masa depan, dada penuh sesak karena konflik silih berganti menghantam pertahanan diri yang sebenarnya sudah tak sanggup lagi. wajah memang belum mengerut, tapi jiwa seseorang siapa yang tau apakah masih hidup atau sudah mulai layu pelan-pelan. deru motor sepanjang jalan memekakkan telinga, aku bersembunyi di balik kelam yang ku semat sedikit cahaya agar tak sepi. tapi, ya sepi juga.  aku terus berjalan menyusuri waktu, mencari diriku yang hilang ditelan waktu. aku berlari kesana-kemari memastikan bahwa harapan akan selalu muncul di saat-saat terburuk. ku cari celah untuk menjadi lebih kuat. kata mereka aku tak pernah gentar, kata mereka aku kuat. begitukah? tapi mengapa, rapuh selalu jadi alat yang merusak diriku. rasan...