Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

belajar ekspektasi

"bulan hari ini terang, ya" sahutku sambil menatap matanya yang hangat. "iya, cantik. seperti kamu malam ini." jawabannya sambil mengusap kepalaku pelan. aku mengembalikan pandanganku ke atas sambil sesekali melirik ke arahnya.  "Noel, kamu tau gak, sejak aku ketemu kamu, hidupku jadi penuh warna. aku jadi lebih banyak ketawanya. tingkah kamu kadang buat aku ngerasa, bersyukur banget udah dipertemukan sama kamu." ku coba utarakan lagi isi hatiku, kali ini sambil menggenggam tangannya.  "tapi Noel, pundakku sebenarnya sangat berat. walaupun aku tidak pernah menceritakan apapun padamu, tapi aku selalu merasa ringan ketika kita saling berbicara dan tertawa. aku seperti berada dalam dimensi yang berbeda. penatku seolah lenyap dan senyummu selalu jadi alasan aku buat terus bersemangat." ku tatap lagi matanya. ku liat matanya berkaca, seolah ingin membalas tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar. aku kemudian memeluknya. merasakan nadinya yang mulai...

Menemani yang Kesepian

"aku tidak akan meletakkan hatiku sembarangan, tenang saja." ku sebut kalimat penyemangat itu setiap sebelum memulai hari. butuh waktu yang begitu lama untuk memulihkan diri dari patah-patah yang merusak hati. aku selalu berjanji untuk rehat sejenak, dari rasa membutuhkan orang lain. tapi tidak setelah aku bertemu dengannya. benar kata pepatah, kita tidak bisa memilih kemana hati kita akan berlabuh. tidak pernah tau kapan dan dengan siapa akan ditaruh. walaupun baju perang yang ku pasang sudah begitu kuat, jika pada saatnya harus dilepas, ia akan dilepas juga. jatuh cinta memang hal yang menyebalkan namun selalu dirindukan. aku mengerti betapa cemasnya jika harus berurusan dengan debar. aku akan lemah, aku akan mengalah, terlebih selalu mengutamakan kebahagiaannya. terdengar bodoh? ya, memang begitu kelemahan yang selalu terulang.  dia, dengan semua hangat yang menyelimuti relungku. suaranya, yang beberapa kali terekam dalam memoriku, guraunya yang kadang berlebihan menghimpi...

Cerpen - Batimbang Tando #3 (end)

*** “Hasianku, kau lagi apa?“ Ku telfon Bahri sambil tergeletak di kasur. “Menerima telfon dari kesayangan.“ Balasnya sambil tertawa dengan suara berat itu. Aku membicarakan semua yang telah ku perbincangkan dengan orang tua ku. Terdengar suara kaget dari Bahri seperti tidak yakin aku akan berkata begitu. “Jadi, kamu sudah yakin?“ tanyanya sekali lagi memastikan. Aku mengiyakan jawabannya. Akhirnya Bahri memutuskan pulang ke Padang akhir bulan ini untuk bersilaturahmi dengan orangtua ku. Perasaan seperti melayangnya kupu-kupu pada perutmu ternyata benar-benar bisa dirasakan setelah menahan segala takut yang berujung (akan) indah pada waktunya. Banyak orang berspekulasi mengenai perbedaan yang sesungguhnya mampu menyatukan. Mampu menghilangkan rasa takut. Ya, kali ini aku merasakan jantungku bergetar lebih dari ubun-ubunku yang sejak tadi memanas, mendingin. “Akhir bulan ini Bahri akan pulang.“ Seruku lalu tidur. *** “Roi, Bahri sudah di Padang!“ saat tidurku tergan...

Cerpen - Batimbang Tando #2

  *** “Bahri sudah berkenalan dengan orang tua kau, Roida?“ tanya Fatimah tiba-tiba saat kami sedang makan siang di kantin kantor. “Belum Fat, aku masih takut.“ “Kenalkan sajalah Ro, sayang sekali. Padahal keluarga Bahri sudah sangat kenal betul dengan kau. Percuma saja kalian menjalin kasih selama ini tapi tak juga ada ujungnya.“ “Aku mau saja Fat, tapi aku belum siap. Kau tau lah bapak dan mamak ku sama kerasnya mereka berdua.“ “Memang kau menjamin mereka menolak calon seperti Bahri?“ “Ya bisa saja, Bahri kan orang Minang,“ Lagi-lagi pikiran mengenai perbedaan ini yang membuatku enggan memulai sesuatu yang serius dengan Bahri. Sebenarnya kami sudah bisa dibilang sangat serius. Aku dan Bahri bertemu saat kami masih sama-sama bersekolah di sekolah menengah pertama nasional di kotaku. Kami sudah menjalin cinta sejak itu sampai hari ini. Aku sudah mengenal karakter Bahri lebih dari lelaki lain yang ada. Aku sudah mengenal keluarganya sama seperti keluargaku. Tapi, entah kenapa seti...

Cerpen - Batimbang Tando #1

  Jika pada mulanya Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, melewati badai agar bertemu, melewati segala reruntuhan agar bisa bertahan dan kembali mengapit semua jeda menjadi rasa yang tak terlepaskan. Bolehkah manusia menyalahkan keadaan atas apa yang telah disepakati manusia lain sejak dulu dan mematahkan segala kesalahan yang menyebabkan dua insan mati berdarah akibat aturan yang membelenggu kaki hatinya untuk berjalan menuju masa depan? Jika ada  yan g terlin tas dalam fikirikanku mengenai isi hati yang tersirat, bolehkah ku salahkan semua yang sudah tercipta sebelum aku terlanjur di lahirkan? *** “Roida bangun kau, sudah jam berapa ini. Anak gadispun tak bisa lagi bantu mamaknya bersihkan rumah“ Itu mamakku yang suka teriak dengan lantam ketika matahari belum jua muncul. Suaranya yang keras selalu menggema setelah azan subuh. Suara gaduh mamak akhir-akhir ini sering membangunkan tetangga. Ada yang marah karena tidur mereka terganggu ada pula yang senang karena ia bi...

Champagne Problem

Aku mungkin bukan perempuan terbaik yang pernah kau temui. Aku juga mungkin belum apa-apa dibanding perempuan di   luar sana yang sudah menjadi dewasa dengan jalannya. Yang sudah mampu berjalan tanpa perlu mengkhawatirkan resiko sebegitu besarnya. Dan mampu berdiri lagi mencari kebahagiaan lain. Mungkin saja aku kalah dari perempuan di masa lalumu. Perlu kamu ketahui, aku salah satu perempuan yang sulit untuk menjalani hidup. Aku merasa-rasakan setiap luka yang orang lain berikan kepadaku. Aku teramat suka menyimpan apa yang kurasakan, hingga aku menjadi kecil di depan orang lain dan tidak pernah percaya bahwa orang lain akan menerimaku dengan baik. Aku terbiasa sendiri menyelesaikan konflik batin dalam diriku. Aku sudah menentang hatiku terlalu banyak untuk selalu kuat dan mencoba tak memerlukan orang banyak. Aku menyikapi itu semua dengan egois karena aku tahu suatu saat aku akan ditinggalkan. Jadi aku selalu percaya semua yang datang hanya untuk pergi lagi. Aku ingin mengutaraka...

Aku ingin berhenti menulis kisah mu

Aku ingin berjalan lebih jauh lagi, menutup segala lentera yang sempat menggelapi ku. Waktu itu, kutemukan dirimu dalam gelap dan pengapnya hidup. Kau ulurkan tangan dan biarkan aku bersandar pada pundakmu. Kurasakan nyaman berlebihan, kehangatan bersamaan serta rasa yang tak biasa ku ucapkan hadir. Aku jatuh cinta pada setiap yang kau lakukan. Aku tak pernah memikirkan bahwa aku akan menjadi seperti ini, segila ini padamu. Aku berdiam dalam hening perasaan yang sudah kau bangun diam-diam. Aku merasa bersamamu saja aku sudah cukup. Aku berjalan lagi, kali ini tak lagi sendiri. Karena kau selalu mengikuti tapakanku dan pastikan aku takkan merasa sepi lagi. Kau menyuguhkan cinta yang tak bisa kulihat dari orang lain. Senyum dan tawa mu yang terkadang membuatku tak bisa tidur semalaman. Nada bicaramu yang selalu terngiang bebas dalam pendengaranku. Namamu yang ku sebutkan berulang-ulang tanpa bosan. Beginikah rasanya mencintai tanpa perlu memiliki? Tidak munafik, aku ingin jadi milikmu su...