Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

menghabiskan waktu

sudut memoriku mulai menutup pelan semua harapan yang pernah ku gantungkan untukmu. jika berbalik ke hari-hari yang lalu, aku tak pernah bisa membayangkan akan mengalaminya sekali lagi. melarikan diri selalu menjadi jalan yang tepat namun tak pernah bisa memuaskanku. aku melukai banyak hati dalam proses melupakanmu. aku meninggalkan mereka di tengah jalan hanya karena mereka tak cukup buatku merasa tenang. suara mereka ribut membicarakan semua ketidakbisaanku bahkan semua yang bisa ku lakukan dalam beberapa hal. mereka bukan tempat yang tepat untuk melihat sisi terbaikku, karena hampir semua dari mereka menilai aku yang saat ini hanya dari balik ponsel itu. aku tak bisa lihat semua kebaikan mereka karena kau sudah tanamkan perih dalam setiap hembusan nafasku. sekencang-kencangnya aku berlari, sebegitu banyak bekas luka yang kau tinggalkan, kau takkan pernah merasakan betapa sulitnya mengapung disaat kau tak mampu berenang. aku begitu tenggelam ke dasar, hingga lupa bagaimana rasanya sa...

kepada awan

aku lelah menuliskan hal baik tentangmu. hal baik yang selama ini ku patri, rasanya sia-sia. hal baik yang selama ini aku bicarakan pada orang-orang bahwa kau berbeda. akhirnya aku berhenti membantah mereka. aku berhenti komplain terhadap citra buruk yang mereka rasakan terhadapmu. aku tidak bisa lagi membelamu, dan mengatakan kau berbeda. awan, ternyata kau sama saja. tidak ada hal yang menarik darimu selain, perasaanku ini. kau tidak berbeda dengan bajingan dingin di luar sana yang senang menerima perhatian. aku berusaha meyakinkan diriku bahwa apa yang terlihat dan yang ku jalani hampir setahun ini adalah garis perjalanan yang luar biasa, bertemu dengan orang seistimewa kau, berbagi tawa dengan segala lelucon anak-anak mu. tapi, poinnya bukan proses itu. kau memberi tanda titik di akhir percakapan, kau pamit tanpa mengatakan alasannya kenapa, padahal kau masuk setelah ku beri surat izin dengan segenap usaha yang baik. tapi kau mengiris hatiku berkali-kali setelah kepergian ini awan,...

selamat bertambah usia, awan.

104 hari sebelumnya, kau menemaniku sampai larut atau kau memang sengaja untuk minta ditemani. hari itu kau sedang sendirian, nada dering ponselku seperti biasa berbunyi. kau memberikan panggilan video seperti malam-malam lain yang biasa kita habiskan. kau dengan kaos putih favorit mu, celana pendek hitam itu, aku merapikan kerudung lalu kita saling menertawakan. kau makan sebungkus poki-poki dalam sekali lahap, kau garuk kepalamu dan aku menertawakan kebodohan itu. malam itu kau lanjut bercerita tentang perjalanan dinas yang singkat. menceritakan hal-hal baru yang belum pernah kau rasakan, seperti mulai menyukai udon misalnya. lagi-lagi kita menertawakan hal itu. bercerita seolah minta untuk didengarkan. dan aku mendengarkan sambil melihat senyum tipis itu hanya dari layar ponsel. mendengarkanmu berceloteh, melihatmu menonton film dari jauh, mendengarkan rekomendasi lagu favoritmu, yang selalu kau putar dari ponselmu yang satu lagi, atau yang lebih seringnya aku menyukai caramu menjel...

simposium platonis

aku sudah melewati tujuh puluh tujuh hari yang campur aduk, beberapa kali hujan dan badai, sesekali kuyup sekaligus kering. semua hal itu menghantamku dalam keikhlasan. kau berseloroh dalam kepalamu, mengatai aku bodoh, padahal kau sudah lipat payungmu dan meletakkannya di lemari usang. sorot mata mu yang seperti partikel layang di bulan Desember, terus menerus membekukan setiap bara api yang berusaha ku hidupkan. senyap yang kini tercipta dalam pembatasku, berotasi begitu lambat sambil menyulam namamu dalam ribuan kunut. dengan ingatan yang ku punya, setiap hal kecil dari dirimu adalah lapisan terdalam dari asa yang ku ikat dalam perasaanku. kau adalah sani yang muncul dalam rebas mataku.  semakin kau patahkan, justru perasaan ini tumbuh semakin kokoh. aku menikmati posisiku, dalam doa yang tidak bisa kau dengar, dari jarak ketidakingintahuanmu. berada di titik ini sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa, menjanjikan kelegaan bisa menyimpanmu dalam relung setiap hari tanp...

di balik potret

di balik potret itu ada wajahya yang menempel di mataku.  di balik potret itu ada senyumnya yang jahil terpatri di kepalaku. di balik potret itu ada tangannya yang melambai sambil menghitung mundur. pria di balik potret itu terlalu banyak bergemuruh di samuderaku. pria di balik potret itu sangat menyenangkan untuk terus diingat dalam balutan rindu. satu-satunya kenangan yang ku simpan dari dirinya adalah potret ini. potret wajahku yang sengaja diambilnya sambil bercanda. potret wajahku yang amburadul, tapi hanya ini yang tersisa. melihat potret ini, ku rasakan senyumnya dan tawanya. melihat potret ini,  satu-satunya alasanku bisa menahan diri untuk mencarinya.  love, itijonas

Mencintai Kota Deli

aku mencintai kota Deli itu, jauh sebelum bertemu dengan dia. sewaktu kecil, aku ingin sekali menghabiskan hari-hari ku di kota itu. meskipun bukan kota kelahiran, rasanya ada satu hal manis yang terbentuk di relung ku terhadap hiruk-pikuk kotanya. jauh sebelum bertemu dengan dia, cita-cita ku adalah menetap di sana. awal tahun yang kurang menyenangkan kembali hadir. aku dengan segenap hasrat, menyebarkan semua harapan agar tetap bertahan. menginjaki masa awal dewasa adalah pilihan terberat bagi semua orang, tak terkecuali aku. dengan segenap harapan yang ku gantung, aku berjalan sendirian, menikmati setiap kesepian yang sudah terlanjur ku pilih. piuh badai tetap ku terjang dengan kaki yang makin gemetar. lebih dari setahun sebelum pergantian tahun baru itu, hati ku sedang patah-patahnya. bunga-bunga dalam diriku sudah layu tak lagi bisa mekar. aku melihat cinta sebagai bentuk yang pudar. tak ku temukan gejolak, tak ku lihat harapan ada di sana. waktu seolah menjawab semua ketakutan ku...

tak ada alasan lagi

ku pangkas habis harapan yang ku simpan untuknya. tiada lagi tangis yang akan ku keluarkan disela-sela malam yang sepi ini. ku hentikan mendengar lagu-lagu yang menyayat hati. memberikan hati pada orang yang sulit mencintaimu adalah hal yang sia-sia. memberikan yang terbaik untuk membuatnya nyaman berada di dekatmu juga hal yang terlalu berlebihan. dia terbiasa bersinar di mata banyak bunga, dia terbiasa menerima kenyataan bahwa dia takkan terluka hanya karena mawar berduri sepertiku. meskipun saat bersamanya aku dapat menjadi diriku sendiri, tapi aku tak bisa leluasa mengungkapkan perasaanku, demi sebuah perasaan yang harus ku jaga kenyamanannya. saat aku memiliki alasan untuk terus menjalin sebuah emosi, kupu-kupu dalam perutku terus menerus bermekaran. setiap ku tatap matanya yang besar itu, setiap ku dengar suaranya yang bercerita tentang hal-hal tidak penting, perasaan debar selalu jadi penguat bahwa, apa yang terjadi pada hatiku bukan hanya alasan untuk mengubur kesepian. debar i...

dibuat hilang ingatan

dia berusaha menghapus kehadirannya dengan menjadi orang asing. dia berusaha membuat ku hilang ingatan dan lupa bahwa dia sempat melukis hari-hariku dengan penuh warna darinya. dia beri aku banyak pilihan agar lukisanku tidak hanya tentang hitam dan putih. dia berusaha menjadi dingin, agar aku menangis karena kehilangan panggilan darinya.  berawal dari rasa cinta yang kecil, dipupuk dengan sejuta cerita dan tawa akan menghasilkan ruang-ruang baru yang begitu besar. aku tak menyadari, ruang itu tercipta dengan semua senyum-senyum yang muncul dari bibir tipisnya itu. dia tak menyadari, aku sudah tenggelam. lebih tepatnya, tidak memperdulikan itu. tapi dengan segenap usaha, aku harus naik ke permukaan. samudera sudah terbentuk di mataku, sedang sudut mataku kini beralih fungsi menjadi ladang air terjun. kepalaku terus saja berat, setiap kali sekelebat bayang wajahnya muncul dalam pandang. telingaku kerap salah menafsirkan suara-suara di sekitar, karena yang ku dengar hanya tawanya yan...

tolong jangan buat aku menderita lagi, aku mencintaimu.

aku melihat mu dari tempat terendah,  di atas sana kau baik-baik saja. melanjutkan hidupmu, bahkan ketika aku tak lagi di sana. kau tetap tersenyum, kau tetap berdiri dengan gagahnya. aku melihat kau semakin bahagia, aku melihat kau menerima semua pujian atas keberhasilanmu mematahkanku dalam sekejap. aku di sini, dari bawah sini, aku menyapu air mataku setiap hari. melihat kau baik-baik saja semakin memperburuk hari-hariku. kenapa, kau baik-baik saja sedangkan aku sudah hampir mati menelan lara? padahal hatiku, sudah kau rebut seluruh, kau buat duniaku jadi dunia yang paling menyenangkan. kenapa, saat kau tak ada, hadiah terakhir malah neraka yang sangat menyiksa?    apakah mencintaimu bagian dari dosa? malam-malam ku tak lagi indah, aku tak lagi tersenyum. aku katakan, aku kehilanganmu dengan lantang. tapi, mengapa kau tak pernah mendengar? apakah kau mulai menulikan telinga dari saat itu? jika mencintaimu tidak diperbolehkan, kenapa kau ajak aku ke depan pintu, namun t...

Saat Menemukan

Disaat aku lelah menimbang hati kedalam hidupku lagi. Ku temukan engkau merawatnya dengan baik hingga layuku berubah mekar. Dari sudut tergelap kau masih melihat cahaya dalam tanganku. Meski ku tutup, kau selalu yakin itu cahaya yang indah. Disaat yang lain tak melihat memar, kau mengetahuinya dan mengajakku mengobatinya dengan sabar. Diantara bintang yang bertabur di cakrawala, mengapa baru kali ini aku melihat kau begitu terang? Bahkan menyilaukan penglihatanku. Baiknya, kau berbagi cahaya denganku dan menambah energi ku. Bahkan saat matahari muncul, kita masih saja memiliki cahaya walau samar. Berbeda dengan bulan yang habis indahnya jika raja siang muncul. Aku banyak berbagi puisi dengan daun gugur. Aku memberi setiap mereka sepotong cerita resah dan indah. Kau mengetahuinya lewat bacaan yang terlintas dari indra penglihatanmu. Saat dihembuskan angin, cerita hanya menjadi kisah yang ditelan waktu. Sejak ku putuskan untuk mengarungi samudera yang luas, beraneka ragam ikan yang ku te...

belajar ekspektasi

"bulan hari ini terang, ya" sahutku sambil menatap matanya yang hangat. "iya, cantik. seperti kamu malam ini." jawabannya sambil mengusap kepalaku pelan. aku mengembalikan pandanganku ke atas sambil sesekali melirik ke arahnya.  "Noel, kamu tau gak, sejak aku ketemu kamu, hidupku jadi penuh warna. aku jadi lebih banyak ketawanya. tingkah kamu kadang buat aku ngerasa, bersyukur banget udah dipertemukan sama kamu." ku coba utarakan lagi isi hatiku, kali ini sambil menggenggam tangannya.  "tapi Noel, pundakku sebenarnya sangat berat. walaupun aku tidak pernah menceritakan apapun padamu, tapi aku selalu merasa ringan ketika kita saling berbicara dan tertawa. aku seperti berada dalam dimensi yang berbeda. penatku seolah lenyap dan senyummu selalu jadi alasan aku buat terus bersemangat." ku tatap lagi matanya. ku liat matanya berkaca, seolah ingin membalas tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar. aku kemudian memeluknya. merasakan nadinya yang mulai...

Menemani yang Kesepian

"aku tidak akan meletakkan hatiku sembarangan, tenang saja." ku sebut kalimat penyemangat itu setiap sebelum memulai hari. butuh waktu yang begitu lama untuk memulihkan diri dari patah-patah yang merusak hati. aku selalu berjanji untuk rehat sejenak, dari rasa membutuhkan orang lain. tapi tidak setelah aku bertemu dengannya. benar kata pepatah, kita tidak bisa memilih kemana hati kita akan berlabuh. tidak pernah tau kapan dan dengan siapa akan ditaruh. walaupun baju perang yang ku pasang sudah begitu kuat, jika pada saatnya harus dilepas, ia akan dilepas juga. jatuh cinta memang hal yang menyebalkan namun selalu dirindukan. aku mengerti betapa cemasnya jika harus berurusan dengan debar. aku akan lemah, aku akan mengalah, terlebih selalu mengutamakan kebahagiaannya. terdengar bodoh? ya, memang begitu kelemahan yang selalu terulang.  dia, dengan semua hangat yang menyelimuti relungku. suaranya, yang beberapa kali terekam dalam memoriku, guraunya yang kadang berlebihan menghimpi...

Cerpen - Batimbang Tando #3 (end)

*** “Hasianku, kau lagi apa?“ Ku telfon Bahri sambil tergeletak di kasur. “Menerima telfon dari kesayangan.“ Balasnya sambil tertawa dengan suara berat itu. Aku membicarakan semua yang telah ku perbincangkan dengan orang tua ku. Terdengar suara kaget dari Bahri seperti tidak yakin aku akan berkata begitu. “Jadi, kamu sudah yakin?“ tanyanya sekali lagi memastikan. Aku mengiyakan jawabannya. Akhirnya Bahri memutuskan pulang ke Padang akhir bulan ini untuk bersilaturahmi dengan orangtua ku. Perasaan seperti melayangnya kupu-kupu pada perutmu ternyata benar-benar bisa dirasakan setelah menahan segala takut yang berujung (akan) indah pada waktunya. Banyak orang berspekulasi mengenai perbedaan yang sesungguhnya mampu menyatukan. Mampu menghilangkan rasa takut. Ya, kali ini aku merasakan jantungku bergetar lebih dari ubun-ubunku yang sejak tadi memanas, mendingin. “Akhir bulan ini Bahri akan pulang.“ Seruku lalu tidur. *** “Roi, Bahri sudah di Padang!“ saat tidurku tergan...

Cerpen - Batimbang Tando #2

  *** “Bahri sudah berkenalan dengan orang tua kau, Roida?“ tanya Fatimah tiba-tiba saat kami sedang makan siang di kantin kantor. “Belum Fat, aku masih takut.“ “Kenalkan sajalah Ro, sayang sekali. Padahal keluarga Bahri sudah sangat kenal betul dengan kau. Percuma saja kalian menjalin kasih selama ini tapi tak juga ada ujungnya.“ “Aku mau saja Fat, tapi aku belum siap. Kau tau lah bapak dan mamak ku sama kerasnya mereka berdua.“ “Memang kau menjamin mereka menolak calon seperti Bahri?“ “Ya bisa saja, Bahri kan orang Minang,“ Lagi-lagi pikiran mengenai perbedaan ini yang membuatku enggan memulai sesuatu yang serius dengan Bahri. Sebenarnya kami sudah bisa dibilang sangat serius. Aku dan Bahri bertemu saat kami masih sama-sama bersekolah di sekolah menengah pertama nasional di kotaku. Kami sudah menjalin cinta sejak itu sampai hari ini. Aku sudah mengenal karakter Bahri lebih dari lelaki lain yang ada. Aku sudah mengenal keluarganya sama seperti keluargaku. Tapi, entah kenapa seti...

Cerpen - Batimbang Tando #1

  Jika pada mulanya Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, melewati badai agar bertemu, melewati segala reruntuhan agar bisa bertahan dan kembali mengapit semua jeda menjadi rasa yang tak terlepaskan. Bolehkah manusia menyalahkan keadaan atas apa yang telah disepakati manusia lain sejak dulu dan mematahkan segala kesalahan yang menyebabkan dua insan mati berdarah akibat aturan yang membelenggu kaki hatinya untuk berjalan menuju masa depan? Jika ada  yan g terlin tas dalam fikirikanku mengenai isi hati yang tersirat, bolehkah ku salahkan semua yang sudah tercipta sebelum aku terlanjur di lahirkan? *** “Roida bangun kau, sudah jam berapa ini. Anak gadispun tak bisa lagi bantu mamaknya bersihkan rumah“ Itu mamakku yang suka teriak dengan lantam ketika matahari belum jua muncul. Suaranya yang keras selalu menggema setelah azan subuh. Suara gaduh mamak akhir-akhir ini sering membangunkan tetangga. Ada yang marah karena tidur mereka terganggu ada pula yang senang karena ia bi...