aku sudah melewati tujuh puluh tujuh hari yang campur aduk, beberapa kali hujan dan badai, sesekali kuyup sekaligus kering. semua hal itu menghantamku dalam keikhlasan. kau berseloroh dalam kepalamu, mengatai aku bodoh, padahal kau sudah lipat payungmu dan meletakkannya di lemari usang. sorot mata mu yang seperti partikel layang di bulan Desember, terus menerus membekukan setiap bara api yang berusaha ku hidupkan. senyap yang kini tercipta dalam pembatasku, berotasi begitu lambat sambil menyulam namamu dalam ribuan kunut. dengan ingatan yang ku punya, setiap hal kecil dari dirimu adalah lapisan terdalam dari asa yang ku ikat dalam perasaanku. kau adalah sani yang muncul dalam rebas mataku.
semakin kau patahkan, justru perasaan ini tumbuh semakin kokoh. aku menikmati posisiku, dalam doa yang tidak bisa kau dengar, dari jarak ketidakingintahuanmu. berada di titik ini sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa, menjanjikan kelegaan bisa menyimpanmu dalam relung setiap hari tanpa mengubah apapun yang ada dalam dirimu.
namamu muncul ribuan kali di kepalaku, mereka merayakan batapa racaunya hatiku beberapa bulan terakhir ini. aku berjalan mengelilingi kota dengan gamang, melewati jalan-jalan dan tempat-tempat yang mungkin saja akan kau singgahi. menatap awan dengan penuh suka cita meski mendung sekalipun menyambar rasa percaya diriku. segala hal dalam kepalaku akhir-akhir ini sudah bercampur dengan faktitius yang mencemarkan hari-hari kemarin. garis taksa yang kau beri tinta merah di antara kita sempat menimbulkan bermacam afeksi dalam kepalaku. apakah sudah benar yang ku lakukan? apakah kau baik-baik saja? bahagiakah kau dengan leluconku? apakah satu semester yang ku berikan untuk menemani rasa sepimu dapat membuahkan benih rindu dalam pangkal terkecil dari hatimu? apakah kau kehilanganku barang itu sedetik? bahkan saat kau terasa begitu jauh dari diriku, suaramu masihlah jadi yang paling merdu. kau adalah bentala yang ingin ku tinggali.
seluasnya cakrawala ini, aku mencintaimu itulah kulminasi ku.
Pablo Neruda berkali-kali menyatakan bahwa mencintai seseorang itu sangat singkat, namun melupakannya butuh waktu yang sangat lama. ku tempatkan amerta dalam namamu, ku biarkan ia di sana, merambat ke dalam seluruh organku. kala segalanya dihilangkan sang kuasa, kau akan terus menjadi kirana terbaik dalam diriku. seberapa singkat waktu yang kita punya, sedikit apapun kenangan yang kau tumpahkan dalam sumurku, seberat apapun elegi yang tengah ku derita karena merindukanmu, semua ini akan menjadi secarik simposium platonis yang panjangnya tidak akan pernah bisa kau baca.
dari, hujan.
kepada, awan.
with love, iti.
Komentar