tulisan ini hanya bagian lain dari imajinasi seorang perempuan yang sedang bergelut dengan mendung. harinya menggelap sudah lama, katanya mentarinya sudah meredup. ia tak menemukan terang, setelah hatinya diamuk badai. katanya, setelah badai kita akan melihat secercah pelangi atau langit biru. tapi, ternyata penyair itu pendusta. duniaku tetap saja gelap. tetap saja mendung. bahkan saat aku berjalanpun tak ada bayang yang bersedia mengikuti.
setelah semua ini terjadi, apakah aku harus menatap langit dan berharap melihat keindahan lagi?
hari-hari memang menarik perhatian untuk bergembira. setiap ku temukan terik dimatanya, aku selalu menghindar. alasan lain untuk pergi, untuk apa aku bergeming menikmati hangatnya yang kapan saja mampu membakar isi hatiku? sekejap, dia memang mentari yang meghilang. mentari yang selalu menyinari segenap sisi kehidupanku. namun, ungkapan ini, tak cocok lagi kunobatkan untuk pria yang menginginkan mendung menaungi sudut mataku. ia menciptakan hujan, meski ia tak menginginkannya. ia memberikan darah, walau ia tak sadar. begitulah waktu yang membuatnya menjadi kejam.
katanya, hidup menjadi perempuan seperti aku ini adalah sebuah kesulitan. katanya perempuan selalu saja lemah mengenai logika. dan hidup penuh dengan metafora untuk menyampaikan maksud serta tujuannya. jadi, ia melukai dirinya sendiri lalu menyalahkan pria.
sayang, mentari sudah tak berputar lagi ternyata dalam kepalamu.
sungguh, jika aku mengikutimu seperti pemburu, aku takkan ada di sini berusaha protes untuk meminta kembali semua sinarmu. mungkin saja, aku akan beralih mencari setidaknya payung yang akan melindungiku dari gigil yang akan kau beri. bisa saja, aku berhenti dan meninggalkan segala harapanmu dalam lengkung kekecewaan. aku mencintaimu tidak untuk menomersatukan logikaku agar aku bisa menang mematahkan segala argumen di kepala kita.
mengapa hampir semua perempuan begini?
karena ia melihat dengan hatinya. agar kau bisa melihat keegoisanmu sendiri. begitulah perempuan memainkan perannya untuk menyadarkanmu. namun, alih-alih menyadarkan ternyata aku tak bisa menyentuh lubang hatimu untuk melihat semua keadaan ini dengan hati. sayang, tak semua yang terjadi dalam hidup kita ini bisa dilogikakan. jangan lukai perasaanku dengan segenap kerasionalan mu menghadapi waktu. tidak bisakah kau bersamaku berintuisi? berbicara mengenai hati yang sudah lama tak terjamah?
karena, aku sudah terlalu lelah menunggu terik dari matamu. karena aku sudah lama menyimpan mendung dalam genggamku. jadi, jangan biarkan aku menyalahkan waktu lagi karena sudah mengambil sinarku.
jadilah, peka. dengan waktu yang tersisa.
with love, itijonas
Komentar