Langsung ke konten utama

menunggu terik

tulisan ini hanya bagian lain dari imajinasi seorang perempuan yang sedang bergelut dengan mendung. harinya menggelap sudah lama, katanya mentarinya sudah meredup. ia tak menemukan terang, setelah hatinya diamuk badai. katanya, setelah badai kita akan melihat secercah pelangi atau langit biru. tapi, ternyata penyair itu pendusta. duniaku tetap saja gelap. tetap saja mendung. bahkan saat aku berjalanpun tak ada bayang yang bersedia mengikuti.

setelah semua ini terjadi, apakah aku harus menatap langit dan berharap melihat keindahan lagi?

hari-hari memang menarik perhatian untuk bergembira. setiap ku temukan terik dimatanya, aku selalu menghindar. alasan lain untuk pergi, untuk apa aku bergeming menikmati hangatnya yang kapan saja mampu membakar isi hatiku? sekejap, dia memang mentari yang meghilang. mentari yang selalu menyinari segenap sisi kehidupanku. namun, ungkapan ini, tak cocok lagi kunobatkan untuk pria yang menginginkan mendung menaungi sudut mataku. ia menciptakan hujan, meski ia tak menginginkannya. ia memberikan darah, walau ia tak sadar. begitulah waktu yang membuatnya menjadi kejam. 
katanya, hidup menjadi perempuan seperti aku ini adalah sebuah kesulitan. katanya perempuan selalu saja lemah mengenai logika. dan hidup penuh dengan metafora untuk menyampaikan maksud serta tujuannya. jadi, ia melukai dirinya sendiri lalu menyalahkan pria.

sayang, mentari sudah tak berputar lagi ternyata dalam kepalamu. 
sungguh, jika aku mengikutimu seperti pemburu, aku takkan ada di sini berusaha protes untuk meminta kembali semua sinarmu. mungkin saja, aku akan beralih mencari setidaknya payung yang akan melindungiku dari gigil yang akan kau beri. bisa saja, aku berhenti dan meninggalkan segala harapanmu dalam lengkung kekecewaan. aku mencintaimu tidak untuk menomersatukan logikaku agar aku bisa menang mematahkan segala argumen di kepala kita.

mengapa hampir semua perempuan begini?
karena ia melihat dengan hatinya. agar kau bisa melihat keegoisanmu sendiri. begitulah perempuan memainkan perannya untuk menyadarkanmu. namun, alih-alih menyadarkan ternyata aku tak bisa menyentuh lubang hatimu untuk melihat semua keadaan ini dengan hati. sayang, tak semua yang terjadi dalam hidup kita ini bisa dilogikakan. jangan lukai perasaanku dengan segenap kerasionalan mu menghadapi waktu. tidak bisakah kau bersamaku berintuisi? berbicara mengenai hati yang sudah lama tak terjamah?

karena, aku sudah terlalu lelah menunggu terik dari matamu. karena aku sudah lama menyimpan mendung dalam genggamku. jadi, jangan biarkan aku menyalahkan waktu lagi karena sudah mengambil sinarku. 

jadilah, peka. dengan waktu yang tersisa.


with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...