sebelum mu, hatiku telah patah. sebelum mu, hatiku sudah direbut bertahun-tahun dari diriku sendiri. sebelum mu, melihat ke arah lainpun tak punya nyali. sebelum mu, aku telah membebaskan diriku dari jerat rasa. tak ku lihat lagi bagaimana rasanya mencintai ataupun dicintai. sebelum mu, pria adalah hal pertama yang harus ku hindari dan cinta hanya mimpi buruk yang membuat tidurku tidak pernah nyenyak. cinta hanya pilihan terakhir yang ingin ku lakukan dalam hidup. sebelum mu, aku tak pernah berhenti menangis. aku selalu sesak nafas setiap kali hujan mulai turun. aku seperti barang rusak yang tersimpan dalam gudang. sebelum mu, aku tak pernah keluar dari selimutku. menahun, aku hanya menatap langit-langit kamarku. rasanya, menyedihkan.
sebelum mu, aku lupa bagaimana caranya tersenyum. aku lupa caranya berinteraksi dengan suara-suara berat. aku memulihkan diriku dengan sedikit tenaga yang tersisa. tak ada yang membantuku untuk pulih dari patah hati. semua memaksaku untuk menjadi kuat. semua mengatakan aku berlebihan. tapi, mereka tidak melihatku tersiksa setiap malam.
patah hati bagiku adalah mimpi buruk. begitu takut, hingga acap kali menghantui. apalagi, penyebabnya adalah orang yang telah ku cintai dan bersamaku selama satu dekade terakhir. saat menginggalkannya, aku merasa asing pada dunia. aku tak bisa bernafas lagi. aku tak ingin bernafas lagi rasanya. tapi, aku tak punya siapapun selain diriku yang lemah ini.
setelah waktu berat itu perlahan membiasakan diri, aku bertemu denganmu. aku yang kau lihat hari itu adalah aku yang diambang sekarat dan mencoba untuk kuat. awalnya, aku tak melihatmu dengan perasaan. aku mengabaikan tubuhmu yang berlalu lalang di kedua mataku. apa itu sebuah kebetulan, atau hanya kaulah yang mencoba memulai interaksi dan membuatku tertawa. sekali, dua kali, tiga kali, aku hanya mengabaikanmu. aku tak lihat lagi semua interaksi itu sebagai kebetulan, karena tak ada kebetulan yang terjadi setiap kali bertemu.
hari dimana kau berhenti di tengah-tengah temanku dan mengajakku bercanda dengan sebuah minuman. hari itu, hatiku meletus. setelah sekian tahun, tak ada orang lain yang membuatnya terasa hangat, siang yang terik itu aku memutuskan untuk melihatmu dengan perasaanku. aku sempat kesal, dari sekian banyak orang, kenapa harus kamu. seolah aku harus menerima kenyataan bahwa aku tak bisa berkuasa atas pilihanku. sejak itu entah bagaimana bisa terjadi, aku mengejarmu dan mencari tau segala tentangmu. sebisaku dan semampuku. ketika segala hal yang ingin ku tau telah ada dalam kepala, waktu seolah-olah memberitahuku bahwa apa yang ku rasakan hari itu hingga saat ini adalah sebuah kesalahan. waktu seolah menegurku untuk berhenti sebelum terlambat. segala interaksi yang terjadi antara kau dan aku bukanlah interaksi alami. semua itu, terjadi karena aku membuatnya seperti itu. aku tak ingin, perasaan menggebu ini merusak diriku sekali lagi.
saat ku lihat sorot matamu, aku tak pernah bisa membacanya. tidak, aku takut mendeskripsikannya. meskipun hatiku terasa hangat saat menatapnya, tapi aku tahu, kau beri sorot itu kepada semua orang. kemudian, aku memutuskan untuk berhenti.
semesta seperti membantuku untuk melupakan afeksi kecil yang terjadi padaku saat denganmu. waktu telah membabat habis pertemuan kita, ketika aku katakan ingin berhenti. saat aku keluar dari gerbang itu, ku tinggalkan hatiku di sana bersama denganmu. aku berusaha untuk tak membawanya pulang, karena akan sangat menyebalkan jika isi kepalaku penuh denganmu saat malam menjelang. aku akan memulihkan diriku terlebih dahulu. mencari tau apa yang benar-benar hatiku butuhkan, memahami diriku sebelum mendalami rasa ini terhadap siapapun.
tapi aku bisa apa? sekeras apapun logika ku mendeskripsikan apa yang harus ku lakukan setelah keluar dari gerbang, hatiku tetap jadi pemilik utama segala keputusan. dan hari ini, hati itu ternyata diam-diam ku bawa pulang.
with love, itijonas
Komentar