malam ini seperti malam-malam kemarin. sulit sekali menutup mata. sulit sekali menyelam dalam selimut yang hangat. lagi-lagi kepalaku mengajak berdialog. untuk kesekian kalinya, menelaah dunia, menelusuri hati dan banyak lagi. tapi, sebenarnya akhir-akhir ini dunia ku mulai membaik. walaupun, masih banyak sana-sini yang berantakan, aku masih bisa pulas beberapa kali. tapi ada hal yang semakin mengusik ku beberapa bulan terakhir. iya, apalagi kalau bukan perihal hati.
untuk gadis yang hampir berada di fase melewati seperempat abad, mengapa perjalanan menuju rasa nyaman terhadap seseorang sulit sekali diraih. sebenarnya, tempat nyaman itu sudah ada di depan mata, namun kenapa sulit sekali melabuhkan segala keluh di pundaknya? kenapa banyak sekali pertimbangan yang harus ku jalani untuk bisa bersandar dalam pelukannya? aku seperti dihambat banyak tiang. aku seperti dilarang untuk menggenggam tangannya lebih lama. aku seperti dipukul kenyataan. padahal, aku selalu berusaha untuk mengelabui keinginan itu dan terus berjalan sesuai rencana Tuhan. padahal, aku selalu berusaha untuk tidak mengeluh akan kesendirian yang semakin gila menggerogoti malam ku. padahal, aku berencana untuk menjalani hari setidaknya beberapa tahun ke depan untuk mempelajari lagi bagaimana caranya menjadi dewasa. tapi, aku selalu kalah dengan perasaan.
saat kehadirannya melumat semua rasa sepi ku, aku semakin candu. wajahnya, suaranya bagaikan obat langka yang akhirnya ku temukan. semakin hari, aku semakin keluar dari apa yang aku rencanakan. aku berencana tidak akan menyayanginya, tapi aku gagal. aku berencana tidak akan memikirkannya lebih dari dua jam dalam hariku, lagi-lagi aku ingkar. semua rencana itu buyar, tak terkendali, menyebar keseluruhan nadi, ketika aku mulai merasakan getar rindu. saat rindu itu mulai penuh dalam dadaku, kehadirannya dalam ingatan melumpuhkan semua rasa sepi tadi. dia seperti mawar yang kian mekar dalam kepala dan perasaanku. sesekali aku merasa tidak wajar dengan semua ini. aku yang biasanya mudah sekali berputar haluan, dan tidak peduli dengan hati siapa yang terlantar, entah kenapa kini sulit sekali beranjak. apakah semua ini faktor usia? atau sebegitu ingin kah aku, dia menjadi tempat pulang?
miliyaran diksi telah baku hantam dalam kepalaku. setiap malam saat ku tutup mataku, senyumnya selalu berenang bebas dalam kaca mimpiku. setiap mataku ingin terlelap, selalu terputar saat-saat aku mulai mengenalnya, dan semua hal itu membuat sekujur tubuhku bahagia saja. aku merasa sudah gila, tapi aku menyimpannya sendirian. aku sudah katakan padanya, bahwa hatiku telah ia rebut. aku sudah jelaskan padanya, namun tak apa jika tak larut. saat aku ucapkan dialog itu, sebenarnya hatiku berat. tapi selalu ku lanjutkan agar hatinya yang tidak berat. ibarat narasi cinta buta, "tidak masalah kau taruh seluruh kelam mu di atas pundak ku, biar aku pikul apa-apa yang jadi ketakutan mu."
dialog panjang malam ini, menumpahkan kebesaran hati yang seluas samudera. bagaimana bisa, tulisan ini, pikiran ini, terangkai sampai pada kesimpulan pemberian cinta yang besar untuk hal-hal yang belum menjadi milikku. Tuhan akan marah jika tau, cintaku pada dia melebihi cintaku pada-Nya. tidak, sepertinya dialog ini hanya prosa pengantar menuju perasaan yang sebenarnya. akan sejauh apa dialog ini berkembang dalam palung pikirku, atau ia akan berhenti ketika salah satu memilih untuk tidak lagi jatuh cinta. sepertinya, maha benar Tuhan yang akan menentukan. untuk kali ini, pertama kali ini, di perasaan yang bingung ini, melibatkan Tuhan dalam seleksi akhir adalah jawaban yang paling tepat.
with love, itijonas
Komentar