Langsung ke konten utama

epilog: dilupakan dengan mudah

seberapa banyak namanya kau sebut setiap hari? sudah berapa kali kau mengingat segala hal tentangnya? simpanlah semuanya dalam kantong mu, kau telah dilupakan.

mengingat kenyataan bahwa kamu bukanlah bunga yang ingin dia simpan dalam kamarnya, sudah cukup untuk berhenti sebelum terlambat. kamu bukanlah apa-apa dimatanya selain, ilalang kecil yang tumbuh dalam penglihatannya, sangat kecil hingga kau sangat mudah dilewati. kenapa belum puas dengan segala bukti yang terlihat begitu nyata? kenapa harus memaksakan diri terlalu jauh, jika Tuhan mampu membalik-balikkan keinginannya. kenapa tidak kamu terima saja, kau telah dilupakan.

kau ingat segala kebaikannya, leluconnya, isi kepalanya, kepribadiannya, lagu kesukaannya, warna yang dia pakai setiap hari, tapi tak ada satu hal darimu yang diingatnya. coba kau tanya padanya, apa lagu kesukaanmu, apa warna kegemaranmu, apa isi kepalamu hari ini. tidak, dia takkan pernah tau. kehadiranmu adalah ruang kosong yang ingin dia tutup. perhatikanlah, kau begitu bahagia menyambutnya dengan pelukan hangat saat badai mengguncang harinya. kemana dia, saat kau hampir mati dengan depresimu setiap malam? tidak ada siapapun di sana.

kau tak pernah merasa ada yang salah dari semua pendapatnya, kau terima kepribadiannya tanpa cela apapun karena yang kau lihat darinya adalah seluruh. namun dia, tak pernah suka apapun yang kau lakukan, dia selalu mengkritik pendapatmu, kegemaranmu, dan hal-hal yang kau senangi karena dia melihatmu hanya separuh. apa menurutmu semua itu adil?

aku sudah bilang, jika esok hari nyawamu tak lagi ada di bumi, dia takkan pernah tau. 

orang seperti dia akan disukai oleh banyak orang, dan orang sepertimu juga akan disukai oleh banyak orang. jadi, jangan pernah merasa tak dicintai hanya karena orang yang kau cintai tidak mencintaimu kembali.

jalanlah terus, akan ada orang yang takut jika kepalanya tak mampu mengingat sosokmu. akan ada, orang yang sakit ketika melihat kau sakit. akan ada, orang yang tidak bisa melupakanmu dengan mudah. dan itu adalah aku.


with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...