Langsung ke konten utama

selamat bertambah usia, awan.

104 hari sebelumnya, kau menemaniku sampai larut atau kau memang sengaja untuk minta ditemani. hari itu kau sedang sendirian, nada dering ponselku seperti biasa berbunyi. kau memberikan panggilan video seperti malam-malam lain yang biasa kita habiskan. kau dengan kaos putih favorit mu, celana pendek hitam itu, aku merapikan kerudung lalu kita saling menertawakan. kau makan sebungkus poki-poki dalam sekali lahap, kau garuk kepalamu dan aku menertawakan kebodohan itu. malam itu kau lanjut bercerita tentang perjalanan dinas yang singkat. menceritakan hal-hal baru yang belum pernah kau rasakan, seperti mulai menyukai udon misalnya. lagi-lagi kita menertawakan hal itu. bercerita seolah minta untuk didengarkan. dan aku mendengarkan sambil melihat senyum tipis itu hanya dari layar ponsel. mendengarkanmu berceloteh, melihatmu menonton film dari jauh, mendengarkan rekomendasi lagu favoritmu, yang selalu kau putar dari ponselmu yang satu lagi, atau yang lebih seringnya aku menyukai caramu menjelaskan alur games yang tiap malam kau mainkan. meskipun aku tidak mengerti, aku tetap akan terus bertanya agar kau terus berbicara.

104 hari sebelumnya, kali pertama kita berbincang sampai larut. sehari sebelumnya hari itu, pukul lima subuh kau sudah membangunkanku. kau lihat wajahku yang sangat mengantuk, bahkan mendengarkan suara beratku. kau berpamitan, kau ingin terbang katamu. "subuh ini aku sudah tiba di bandara, aku akan pergi selama dua hari lanjutmu." aku memberi ucapan hati-hati dengan sangat mengantuk dan merasa agak sedih. dua hari lagi, ulang tahunku kataku dalam hati. aku ingin kali pertamanya, menghabiskan hari denganmu tanpa memberi tahu bahwa aku sedang berulang tahun. 

hari pertama, kau lagi-lagi memberi kabar kalau sudah sampai dengan selamat. kau tunjukkan padaku areal penginapanmu. kita berbincang lagi mengenai kegiatanmu. lalu menertawakan hal lain misalnya seperti tas laundry yang sangat mahal. begitu terus sampai malam dimana kau besoknya akan kembali ke rumah. aku menghabiskan malam pergantian usiaku dengan berbincang denganmu. meskipun, kau tidak tahu, tapi aku sudah merasa itu lebih dari cukup. aku tak pernah minta akan berkeliling dan menghabiskan waktu berdua. aku tak pernah berharap ada ucapan yang keluar dari mulutmu. tapi malam itu, aku sudah bahagia saja.

karena hal itu, 104 hari setelah hari kemarin, aku ingin melakukan hal yang sama. aku ingin menghabiskan satu malam dipergantian usiamu untuk pertama dan terakhir kalinya. aku ingin melihat wajah yang senang itu saat sedang dalam perjalanan dinas. apakah perjalanan kali ini kau kesepian? apakah kau sering bosan dan lebih memilih bermain game sepanjang malam di kamarmu atau sudah adakah daftar panggilan yang kau persiapkan untuk menghilangkan jenuhmu? pada keinginan yang pernah ku buat, akhirnya aku tidak pernah bisa melaksanakannya. aku tak tau lagi bagaimana cara menghubungimu, sebelum semua kontak dalam whatsapp ku terhapus, aku sudah berusaha memperbaiki keadaan. aku sudah berusaha menjelaskan. tapi sepertinya, kau memang tak memerlukan penjelasan. aku mengerti, waktu yang singkat yang kau berikan dan sedikit hal yang ku dapatkan bukanlah perkara yang berarti. aku mengerti, tembok yang begitu tinggi bagiku untuk memanjatnya. aku seperti sudah dihapus permanen dari hidupmu. padahal sebelumnya kita terasa sangat nyata dan baik-baik saja. aku sudah tidak punya nyali lagi untuk berusaha mengembalikan keadaan. aku sudah mencoret semua daftar yang ingin ku lakukan untukmu pada hari ini. kau satu-satunya yang tidak bisa lagi ku gapai. tapi niatku tak pernah padam untuk mengatakan, selamat bertambah usia. aku menyayangimu, awan.

 terima kasih sudah menjadi teman yang selalu membuatku tertawa setiap hari, awan.

 

love, itijonas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kau pantas mencari penggantinya

“kamu bertahan untuk apa? Memutar waktu? Membalikkan hati manusia yang sudah tak mengingatmu?” seru Anita  Dalam rintikan hujan, Dinda termenung memikirkan setiap rangkaian kata dari Anita. Dalam pikirannya hanya bermain-main satu orang laki-laki yang sejak dulu tak ingin ia lupakan.   Ia bertahan karena ia percaya bahwa keajaiban akan mengembalikan hati lelaki itu. Ia tak pernah bosan untuk bertahan menanti, walau ia tau bagaimana rasanya di abaikan berkali-kali. Andai waktu dapat menjawab hati manusia lebih cepat, penantian mungkin takkan pernah berujung lama dan penuh tanda tanya seperti yang terjadi pada setiap manusia saat ini. Andai rasa bisa di hapus dengan lebih cepat tanpa harus menunggu waktu, pasti tak banyak manusia yang merasakan luka dan rasa iba setiap saat. Tapi, waktu terlalu sering bermain-main hingga ia berlama-lama mengguncang hati manusia setiap kali manusia terluka. *** “bagaimana sudah berfikiran jernih?” tanya Anita tiba-tiba “ti...

saya bercerita sedikit

  hello semua para pembaca, ini cerita saya kemarin 8. Oktober 2013 selamat membaca dan melihat beberapa foto yang tertera :)   cerita kemarin, kemarau sudah mulai menampakkan jati dirinya. pepohonan mulai menguning dan gugur satu per satu. udara yang begitu dingin membuat tubuh sedikit menggigil. namun tidak menghalangi niat saya untuk terus berjalan dan mencari tahu seluk-beluk kota ini. ini dia salah satu taman kota yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal saya.  -Ronaldstrasse- haltestelle berkunjung kesana untuk pertama kalinya, dengan modal nekat tanpa tau tempat lebih tepatnya. berjalan bersama seorang teman sehabis pulang kursus, setidaknya melupakan sedikit beban kepala yang begitu menumpuk. balik lagi, taman ini sewaktu saya berkunjung tidak begitu ramai, mungkin di karenakan masih terlalu siang, banyaknya pohon membuat rindang taman ini, saya tidak banyak memotret tapi coba lihat beginilah kira-kira keadaan taman yang saya kunju...

kau biarkan aku berperang sendirian

tulisan ini terbentuk dari potongan-potongan perasaan yang tak bisa ku utarakan. saat itu menilai diriku dan kamu hanyalah bentuk ketidakdewasaan. namun setelah ku telusuri segala sisi dari hidupku, melihat dari sisi terluar perasaan kita, lingkungan baru membuat cara pandangku semakin berbeda. patutlah aku beranjak lebih cepat. depalan tahun lalu, sebelum kita memutuskan untuk saling memaafkan lagi. kita punya misi yang baik untuk dapat ku percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya. kau terjebak dengan pesona masa lalumu ini, aku terjebak dengan kata cinta yang selalu kau utarakan berkali-kali. sekejap kita bagaikan simpul tali yang terikat dengan erat. hari-hariku bersamamu adalah waktu dimana aku berusaha menyesuaikan diri, meninggalkan ego di kantong belakang, agar janji tersebut dapat terlaksana. ku beri kau seluruh dunia, agar semangatmu tak lagi hilang. ku beri kau seluruh cinta agar sepimu tak lagi datang. ku beri kau waktu yang berlimpah, agar kau tak perlu menanggung rindu. sa...