aku lelah menuliskan hal baik tentangmu. hal baik yang selama ini ku patri, rasanya sia-sia. hal baik yang selama ini aku bicarakan pada orang-orang bahwa kau berbeda. akhirnya aku berhenti membantah mereka. aku berhenti komplain terhadap citra buruk yang mereka rasakan terhadapmu. aku tidak bisa lagi membelamu, dan mengatakan kau berbeda.
awan, ternyata kau sama saja.
tidak ada hal yang menarik darimu selain, perasaanku ini. kau tidak berbeda dengan bajingan dingin di luar sana yang senang menerima perhatian. aku berusaha meyakinkan diriku bahwa apa yang terlihat dan yang ku jalani hampir setahun ini adalah garis perjalanan yang luar biasa, bertemu dengan orang seistimewa kau, berbagi tawa dengan segala lelucon anak-anak mu. tapi, poinnya bukan proses itu. kau memberi tanda titik di akhir percakapan, kau pamit tanpa mengatakan alasannya kenapa, padahal kau masuk setelah ku beri surat izin dengan segenap usaha yang baik. tapi kau mengiris hatiku berkali-kali setelah kepergian ini awan, betapa teganya.
kau boleh melupakan dan menggantiku dengan cepat, awan. aku tidak minta kau bertanggung jawab atas perasaanku. tapi setidaknya kau malu, sudah berani masuk dalam hidupku. padahal kau sendiri pada awalnya yang menolak kehadiranku. namun kau jilat ludahmu sendiri awan, kau beri aku setiap hari panggilan. kau bercerita setiap hari denganku, kau tertawa dan mengeluh setiap malam denganku. karena kau tahu, aku akan mengangkat panggilanmu hanya dalam sekali dering. karena kau tahu, aku akan terus mengeluarkan suara yang bahagia menyambutmu datang. karena kau tahu, aku tidak pernah menolak apapun dan tidak pernah meminta apapun. kau tahu, aku sebodoh itu, lalu kau ikat aku dengan kebiasaan itu.
kau pembohong awan, kau bilang jika aku kembali lagi, sedikit lebih dekat denganmu, kau akan ajak aku. belum tau kemana, tapi kau bilang "coba aja kamu di sini, pasti aku sudah ajak kamu." tapi, setibanya aku di sini, dengan segala yang ku persiapkan, dengan segala asalan kepada orang tua ku, aku kembali ke depan matamu, tapi kau hanya tatap aku dalam satu malam. kau hampiri aku hanya untuk sebuah cinderamata, padahal aku mengharap pertemuan itu adalah muara yang tenang untuk kau dan aku. ternyata tidak, pertemuan itu ternyata adalah pusar air yang sudah kau rancang. kau menghindari ku awan. kau takut mengenal ku lebih jauh, bukan?
kau sangat tidak jantan awan, padahal sebelumnya kau katakan padaku kau tidak ingin membuat kesalahpahaman. kau bilang kau ingin meluruskan apa yang kusut. ternyata kau hanya bercitra baik, saat aku nyaris menilaimu buruk. kau takut kehilangan penggemar seperti aku, itu kenapa kau mencoba membalikkan keadaan. sayangnya, aku terjebak di sana. aku kira, dengan memberimu beberapa kali ujian dapat meyakinkan ku bahwa aku bisa melanjutkan ini denganmu, tapi ternyata semua hanya karena kau butuh tempat untuk berlibur. setelah melihatku, kau hanya butuh pantai. pantai yang akan menyembuhkan rasa lelahmu. kau buat aku seperti sebuah tempat berlibur, setelah waktumu habis, kau akan kembali pulang.
awan, apakah kau sadar.
aku berusaha untuk tidak berfikiran buruk tentangmu. karena kau selalu bilang padaku, "kenapa semua orang selalu berfikiran buruk tentangku." aku mendengar itu dengan baik, dan mencoba memahamimu lebih jauh dari yang kau perkirakan. aku mengamatimu, menulis semua sikap baikmu, berjaga-jaga untuk tidak ikut serta dalam pikiran orang lain. aku selalu mengenalmu dari dirimu sendiri. jika kau dingin, aku maklumi. jika kau suka berbicara tanpa berpikir, aku maklumi. jika kau bilang segala hal adalah bercanda, aku ikuti. aku ikuti semua permainanmu awan, semua sisi dari dirimu aku terima dengan baik. karena aku mengerti, kau memang sangat ingin dimengerti meskipun kau selalu bilang tidak.
tapi, kenapa awan?
tidak ada satupun sisi yang ku berikan dapat meyakinkanmu. kenapa kau harus berujung mematahkan hatiku sampai remuk?
apa kau tau awan?
di hari terakhir kita berbicara, aku tidak bisa bernafas. aku tidak mengada-ada. dadaku sesak, aku seperti kehilangan oksigen yang selama ini membantuku bernafas. aku tidak tahu kenapa kau begitu merusak segala hal dalam diriku. tiga bulan penuh aku menangisimu dengan kesepian yang akhirnya nyata menyelimutiku. aku berusaha menahan diri, siapa tau kau akan kembali, tapi tidak awan, kau tidak pernah kembali lagi. setiap hari aku melihat mu, kau berpapasan denganku di perjalanan menuju tempat kerjamu. aku yakin kau tidak pernah sadar. setiap hari, jantungku sakit melihat kau baik-baik saja. aku ingin marah awan, tapi besarnya perasaan ku merusak segalanya.
kau pasti saat ini tertawa membaca betapa berlebihannya tulisan ini. tidak masalah, karena kau tidak pernah merasakan perasaan sebesar ini, terlanjur mempercayai orang yang salah. kau dikecewakan oleh orang yang selama ini kau yakin sangat berbeda, padahal kenyataanya dia jauh lebih buruk. setidaknya kau tau, apa yang ada dalam pikiranku. meskipun kau tidak akan pernah peduli akan pendapat orang lain, tapi satu hal awan, sikapmu menyakiti manusia lain. ku harap, rasa sakit itu dapat menggerogotimu dengan segala cara yang kau pikir takkan pernah menghampirimu.
kali ini, aku tidak ingin mengatakan hal-hal baik untukmu, awan.
semoga, penjara penyesalan melekat dalam nadimu.
love, iti.
Komentar