Langsung ke konten utama

kepada awan

aku lelah menuliskan hal baik tentangmu. hal baik yang selama ini ku patri, rasanya sia-sia. hal baik yang selama ini aku bicarakan pada orang-orang bahwa kau berbeda. akhirnya aku berhenti membantah mereka. aku berhenti komplain terhadap citra buruk yang mereka rasakan terhadapmu. aku tidak bisa lagi membelamu, dan mengatakan kau berbeda.

awan, ternyata kau sama saja.
tidak ada hal yang menarik darimu selain, perasaanku ini. kau tidak berbeda dengan bajingan dingin di luar sana yang senang menerima perhatian. aku berusaha meyakinkan diriku bahwa apa yang terlihat dan yang ku jalani hampir setahun ini adalah garis perjalanan yang luar biasa, bertemu dengan orang seistimewa kau, berbagi tawa dengan segala lelucon anak-anak mu. tapi, poinnya bukan proses itu. kau memberi tanda titik di akhir percakapan, kau pamit tanpa mengatakan alasannya kenapa, padahal kau masuk setelah ku beri surat izin dengan segenap usaha yang baik. tapi kau mengiris hatiku berkali-kali setelah kepergian ini awan, betapa teganya. 

kau boleh melupakan dan menggantiku dengan cepat, awan. aku tidak minta kau bertanggung jawab atas perasaanku. tapi setidaknya kau malu, sudah berani masuk dalam hidupku. padahal kau sendiri pada awalnya yang menolak kehadiranku. namun kau jilat ludahmu sendiri awan, kau beri aku setiap hari panggilan. kau bercerita setiap hari denganku, kau tertawa dan mengeluh setiap malam denganku. karena kau tahu, aku akan mengangkat panggilanmu hanya dalam sekali dering. karena kau tahu, aku akan terus mengeluarkan suara yang bahagia menyambutmu datang. karena kau tahu, aku tidak pernah menolak apapun dan tidak pernah meminta apapun. kau tahu, aku sebodoh itu, lalu kau ikat aku dengan kebiasaan itu. 

kau pembohong awan, kau bilang jika aku kembali lagi, sedikit lebih dekat denganmu, kau akan ajak aku. belum tau kemana, tapi kau bilang "coba aja kamu di sini, pasti aku sudah ajak kamu." tapi, setibanya aku di sini, dengan segala yang ku persiapkan, dengan segala asalan kepada orang tua ku, aku kembali ke depan matamu, tapi kau hanya tatap aku dalam satu malam. kau hampiri aku hanya untuk sebuah cinderamata, padahal aku mengharap pertemuan itu adalah muara yang tenang untuk kau dan aku. ternyata tidak, pertemuan itu ternyata adalah pusar air yang sudah kau rancang. kau menghindari ku awan. kau takut mengenal ku lebih jauh, bukan?

kau sangat tidak jantan awan, padahal sebelumnya kau katakan padaku kau tidak ingin membuat kesalahpahaman. kau bilang kau ingin meluruskan apa yang kusut. ternyata kau hanya bercitra baik, saat aku nyaris menilaimu buruk. kau takut kehilangan penggemar seperti aku, itu kenapa kau mencoba membalikkan keadaan. sayangnya, aku terjebak di sana. aku kira, dengan memberimu beberapa kali ujian dapat meyakinkan ku bahwa aku bisa melanjutkan ini denganmu, tapi ternyata semua hanya karena kau butuh tempat untuk berlibur. setelah melihatku, kau hanya butuh pantai. pantai yang akan menyembuhkan rasa lelahmu. kau buat aku seperti sebuah tempat berlibur, setelah waktumu habis, kau akan kembali pulang.

awan, apakah kau sadar.
aku berusaha untuk tidak berfikiran buruk tentangmu. karena kau selalu bilang padaku, "kenapa semua orang selalu berfikiran buruk tentangku." aku mendengar itu dengan baik, dan mencoba memahamimu lebih jauh dari yang kau perkirakan. aku mengamatimu, menulis semua sikap baikmu, berjaga-jaga untuk tidak ikut serta dalam pikiran orang lain. aku selalu mengenalmu dari dirimu sendiri. jika kau dingin, aku maklumi. jika kau suka berbicara tanpa berpikir, aku maklumi. jika kau bilang segala hal adalah bercanda, aku ikuti. aku ikuti semua permainanmu awan, semua sisi dari dirimu aku terima dengan baik. karena aku mengerti, kau memang sangat ingin dimengerti meskipun kau selalu bilang tidak. 
tapi, kenapa awan?
tidak ada satupun sisi yang ku berikan dapat meyakinkanmu. kenapa kau harus berujung mematahkan hatiku sampai remuk?

apa kau tau awan?
di hari terakhir kita berbicara, aku tidak bisa bernafas. aku tidak mengada-ada. dadaku sesak, aku seperti kehilangan oksigen yang selama ini membantuku bernafas. aku tidak tahu kenapa kau begitu merusak segala hal dalam diriku. tiga bulan penuh aku menangisimu dengan kesepian yang akhirnya nyata menyelimutiku. aku berusaha menahan diri, siapa tau kau akan kembali, tapi tidak awan, kau tidak pernah kembali lagi. setiap hari aku melihat mu, kau berpapasan denganku di perjalanan menuju tempat kerjamu. aku yakin kau tidak pernah sadar. setiap hari, jantungku sakit melihat kau baik-baik saja. aku ingin marah awan, tapi besarnya perasaan ku merusak segalanya. 

kau pasti saat ini tertawa membaca betapa berlebihannya tulisan ini. tidak masalah, karena kau tidak pernah merasakan perasaan sebesar ini, terlanjur mempercayai orang yang salah. kau dikecewakan oleh orang yang selama ini kau yakin sangat berbeda, padahal kenyataanya dia jauh lebih buruk. setidaknya kau tau, apa yang ada dalam pikiranku. meskipun kau tidak akan pernah peduli akan pendapat orang lain, tapi satu hal awan, sikapmu menyakiti manusia lain. ku harap, rasa sakit itu dapat menggerogotimu dengan segala cara yang kau pikir takkan pernah menghampirimu.

kali ini, aku tidak ingin mengatakan hal-hal baik untukmu, awan.
semoga, penjara penyesalan melekat dalam nadimu.


love, iti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...