Langsung ke konten utama

menghabiskan waktu

sudut memoriku mulai menutup pelan semua harapan yang pernah ku gantungkan untukmu. jika berbalik ke hari-hari yang lalu, aku tak pernah bisa membayangkan akan mengalaminya sekali lagi. melarikan diri selalu menjadi jalan yang tepat namun tak pernah bisa memuaskanku. aku melukai banyak hati dalam proses melupakanmu. aku meninggalkan mereka di tengah jalan hanya karena mereka tak cukup buatku merasa tenang. suara mereka ribut membicarakan semua ketidakbisaanku bahkan semua yang bisa ku lakukan dalam beberapa hal. mereka bukan tempat yang tepat untuk melihat sisi terbaikku, karena hampir semua dari mereka menilai aku yang saat ini hanya dari balik ponsel itu. aku tak bisa lihat semua kebaikan mereka karena kau sudah tanamkan perih dalam setiap hembusan nafasku. sekencang-kencangnya aku berlari, sebegitu banyak bekas luka yang kau tinggalkan, kau takkan pernah merasakan betapa sulitnya mengapung disaat kau tak mampu berenang. aku begitu tenggelam ke dasar, hingga lupa bagaimana rasanya saling berbagi. aku tak pernah bisa melihat cahaya dari manapun, dari siapapun. 

mereka yang baru datang dalam kehidupanku, berniat untuk melukaiku atau tidak, aku tak pernah merasa begitu mempermasalahkannya. orang-orang datang memang untuk pergi, tapi kau berbeda. seolah aku ingin katakan, kau tak boleh kemana-mana. namun, aku menyadari bersamamu lebih lama lagi akan menyebabkan cedera yang semakin parah. kau hangat hanya saat kau memerlukanku. kau ada ketika aku mulai menutup pintu. kau tak memberiku ruang untuk merasa baik-baik saja, kau membuat aku menderita pada setiap aku mulai berdiri tegak. kau memang perusak suana, tapi aku masih inginkan kau di sini. sekali lagi.

aku menghabiskan waktu bermain-main dengan hati orang lain. ku kira, melakukan hal yang kau lakukan akan jauh membuatku merasa lebih lega, namun yang ku dapat hanya hampa. hingga saat ini, aku menutup semua pintu akses menuju hidupku untuk mereka. untuk sementara, satu-satunya jalan hanya ku berikan untukmu. tapi kau harus ingat, ini tidak berlaku selamanya.


with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...