Langsung ke konten utama

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!”. Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil.

“Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?”

Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri adalah tindakan pengecut—jauh dari norma kemanusiaan.

Di saat itu, aku percaya, memberi cermin pada orang lain adalah hal yang mulia—selama kita tidak lupa bercermin dulu. Karena manusia baik itu relatif. Perbedaan pendapat pun logis. Tetapi menjatuhkan orang lain hanya karena ia memiliki kelemahan yang tampak, adalah bentuk keangkuhan yang membungkus ketidakdewasaan.

Aku menulis semua itu saat aku sendiri masih belajar memahami hidup. Saat logikaku masih keras, saat aku masih sering merasa tidak dimengerti, saat aku ingin didengar tapi belum bisa mendengar. Namun, aku tahu tulisanku saat itu tulus.

Kini, di usia yang tidak muda lagi, aku menyimpan banyak kisah dalam ingatanku. Semua telah kurangkum dalam jurnal pribadi—terlalu banyak untuk dilupakan. Ada kisah bahagia, ada pula kepahitan yang datang silih berganti. Perjalananku sering kali curam dan penuh kerikil. Di masa itu, aku merasa tak sanggup menjalaninya. Namun benar kata orang tua dulu, waktu adalah penyembuh yang paling setia.

Saat menoleh ke belakang, aku melihat bagaimana setiap rasa sakit yang dulu kuhadapi dengan amarah dan ledakan emosi, kini kupandang dengan kepala dingin. Dulu aku menuntut penjelasan atas setiap pengkhianatan. Sekarang, aku memilih membiarkannya berlalu.

“Aku pernah menjadi anak yang dipenuhi amarah. Tapi waktu mengubahku. Aku tidak lagi memusingkan apa yang dikatakan orang lain. Aku menemukan ‘rumus’ hidup tenang: jangan memberi ruang dalam hatimu untuk hal-hal yang tak memberi nilai.”

Dan itu yang aku lakukan. Aku hanya akan berbicara jika ada ajakan mediasi. Jika tidak, biarlah ketidaksukaan mereka terhadap caraku berpikir, berbicara, atau menyelesaikan masalah tetap menjadi urusan mereka sendiri. Fokusku sekarang adalah berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang ingin bertumbuh bersamaku—mereka yang ingin hidupnya lebih baik setiap harinya.

Kini, aku enggan berada di tengah lingkaran orang-orang yang menjadikan luka lama sebagai identitas. Aku percaya, manusia bebas berbicara, berekspresi, dan memberi kritik. Tapi kebebasan pun ada batasnya: batas tanggung jawab.

Tapi hanya mereka yang menyimpan dendam yang akan merasa terganggu saat pikirannya berbeda dengan orang lain. Hanya orang-orang yang belum selesai dengan dirinya yang merasa perlu mencari sekutu untuk memvalidasi luka mereka. Manusia dewasa, seharusnya, menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, bukan dengan membentuk kubu.

Ada satu kalimat yang pernah mereka lontarkan: “Jangan lupa bercermin, agar tak lupa wujudmu sendiri.” Aku terdiam, lalu teringat nasihat ibuku: “Jangan menunjuk buruk orang lain, karena satu jari menuding ke mereka, dan empat sisanya menunjuk ke diri kita.”

Kalimat itu melekat di benakku. Ingin rasanya membalas mereka—tapi untuk apa? Toh kaca yang terlalu buram takkan membuatmu benar-benar melihat dirimu sendiri.

Dalam perjalanan ini, aku banyak belajar dari teman-temanku. Ada yang memberi masukan atas sikap atau tindakan yang menurut mereka kurang tepat. Dan kupelajari, bahwa menerima kritik adalah cara terbaik untuk membersihkan ego. Kita tidak selalu benar. Kadang, pikiran kita justru yang menghalangi kebenaran itu sendiri.

“Kita butuh cermin. Bukan untuk menilai orang lain, tapi untuk bercermin pada diri sendiri.”

Saat kita terus merasa orang lain menyakiti kita, benarkah itu karena mereka jahat? Ataukah karena kita terlalu ingin selalu benar?

Bayangkan jika kita hidup dalam pertemanan yang menolak kritik. Setiap hari akan jadi ajang saling mempertahankan ego. Sangat melelahkan dan tidak sehat. Kritik adalah cermin, bukan palu. Ia menunjukkan, bukan menghancurkan.

Seorang teman pernah berkata, “Carilah orang yang ketika kamu bercerita tentang prinsip hidupmu, dia tidak menjadikannya senjata untuk menjatuhkanmu.” Karena teman yang baik akan memahami bahwa setiap orang punya caranya sendiri dalam menjalani hidup. Ia menyesuaikan diri, bukan mendominasi.

Lalu, bagaimana jika kita berada di antara orang-orang yang di depan tampak ramah, tapi di belakang menyebar opini? Temanku, misalnya, menyukai membaca buku. Ia berbicara dengan kosa kata yang kaya dan jelas. Tapi ada yang menuduhnya sok pintar, bahkan menuduh bahwa dia mencoba mendoktrin orang lain hanya karena kepandaiannya berkata-kata.

Aku hanya bisa tersenyum mendengar itu. Atas dasar apa orang yang suka membaca bisa dikatakan “mencuci otak”? Apakah dengan menyampaikan pendapat yang sejalan dengan orang lain berarti ia mempengaruhi? Hidup tidak sesederhana itu.

“Manusia memang bebas, tapi kebebasan itu punya batas. Kita bebas beropini, tapi tidak untuk mengarang cerita. Kita bebas tidak suka, tapi bukan untuk menjatuhkan.”

Dan pada akhirnya, hidup ini bukan tentang bagaimana orang lain memandang kita,
tetapi tentang seberapa jujur kita menatap diri sendiri—melalui cermin yang jernih, bukan yang buram.

Dari seorang remaja yang dulu menulis karena amarah, kini aku menulis karena telah belajar menerima. Dulu aku ingin dunia tahu bahwa aku benar, kini aku ingin tahu: apa yang bisa kulakukan agar lebih benar sebagai manusia.

Jika kamu butuh cermin, ini ambil.
Semoga pantulannya membuatmu lebih mengenal dirimu sendiri.


with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...