Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak?
Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan?
Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa sempat mengoreksi diri sendiri, kita justru sedang menjauh dari makna kebaikan itu sendiri. Menitikberatkan kelemahan orang lain, merendahkan tanpa empati, adalah tindakan pengecut—jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Manusia memang punya hak untuk berbicara, menyampaikan opini, bahkan mengkritik. Tapi ada batasnya. Saat kritik lahir dari rasa iri, bukan dari niat membangun, itu bukan lagi kritik—melainkan serangan. Rasa iri memang licik. Ia muncul diam-diam, merasuk lewat komentar tajam, ekspresi sinis, atau narasi yang dibalut keangkuhan. Sementara amarah lebih jujur—ia meledak, tapi bisa mereda dan memberi ruang untuk maaf. Iri? Ia menyimpan dendam, ingin melihat yang lain jatuh perlahan, ingin menertawakan luka orang lain tanpa sadar sedang menciptakan luka yang lebih dalam di dirinya sendiri.
Primordialisme sosial—mengelompokkan, menjauhi, bahkan mencoret manusia lain hanya karena berbeda atau sekali berbuat salah—tidak seharusnya masih hidup di ruang pertemanan kita hari ini. Sungguh kekanak-kanakan bila pertemanan ditakar dari seberapa cocok seseorang dengan standar sempit kita. Terlalu sibuk mencari-cari kesalahan dan mengajak orang lain ikut dalam arus celaan hanya akan membuat kita tenggelam dalam lautan kebisingan yang tak produktif. Bukankah melelahkan hidup seperti itu?
Saya menulis ini bukan karena saya manusia paling benar. Tidak. Saya pernah berada di sisi yang salah juga. Pernah tergoda untuk menghakimi, pernah terlalu cepat menyimpulkan, pernah lupa bercermin. Tapi perlahan saya belajar: hidup akan terasa lebih tenang jika kita memilih untuk memahami, bukan menghakimi. Jika kita belajar memberi ruang pada setiap orang untuk mengekspresikan dirinya, tanpa merasa perlu mencela apapun yang tidak sesuai dengan selera kita.
Mari belajar untuk diam sejenak sebelum mengomentari. Belajar melihat dengan mata hati, bukan dengan kacamata penilaian yang kotor. Berhentilah mengukur orang lain dengan penggaris yang tak pernah kita pakai untuk mengukur diri sendiri.
Jika kamu merasa ingin memberikan cermin kepada seseorang, pastikan kamu sudah melihat pantulan dirimu sendiri terlebih dahulu. Siapa tahu, kaca itu justru menunjukkan bayangan yang selama ini tak kamu sadari.
Dan jika kamu butuh cermin, ini, ambil.
with love, itijonas
Komentar