Langsung ke konten utama

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak?

Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan?

Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa sempat mengoreksi diri sendiri, kita justru sedang menjauh dari makna kebaikan itu sendiri. Menitikberatkan kelemahan orang lain, merendahkan tanpa empati, adalah tindakan pengecut—jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Manusia memang punya hak untuk berbicara, menyampaikan opini, bahkan mengkritik. Tapi ada batasnya. Saat kritik lahir dari rasa iri, bukan dari niat membangun, itu bukan lagi kritik—melainkan serangan. Rasa iri memang licik. Ia muncul diam-diam, merasuk lewat komentar tajam, ekspresi sinis, atau narasi yang dibalut keangkuhan. Sementara amarah lebih jujur—ia meledak, tapi bisa mereda dan memberi ruang untuk maaf. Iri? Ia menyimpan dendam, ingin melihat yang lain jatuh perlahan, ingin menertawakan luka orang lain tanpa sadar sedang menciptakan luka yang lebih dalam di dirinya sendiri.

Primordialisme sosial—mengelompokkan, menjauhi, bahkan mencoret manusia lain hanya karena berbeda atau sekali berbuat salah—tidak seharusnya masih hidup di ruang pertemanan kita hari ini. Sungguh kekanak-kanakan bila pertemanan ditakar dari seberapa cocok seseorang dengan standar sempit kita. Terlalu sibuk mencari-cari kesalahan dan mengajak orang lain ikut dalam arus celaan hanya akan membuat kita tenggelam dalam lautan kebisingan yang tak produktif. Bukankah melelahkan hidup seperti itu?

Saya menulis ini bukan karena saya manusia paling benar. Tidak. Saya pernah berada di sisi yang salah juga. Pernah tergoda untuk menghakimi, pernah terlalu cepat menyimpulkan, pernah lupa bercermin. Tapi perlahan saya belajar: hidup akan terasa lebih tenang jika kita memilih untuk memahami, bukan menghakimi. Jika kita belajar memberi ruang pada setiap orang untuk mengekspresikan dirinya, tanpa merasa perlu mencela apapun yang tidak sesuai dengan selera kita.

Mari belajar untuk diam sejenak sebelum mengomentari. Belajar melihat dengan mata hati, bukan dengan kacamata penilaian yang kotor. Berhentilah mengukur orang lain dengan penggaris yang tak pernah kita pakai untuk mengukur diri sendiri.

Jika kamu merasa ingin memberikan cermin kepada seseorang, pastikan kamu sudah melihat pantulan dirimu sendiri terlebih dahulu. Siapa tahu, kaca itu justru menunjukkan bayangan yang selama ini tak kamu sadari.

Dan jika kamu butuh cermin, ini, ambil.


with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...