teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.
Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku
yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur
dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu
kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu
berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku
salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi
cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan
sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku
dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula.
Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi
ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu
hebatnya kata cinta yang ku terima satu dekade itu, musnah bagai ditelan bumi. Aku
yang masih terkungkung kenangan perjalanan cinta hebat itu tersudut melihat
bayangmu sudah menggandeng tangan baru. Aku tertawa kecil, haruskah aku marah
dan merusak semua ini?
Tidak, hatimu sudah ku patahkan berkali-kali. Ya, karena aku hanya ingin
dicintai. Begitu mungkin sejarah akan mencatatnya. Tak apa, aku akan berterus
terang pada akhirnya. Aku mengkhianatimu terlebih dahulu dengan mencintai orang
lain diam-diam. Tidak percaya bahwa kata cinta dari mulutmu waktu itu adalah
benar. Berkali-kali ku rusak hatimu demi menggenapkan perasaanku untukmu. Ternyata
menemukan cara untuk mencintaimu adalah dengan menyakitimu sekaligus. Berkali-kali
kau merasa sakit (katamu) akibat semua keputusanku. Dan ku fikir kau merasa
cukup untuk menutup buku yang sudah kau baca berulang-ulang. Kau sudah
memutuskan, dan kau akan memengang itu selamanya. Bukan hanya aku yang mengubur
mimpi besar itu, kaupun demikian ternyata.
Pada akhirnya kau menyadari, mencintaiku adalah mimpi buruk yang terus
menghantui. Akhirnya kau sadar, aku bukanlah seindah surga yang kau harapkan. Walaupun
berkali-kali telah ku bilang, kau tetap kokoh, namun lihat hari ini kau lebih
bahagia kan?
Bersyukurlah kau, karena aku melepaskanmu. Aku tau, kau teramat sulit
meninggalkanku akibat komitmen yang sudah terlanjur kau buat. Katamu, “hanya
aku lah yang dapat menyelesaikan hubungan ini.“ Lalu ku kabulkan semua
permintaan itu. Aku mundur dan tak lagi merengek padamu untuk diantarkan
pulang. Aku pindah dan tak lagi menghancurkan hatimu. Sekarang kau sudah bisa
bernafas lega dan memilih orang lain yang lebih baik dariku. Aku turut bahagia,
jika pilihanmu dapat membuat perasaanmu kembali utuh. Hapuslah, buanglah, dan
jangan kenang lagi namaku. Karena aku akan menjadi mimpi buruk itu sekali lagi
jika kau mengingatnya. Jangan besitkan pikiranmu untuk melihatku di sini
bersedih, urungkan niatmu untuk memperjelas mimpi-mimpi itu.
Aku bukan lagi perempuan yang harus kau dapatkan cintanya. Karena seperti
yang sudah ku katakan “datangpun kau kembali, aku akan tetap memilihmu.“ Oleh karena
itu, jangan coba-coba memberanikan diri lagi masuk dalam neraka yang telah kau
jalani selama sepuluh tahun ini. Aku tidak ingin kau sengsara akibat
ketidakpandaianmu dalam memilih pasangan hidup. Cukuplah kau sekali melakukan
kesalahan. Cukuplah sekali kau memilihku dengan meninggalkan perempuan lain. Ternyata,
pilihanmu terhadapku tak membuatmu bahagia. Ternyata aku bukanlah pelukan
hangat itu.
Permohonan ini ku buat karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kau
terjebak dalam hatiku yang penuh duri. Perkataanku terlalu tajam untuk hatimu yang
begitu tulus. Kau berhak mendapatkan segala cinta dari semua sisi hidup
perempuan, tapi tidak dengan aku. Cukuplah aku saja yang pada akhirnya mengerti
seperti itu rasanya dicintai sebegitu hebatnya. Berilah orang lain cinta yang
lebih layak. Lupakanlah semua genggaman tangan yang kita taut, mimpi yang
pernah kita rajut. Berhentilah membaca ceritaku yang berisi kenangan tentangmu.
Berhenti berharap aku akan kembali ke sana. Sebesar apapun pada akhirnya aku
menyadari rasa cinta yang tertimbun dalam hatiku ini, aku tak ingin ada kita
lagi.
Di saat terakhir kali aku memutuskan untuk pergi, dengan berat hati, dengan
cinta yang terkunci rapat, aku memang tidak berniat kembali. Ini pilihan yang
menyakitkan tidak hanya untukmu. Bagiku, memutuskan untuk pergi dengan mendadak
adalah jalan pintas demi menyelesaikan semua neraka yang kau rasakan selama
bersamaku. Aku tidak ingin kau menangis lagi karena ulahku yang begitu
mengontrol kehidupanmu. Aku tidak ingin berlama-lama menghalangi masa depanmu
yang cerah. Aku tidak ingin merusak mimpi yang kau bangun untuk dirimu sekali
lagi. Sudah cukup berkali-kali aku jadi pengahalang semua itu. Saatnya aku akan
berhenti egois. Merelakanmu adalah bentuk rasa cinta itu sendiri.
Kita cukup selesai sebagai catatan sejarah bukan masa depan.
With love, itijonas.
Komentar