Langsung ke konten utama

selamat tinggal cinta pertama

Hari ini tepat setahun genap aku kehilanganmu
Hari ini genap semua kesedihanku
Hari ini takkan terulang
Hari ini akan pergi selamanya

Kau yang pernah singgah dihati ini sebentar
Tak terasa masih berbekas hingga kini
Tak terasa mencintaimu masih ingin ku jalani
Walau ku tau rasa sakitnya takkan pernah hilang

Wahai cinta pertama
Terima kasih untuk kasih sayangmu selama ini
Sedetikpun takkan pernah bisa ku lupakan
Walau kenangan itu tak terlalu indah
Tapi masih luar biasa bagiku untukku mencintaimu

Wahai cinta pertma
Selamat jalan semoga kau temukan bahagia
Ku doakan jalan mu mencari kebahagiaan
Jangan tanyakan apa aku sanggup
Sungguh jawabannya takkan pernah
Dan takkan pernah sanggup tanpamu
Wahai cinta pertama
Cintai dia yang bisa buatmu bahagia
Jangan tinggalkan dia saat dia masih mencintaimu
Sayangi dia dalam keadaan apapun
Terima kekurangannya dan ajarkan dia tentang cinta

Wahai cinta pertama
Walaupun hatiku sudah rusak tanpamu
Tapi hati ini akan selalu setia mencintaimu
Walaupun aku sudah bersama yang lain
Percayalah kau takkan pernah terganti
Sebagai  cinta pertama ku

Wahai cinta pertama
Jangan pernah lupakan aku
Walau aku pernah menyakiti hatimu
Jangan pernah membenci ku
Walau terkadang aku mengecewakanmu

Cinta pertama
Terima kasih telah menyayangiku
Ku mohon tetaplah mengizinkan ku mencintaimu
Walau ku tak bisa memilikimu
Ku ucapkan ribuan terima kasih cinta pertama


write by @itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...