Langsung ke konten utama

secarik surat kepada kau yang mulai lelah

"aku yang telah melukai mu, aku yang telah meninggalkan mu kini ku rasa cintaku mulai kembali kepada sosok yang selama ini ku buang begitu saja :')"

Dulu akulah yang menjadi penyebab kacaunya semua keadaan ini. Dulu akulah yang menjadi penyebab kebingungan yang kau rasakan setiap harinya. Aku lah yang menelantarkan mu. Aku lah yang tak pernah ingin peduli pada kehidupan mu. Ku acuh kan semua yang pernah kau katakan. Ku abaikan setiap perhatian yang kau berikan. Ku buang semua perasaan yang sempat singgah menyelimuti hatiku. lihatlah gadis yang sempat menjadi seorang monster ini. Gadis yang selalu kau cintai. Gadis yang selalu kau pikirkan. Gadis yang bahkan telah sempat merusak sedikit kebahagiaan mu. Gadis yang telah  menghancurkan perasaan mu hingga kini mungkin. Gadis itu gadis berkaca mata yang sempat kau ukir namanya di hatimu.

Aku sempat meninggalkan mu begitu lama. Pergi dan menghilang begitu jauh. Aku berlari hingga aku berharap  kau takkan pernah temukan ku lagi. Dengan cara itu ku yakin kau akan menghilang. Ternyata kau masih sama. Kau masih menyimpan setiap rasa yang kau berikan seutuh nya padaku. Kau masih merindukan kehadiran ku atau sempat kah kau menangisi kepergianku? jika iya gadis ini sungguh tak pernah pantas untuk memiliki mu kembali. Dan rasa cinta yang sempat ku buang itu luluh setelah sekian lama aku bersembunyi. Aku kembali mencintaimu dan entah mengapa ini lebih dari apa yang ku bayangkan. Semua memang begitu tiba-tiba tapi tetaplah ini nyata. Aku tak harus meyakinkan mu untuk mempercayai semua ini. Aku tak akan mengajak mu untuk kembali melihat perasaan ini. Karena aku menyadari kau telah lama terluka karena ku. Karena aku mengerti betapa lelahnya dirimu saat ini.

Untuk kamu yang kini telah lelah, aku begitu menyesal atas semua perlakuan ku. Aku begitu meminta maaf atas semua yang pernah menyakiti mu. Aku memang tidak pantas untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu kembali. Bahwa aku sesungguhnya mengharapkan mu kembali. Tapi sudahlah, tak usah kau pikir kan apa mau ku itu. Aku hanya ingin mengatakan padamu, cinta yang tiba-tiba ini masuk kedalam pikiran ku dan kembali menghantui setiap malam ku. Kau yang telah menyimpan semua kenangan yang dulu kau sebut itu dengan cinta, yang dulu hanya sempat kau rasakan sebelah tangan, kini telah kurasakan bagaimana sakitnya berada dalam keadaan seperti ini. Aku menyesal telah membiarkan mu pergi dan mencari hati yang lain dan kini kau telah temukan dia disana yang begitu mengasihi mu. Dia yang begitu menaruh harapan terhadapmu. Dia sungguh beruntung memiliki lelaki seperti mu.
untuk kamu yang semakin lelah, lupakan saja semua yang pernah kau rasakan. Lupakan bahwa kau telah mencintai ku. Kini biarkan aku tanggung semua beban yang kau rasakan. Biarkan aku yang menjalani semua keadaan yang telah ku perbuat. Aku biarkan kau pergi mencari hati yang lain saat ini. Ku biarkan kau menjalani hari sesukamu tapi bisa kah aku memohon satu harapan? "tetaplah mencintai ku sebagaimana yang pernah kau rasakan, tetaplah mengingat ku dan kembalilah kepadaku disaat dunia sudah tidak menjadi sebuah masalah ketika kita bersama." kenang lah pintaku dalam jiwa mu.
dan kembali untuk mu yang kini telah lelah, hadiahkan lah kepadaku sebuah senyum yang akan selalu kau berikan pada ku. hadirkan lah kepadaku sebuah lagu yang tertulis untuk ku. Tinggalkanlah semua kenangan yang sempat menyakiti mu. Lupakan lah sejenak beban yang kerap kali menghantam batinmu. Tapi untuk saat ini ku mohon beradalah disisi nya dengan baik. Tersenyum lah padanya seolah kau tersenyum padaku. Bernyanyi lah untuknya layaknya kau menyanyikannya untukku. Karena waktu kita telah habis untuk saat ini. Karena aku sudah terlambat meyakinkan hatiku sendiri. Jika masih ada kesempatan dan masih ada ruang untuk kita di masa depan pastikan padaku bahwa aku akan menunggu mu disana. Kau tau aku akan pergi mungkin dalam jarak waktu yang lama, jarak dan ruang yang akan membedakan kita. Di saat itulah kau dan aku takkan bisa bertemu lagi. Janjikan padaku bahwa kau adalah lelaki yang terbaik yang pernah ku miliki dan yang pernah ku sakiti. Jadilah lelaki yang selalu belajar dari kegagalan seperti lelaki yang ku kenal dulu. Bersemangat lah menggapai mimpi. Jika ruang itu terbuka untuk kita nanti pasti kan aku akan kembali meminta mu untuk menjelaskan segalanya. Segala yang membuat ku pergi segalanya yang membuatku ingin kembali dan segalanya yang membuat ku sejenak berjarak padamu.

Alasanku membuat tulisan dengan beberapa paragraf yang tak mungkin di mengerti oleh orang lain ini, hanya untuk sekedar menyampaikan apa yang kini kurasakan padamu. bahwa aku begitu mencintaimu dan karena itu ku izinkan kau pergi bersamanya. Takkan ku ganggu ketentraman yang menyelimuti hubungan kalian. Aku disini  juga akan berjuang. Semoga kau disana berbahagia bersamanya tapi ketika kau merasa tak nyaman akan sesuatu dan jika kau butuhkan aku untuk bercerita datanglah aku akan ada untukmu untuk saat ini sebagai sahabatmu :')



with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...