"jangan sebut ini perasaan yang berbeda ataupun sama. jangan deskripsikan ini sebagai hal yang dalam ataupun dangkal. aku tidak mengerti berada di mana, hanya saja aku ingin menjelaskan sedikit; ku temukan lirikku dari namamu"
tidak ada hal yang dapat di jelaskan logika saat ini. perasaan hanya mutlak tentang perasaan. berbalas ataupun tidak itu urusan belakangan. hanya saja, keteguhan hati sudah terlalu terbentuk sejak pengalaman bodoh yang terhasil.
hanya ada beberapa alasan aku seperti ini, haruskah aku jelaskan? sudahlah kali ini tak perlu ku ucapkaan. kau sudah membuat ku menulis kembali setelah aku lelah menuliskan hari-hari dalam lembaran-lembaran kertasku yang sudah usang. kau tak banyak membuatkan aksi, tapi hasil yang mengirimkan sinyal pada tanganku untuk terus menulis. kali ini dengan tema yang berbeda. aku menenukan irama ketika mengagumi mu, entah itu dalam bentuk apa aku hanya menulisnya dengan lincah, tarian dari pena hitamku sudah terlalu banyak berkutat dengan namamu. sulit? kurasa tidak. aku tidak jatuh cinta, aku hanya mengagumimu. itu cukup. aku berterima kasih sudah membangkitkan rasa yang sempat hambar. walaupun tak banyak yang bisa kulakukan.
setelah beberapa waktu ini apa kita sudah saling mengenal? kurasa hanya sekedar nama yang tergantung di ingantan masing-masing. tidak mengapa, aku tidak berniat berjalan keluar dari jalur yang sudah tersedia. aku hanya merenggangkan perasaan yang sedikit banyak mulai kau isi. pelan-pelan, aku mengerti perasaan ini tak bermuara, tidak akan. aku menghentikannya sebelum iya berlayar terlalu jauh. apakah benar deskripsiku?
kita tidak dari tanah sama. dalam waktu singkat seperti ini tidak akan ada yang tumbuh, dan aku mengerti, gugurnya pepohonan di kota Aachen ini bisa menyaksikan bagaimana sekeping hati yang sudah usang menanti hidup kembali. tak kunjung. kau juga sadar, hadirmu dan dirimu. datar yang kau sebutkan itu sudah cukup menjelaskan berbagai rincian hidupmu selanjutnya. tidak ada cakupan namaku dalam nada mu. sebongkah batu akan rapuh pada akhirnya. iya, aku akan rapuh dalam waktu yang singkat seperti pengertian yang mengiang di otakmu.
4 lirik dengan irama standar ini sudah selesai, masih ada beberapa lagi yang belum sempat ku temukan iramanya. dari namamu, aku bisa mengaplikasikan perasaanku dalam hal positif, namamu membuatku tak berhenti menulis dan terus mencari rangkaian kisah baru. namamu, membuatku memaknai betapa berharganya sebuah pemikiran. iya, ku temukan lirikku dari namamu dan akan selalu begitu.
hello wisteria, kau akan mendengarkannya kelak, rangkaian tulisan yang sudah ku siapkan. suatu hari yang entah bernama apa, aku akan memperdengarkannya, memperlihatkannya. saat ini, tak ada satupun yang bisa membuatku berani mengatakan yang sebenarnya, menyimpan namamu, dalam relungan yang kelam sudah cukup. tidak akan ku jelaskan dengan dalam lagi, kau sudah berhasil merebut inspirasiku, karena sudah ku temukan lirikku dari namamu, Wisteria.
late post, write by @istiqasuwondo
Komentar