sebenarnya ini bukan tentang kepergianmu
bukan juga karena perpisahan perih yang menyayat relungku
hanya saja, kini cerita sudah tak lagi bercerita
termakan waktu, tergilas hari, kau dan aku
dempuran masa lalu menguatkan tanganku menulis untuk kesekian kali
bukan, bukan karena aku menangisimu
ataupun karena kau menyesakkan ulu hatiku.
tapi, ini tentang bagaimana kau yang pernah kutulis di hati
kali ini, sudah ke tiga kalinya aku menuliskan hal serupa
bukan karena aku tak melupakanmu, bukan
ataupun karena kau telah menghapus memori tentangku
hanya saja kau terlalu sulit untuk terlupa
yang pertama,
di sudut gedung tinggi itu aku terkejut mendapatimu menunggu
mendorongku mengikuti pijakanmu
terlintas debaran dahsyat saat kata cinta menguap
membuatku tak tidur semalaman
tapi yang kedua,
di sudut gedung tinggi itu aku berdiri sendiri
menghamparkan pandangan ke atas awan
meneteskan air mata kerinduan yang begitu dalam
hanya dengan sebelah tangan aku menyentuh bayanganmu, kala itu
seterusnya yang ketiga,
kembali pada sudut gedung itu lagi-lagi aku berdiri
tak meratapi, tapi mengiba akan hatiku
tak meneteskan air mata, karena aku telah terbiasa menghapusnya
ku sentuh lagi bekas bayangmu, bayang yang telah lama pudar
sampai pada akhirnya yang keempat,
aku tak lagi menuju gedung tinggi itu
aku tak menangisi lampauan cerita sayu dulu
hanya, aku menuliskanmu buku kedua setelah yang pertama
bukan mengenai rasa rindu, melaikan rasa melepasmu
ini bukan penyesalan terdalamku
aku berusaha merombak atmosfer gelap yang selama ini menyelimuti
bukan, bukan aku ingin menghancurkan apa yang telah bersamaku
karena kau tau, kenangan takkan pernah berubah,
hanya saja ia sesekali ia tak ingin pulang kerumah
disaat kau sibuk mencari pelabuhan selanjutnya
mengembangkan senyum indahmu pada banyak wanita
kau sudah tau, saat itu rasanya seperti di terjang ombak
bak tak bergravitasi lagi, melayang diterbangkan angin musim gugur
kau sudah tau, itu cerita dulu yang sudah tertutup waktu
itu cerita yang sudah berakhir dimakan masa
kau juga paham, takkan ada manusia yang ingin menggunakan tali putus
kita semua juga sadar, tali baru lebih kuat jika digunakan
jangan baca ratapanku di masa lalu, aku sudah tak begitu
kini yang tersisa hanya kau sebagai kenangan manis yang sudah tertutup
karena sebagaimanapun kita mencoba mengulang, takkan ada hasilnya
karena kita dan semua rasa itu sadar, kita sudah tak memiliki alur
jangan bicarakan cinta hari ini, dan selanjutnya
itu hanya dapat menyakiti masa lalu yang sudah tentram
ada baiknya aku selesai menaruh harapan besar waktu itu
hari ini tentang hanya cerita yang tersisa bak catatan sejarah
karena tak ada harapan untuk mencari
tak ada air dan api yang menyatu
tak ada hujan tanpa mendung
yang ada hanya kesetiaan yang sudah melelahkan diri
bukan juga karena perpisahan perih yang menyayat relungku
hanya saja, kini cerita sudah tak lagi bercerita
termakan waktu, tergilas hari, kau dan aku
dempuran masa lalu menguatkan tanganku menulis untuk kesekian kali
bukan, bukan karena aku menangisimu
ataupun karena kau menyesakkan ulu hatiku.
tapi, ini tentang bagaimana kau yang pernah kutulis di hati
kali ini, sudah ke tiga kalinya aku menuliskan hal serupa
bukan karena aku tak melupakanmu, bukan
ataupun karena kau telah menghapus memori tentangku
hanya saja kau terlalu sulit untuk terlupa
yang pertama,
di sudut gedung tinggi itu aku terkejut mendapatimu menunggu
mendorongku mengikuti pijakanmu
terlintas debaran dahsyat saat kata cinta menguap
membuatku tak tidur semalaman
tapi yang kedua,
di sudut gedung tinggi itu aku berdiri sendiri
menghamparkan pandangan ke atas awan
meneteskan air mata kerinduan yang begitu dalam
hanya dengan sebelah tangan aku menyentuh bayanganmu, kala itu
seterusnya yang ketiga,
kembali pada sudut gedung itu lagi-lagi aku berdiri
tak meratapi, tapi mengiba akan hatiku
tak meneteskan air mata, karena aku telah terbiasa menghapusnya
ku sentuh lagi bekas bayangmu, bayang yang telah lama pudar
sampai pada akhirnya yang keempat,
aku tak lagi menuju gedung tinggi itu
aku tak menangisi lampauan cerita sayu dulu
hanya, aku menuliskanmu buku kedua setelah yang pertama
bukan mengenai rasa rindu, melaikan rasa melepasmu
ini bukan penyesalan terdalamku
aku berusaha merombak atmosfer gelap yang selama ini menyelimuti
bukan, bukan aku ingin menghancurkan apa yang telah bersamaku
karena kau tau, kenangan takkan pernah berubah,
hanya saja ia sesekali ia tak ingin pulang kerumah
disaat kau sibuk mencari pelabuhan selanjutnya
mengembangkan senyum indahmu pada banyak wanita
kau sudah tau, saat itu rasanya seperti di terjang ombak
bak tak bergravitasi lagi, melayang diterbangkan angin musim gugur
kau sudah tau, itu cerita dulu yang sudah tertutup waktu
itu cerita yang sudah berakhir dimakan masa
kau juga paham, takkan ada manusia yang ingin menggunakan tali putus
kita semua juga sadar, tali baru lebih kuat jika digunakan
jangan baca ratapanku di masa lalu, aku sudah tak begitu
kini yang tersisa hanya kau sebagai kenangan manis yang sudah tertutup
karena sebagaimanapun kita mencoba mengulang, takkan ada hasilnya
karena kita dan semua rasa itu sadar, kita sudah tak memiliki alur
jangan bicarakan cinta hari ini, dan selanjutnya
itu hanya dapat menyakiti masa lalu yang sudah tentram
ada baiknya aku selesai menaruh harapan besar waktu itu
hari ini tentang hanya cerita yang tersisa bak catatan sejarah
karena tak ada harapan untuk mencari
tak ada air dan api yang menyatu
tak ada hujan tanpa mendung
yang ada hanya kesetiaan yang sudah melelahkan diri
"karena hati, akan mencari jalan yang lebih indah. -iti"
![]() |
| karena ini telah menjadi akhir |
ditulis di kota Aachen, Germany, 24 Januari 2014
teruntuk seseorang yang mengingat ini
with love,
Annisa Istiqa Suwondo

Komentar