Langsung ke konten utama

puisi terakhir untuk 24 Januari

sebenarnya ini bukan tentang kepergianmu
bukan juga karena perpisahan perih yang menyayat relungku
hanya saja, kini cerita sudah tak lagi bercerita
termakan waktu, tergilas hari, kau dan aku

dempuran masa lalu menguatkan tanganku menulis untuk kesekian kali
bukan, bukan karena aku menangisimu
ataupun karena kau menyesakkan ulu hatiku.
tapi, ini tentang bagaimana kau yang pernah kutulis di hati

kali ini, sudah ke tiga kalinya aku menuliskan hal serupa
bukan karena aku tak melupakanmu, bukan
ataupun karena kau telah menghapus memori tentangku
hanya saja kau terlalu sulit untuk terlupa

yang pertama,
di sudut gedung tinggi itu aku terkejut mendapatimu menunggu
mendorongku mengikuti pijakanmu
terlintas debaran dahsyat saat kata cinta menguap
membuatku tak tidur semalaman

tapi yang kedua,
di sudut gedung tinggi itu aku berdiri sendiri
menghamparkan pandangan ke atas awan
meneteskan air mata kerinduan yang begitu dalam
hanya dengan sebelah tangan aku menyentuh bayanganmu, kala itu

seterusnya yang ketiga,
kembali pada sudut gedung itu lagi-lagi aku berdiri
tak meratapi, tapi mengiba akan hatiku
tak meneteskan air mata, karena aku telah terbiasa menghapusnya
ku sentuh lagi bekas bayangmu, bayang yang telah lama pudar

sampai pada akhirnya yang keempat,
aku tak lagi menuju gedung tinggi itu
aku tak menangisi lampauan cerita sayu dulu
hanya, aku menuliskanmu buku kedua setelah yang pertama
bukan mengenai rasa rindu, melaikan rasa melepasmu

ini bukan penyesalan terdalamku
aku berusaha merombak atmosfer gelap yang selama ini menyelimuti
bukan, bukan aku ingin menghancurkan apa yang telah bersamaku
karena kau tau, kenangan takkan pernah berubah,
hanya saja ia sesekali ia tak ingin pulang kerumah

disaat kau sibuk mencari pelabuhan selanjutnya
mengembangkan senyum indahmu pada banyak wanita
kau sudah tau, saat itu rasanya seperti di terjang ombak
bak tak bergravitasi lagi, melayang diterbangkan angin musim gugur

kau sudah tau, itu cerita dulu yang sudah tertutup waktu
itu cerita yang sudah berakhir dimakan masa
kau juga paham, takkan ada manusia yang ingin menggunakan tali putus
kita semua juga sadar, tali baru lebih kuat jika digunakan

jangan baca ratapanku di masa lalu, aku sudah tak begitu
kini yang tersisa hanya kau sebagai kenangan manis yang sudah tertutup
karena sebagaimanapun kita mencoba mengulang, takkan ada hasilnya
karena kita dan semua rasa itu sadar, kita sudah tak memiliki alur

jangan bicarakan cinta hari ini, dan selanjutnya
itu hanya dapat menyakiti masa lalu yang sudah tentram
ada baiknya aku selesai menaruh harapan besar waktu itu
hari ini tentang hanya cerita yang tersisa bak catatan sejarah

karena tak ada harapan untuk mencari
tak ada air dan api yang menyatu
tak ada hujan tanpa mendung
yang ada hanya kesetiaan yang sudah melelahkan diri

"karena hati, akan mencari jalan yang lebih indah. -iti" 

karena ini telah menjadi akhir




ditulis di kota Aachen, Germany, 24 Januari 2014
teruntuk seseorang yang mengingat ini


with love,
Annisa Istiqa Suwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...