Langsung ke konten utama

Kamu

love of my love you hurt me, you've broken my heart and now you leave me. Love of my life can't you see, bring it back, bring it back don't take it away from me. Because you don't know, what it means to me - Queen

seharusnya, hatiku tak bermain-main dalam duniamu sejak lama. iya, seharusnya aku sudah sejak lama menghapus semua jejak yang membuatku luka, membuatku menitikkan air mata. iya, itu keseharusannya. tapi, aku memang tak pernah berdaya dengan perasaan. otakku memang selalu kalah dengan hati. memang, kali ini jika itu tentangmu hatiku menjadi pemerintah nomer satu untuk seluruh anggota tubuhku. aku gampang saja menangis jika itu mengingat kenanganmu, aku bisa saja seketika tertawa melihat senyummu, yang walau bukan teruntuk padaku. duniaku bisa saja dalam sekejap mendung mendengar segala kicauan burung tentang perasaanmu terhadapku, bahkan sekejap bisa menjadi terang dan cerah melihat kau menuliskan kalimat indah yang membuatku bahagia, walau itu bukan kau tuliskan untukku. kau memang paling bisa memutar balikkan keadaan hatiku secara bersamaan.

apa selama ini kau tahu, duniaku hanya berputar pada namamu dan kenanganmu saja. apa kau tau, jika hari ini ku putuskan untuk menghapus memori tentang hadirnya dirimu dalam hidupku, belum tentu besok aku akan melakukan hal yang sama. apa kau tau, bagaimana rasanya memiliki rasa rindu yang selalu tersimpan? mungkin aku berani mengungkapkannya, jika itu hanya sekedar candaan, iya aku berani. apa kau tahu bagaimana rasanya memiliki rasa seperti ini? rasa yang kerap kali membuatmu terlihat begitu bodoh. rasa yang mempermainkan hatimu berkali-kali. rasa yang menusuk ulu hatimu begitu dalam. apa kau tahu?

aku tak menyalahkanmu, aku tak menyalahkan keadaan, bahkan aku tak menyalahkan apapun. aku merasakan hatiku begitu jatuh padamu tanpa basa-basi. iya, memang seperti itu keadaannya. apa kau tahu, banyak orang diluar sana menilaiku bodoh karena menyimpan sesuatu yang mustahil dalam hidupku, banyak orang diluar sana yang beranggapan aku begitu kuat menutupi segala rasa perih yang tiap detik menyergap hari-hariku, mereka katakan aku sudah kebal pada suasana hati yang melow, mereka katakan aku sudah cukup kuat pada pengalaman yang begitu lama menimpa. bahkan mereka beranggapan, hatiku, rasaku, pengharapanku, tak sebesar yang terlihat. itu kata mereka. yang melihat kehidupanku. hanya melihat aku menjalani hari, bukan ikut bersamaku merasakan apa yang kurasa. karena, setiap manusia memiliki cerita dan rasa yang berbeda. takkan pernah bisa sama, jikapun itu membandingkan satu perasaan dengan perasaan lain. takarannya takkan pernah ada yang sama.

sejak dulu aku selalu katakan pada buku harianku, agar kelak kau mengerti hatiku. "tolong jangan buat aku menyerah padamu". tapi berkali-kali pula kau buat keadaan yang membuat aku harus menyerah padamu. menyerah bahwa hatiku takkan pernah lagi berbalas. aku ingin bertanya padamu, adakah perempuan lain yang menggilaimu selain aku? adakah mereka mengharapkanmu untuk berbalik arah lagi? adakah mereka menaruh harapan begitu besar untukmu? jika ada, berarti bukan aku satu-satunya yang terluka karena mengharapkanmu begitu banyak. berarti bukan aku satu-satunya yang akan membuatmu heran akan perasaan yang begitu besar. bukan aku satu-satunya ternyata. dan seharusnya kau sadar betapa beruntungnya kamu bertemu dan digilai oleh wanita selain aku.

haruskah aku menyerah sekarang, setelah sekian lama? haruskah aku mencari celah baru untuk menutupi harapan kosong selama ini? tapi kau tau apa hal yang ku takutkan jika aku benar melakukannya? "aku takut, jika aku harus berkata "tidak" untukmu". apa ini terlalu konyol? apa ini akan terjadi? aku yang terlalu mengkhayalkan kenangan itu akan indah, aku yang terlalu menata rapi segala harapan kosong, hingga aku tahu, kekosongan itu takkan pernah lagi terisi. tak akan. pernah terbesit dalam pikiran ku untuk menyerah, benar-benar menyerah. tapi, senyumanmu terlalu kuat untuk tidak menyetujui pemikiranku. sudah ku katakan, aku lemah jika kau datang padaku sambil tersenyum. aku lemah, aku menyerah untuk mencoba menyerah padamu.



late post,
write by @aistiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...