love of my love you hurt me, you've broken my heart and now you leave me. Love of my life can't you see, bring it back, bring it back don't take it away from me. Because you don't know, what it means to me - Queen
seharusnya, hatiku tak bermain-main dalam duniamu sejak lama. iya, seharusnya aku sudah sejak lama menghapus semua jejak yang membuatku luka, membuatku menitikkan air mata. iya, itu keseharusannya. tapi, aku memang tak pernah berdaya dengan perasaan. otakku memang selalu kalah dengan hati. memang, kali ini jika itu tentangmu hatiku menjadi pemerintah nomer satu untuk seluruh anggota tubuhku. aku gampang saja menangis jika itu mengingat kenanganmu, aku bisa saja seketika tertawa melihat senyummu, yang walau bukan teruntuk padaku. duniaku bisa saja dalam sekejap mendung mendengar segala kicauan burung tentang perasaanmu terhadapku, bahkan sekejap bisa menjadi terang dan cerah melihat kau menuliskan kalimat indah yang membuatku bahagia, walau itu bukan kau tuliskan untukku. kau memang paling bisa memutar balikkan keadaan hatiku secara bersamaan.
apa selama ini kau tahu, duniaku hanya berputar pada namamu dan kenanganmu saja. apa kau tau, jika hari ini ku putuskan untuk menghapus memori tentang hadirnya dirimu dalam hidupku, belum tentu besok aku akan melakukan hal yang sama. apa kau tau, bagaimana rasanya memiliki rasa rindu yang selalu tersimpan? mungkin aku berani mengungkapkannya, jika itu hanya sekedar candaan, iya aku berani. apa kau tahu bagaimana rasanya memiliki rasa seperti ini? rasa yang kerap kali membuatmu terlihat begitu bodoh. rasa yang mempermainkan hatimu berkali-kali. rasa yang menusuk ulu hatimu begitu dalam. apa kau tahu?
aku tak menyalahkanmu, aku tak menyalahkan keadaan, bahkan aku tak menyalahkan apapun. aku merasakan hatiku begitu jatuh padamu tanpa basa-basi. iya, memang seperti itu keadaannya. apa kau tahu, banyak orang diluar sana menilaiku bodoh karena menyimpan sesuatu yang mustahil dalam hidupku, banyak orang diluar sana yang beranggapan aku begitu kuat menutupi segala rasa perih yang tiap detik menyergap hari-hariku, mereka katakan aku sudah kebal pada suasana hati yang melow, mereka katakan aku sudah cukup kuat pada pengalaman yang begitu lama menimpa. bahkan mereka beranggapan, hatiku, rasaku, pengharapanku, tak sebesar yang terlihat. itu kata mereka. yang melihat kehidupanku. hanya melihat aku menjalani hari, bukan ikut bersamaku merasakan apa yang kurasa. karena, setiap manusia memiliki cerita dan rasa yang berbeda. takkan pernah bisa sama, jikapun itu membandingkan satu perasaan dengan perasaan lain. takarannya takkan pernah ada yang sama.
sejak dulu aku selalu katakan pada buku harianku, agar kelak kau mengerti hatiku. "tolong jangan buat aku menyerah padamu". tapi berkali-kali pula kau buat keadaan yang membuat aku harus menyerah padamu. menyerah bahwa hatiku takkan pernah lagi berbalas. aku ingin bertanya padamu, adakah perempuan lain yang menggilaimu selain aku? adakah mereka mengharapkanmu untuk berbalik arah lagi? adakah mereka menaruh harapan begitu besar untukmu? jika ada, berarti bukan aku satu-satunya yang terluka karena mengharapkanmu begitu banyak. berarti bukan aku satu-satunya yang akan membuatmu heran akan perasaan yang begitu besar. bukan aku satu-satunya ternyata. dan seharusnya kau sadar betapa beruntungnya kamu bertemu dan digilai oleh wanita selain aku.
haruskah aku menyerah sekarang, setelah sekian lama? haruskah aku mencari celah baru untuk menutupi harapan kosong selama ini? tapi kau tau apa hal yang ku takutkan jika aku benar melakukannya? "aku takut, jika aku harus berkata "tidak" untukmu". apa ini terlalu konyol? apa ini akan terjadi? aku yang terlalu mengkhayalkan kenangan itu akan indah, aku yang terlalu menata rapi segala harapan kosong, hingga aku tahu, kekosongan itu takkan pernah lagi terisi. tak akan. pernah terbesit dalam pikiran ku untuk menyerah, benar-benar menyerah. tapi, senyumanmu terlalu kuat untuk tidak menyetujui pemikiranku. sudah ku katakan, aku lemah jika kau datang padaku sambil tersenyum. aku lemah, aku menyerah untuk mencoba menyerah padamu.
late post,
write by @aistiqasuwondo
Komentar