Langsung ke konten utama

semua mereka akan berubah

Perubahan.

Defenisinya masing-masing kita pasti tahu itu apa. Entah kita atau mereka yang kita kenal berubah dan tidak lagi seperti yang kita kenal atau mungkin mereka yang tak lagi mengenal siapa kita. Perubahan memang datang dengan sangat cepat, mengambil semua memori yang dulu terasa indah. Ketika mengingatnya, kadang ada sebercik api rindu dan saat itu kita hanya bisa berkata 'itu masa lalu'. Perubahan juga merenggut banyak hal indah dari hidup kita. Lebih gampang, melihat teman sekolah yang dulu mengenal kita, seolah kita tak lagi ada dalam bagiannya. Atau melihat teman-teman karib yang mungkin sudah menurunkan kita menjadi prioritas ke sekian dalam daftar pertemanannya, yang pasti wajar semua diganti dengan wajah baru.

Tidak ada yang bisa disalahkan. Perpisahan memang harus terjadi dan perpisahan itu membawa perubahan pada setiap insan yang mengalaminya. Tak lagi kenal siapa sahabatnya, bahkan siapa pengisi hatinya. Dengan mudah perubahan mengubah orang-orang yang kita kasihi. Orang-orang dengan mudah mengucap rindu dan ingin segera bertemu. Namun, saat waktunya tiba semua sibuk pada dunia masing-masing. Tidak ada lagi topik yang menarik untuk dibahas, semua terasa menjadi tidak nyambung. Setelah pertemuan pertama sesudah berpisah yang terjadi adalah hilang kontak.

Dan, saat dimana semua sudah terasa begitu jauh, seseorang akan berkata begini "wah, dapat teman baru teman lama dilupakan nih." atau "sombong banget sekarang". Kadang ucapan lazim itu mampu menyayat pemilik hati yang sendu. Namun, apa yang dapat dikatakan selain "kan sekarang udah jarang ketemu".
Ini yang terjadi dan pasti terjadi pada setiap insan yang berpisah dengan orang-orang terkasih. Yang sudah siap melihat mereka mendapatkan hidup baru, teman baru, petualangan baru yang mereka dapat yang tidak bisa dibandingkan dengan 'kamu'. Iya hanya seorang 'kamu' yang sempat hadir mengisi sedikit kenangan mereka yang mungkin juga tidak terlalu berarti. Hidup baru dengan dikelilingi orang-orang yang jauh lebih lucu dari kamu, lebih pintar dari kamu, lebih cantik/tampan dari kamu, atau lebih asyik di ajak ngobrol dari pada kamu. Semua itu pasti terjadi!

Apalagi di era super canggih seperti sekarang. Pertemanan hanya sebatas sosial media. Akrab setengah mati di media sosial, namun setelah bertemu 'quality time' itu hanya sekedar status yang harus di update, kenyataannya percakapan yang terjadi malah membahas hal-hal yang tidak penting. Setelah itu berfoto, layaknya ini adalah momen yang akan di abadikan. Dua minggu setelah pertemuan, foto tadi terhapus karena memori handphone penuh. Begitu saja, tidak ada kenangan yang berarti setelah berpisah. Semua berbeda, tidak lagi mengenal seperti biasanya.

Pernah mendengar orang berbicara seperti ini "sesuatu yang baru itu memang lebih meyenangkan". Memang, menjalani hidup yang baru memang lebih indah, dan dengan tidak sadar, kita perlahan melupakan sesuatu yang lama, hanya bisa diingat ketika otak ingin saja. Bertanya 'apa kabar?' lalu menghilang lagi. Permainan dunia hanya seperti itu saja. Bagaimana pun kamu, siapa pun kamu, sadar atau tidak sadar pun kamu, kamu akan mengalami hal itu dan akan melakukan itu. Dan disaat itu kamu akan merasa 'benar-benar sendiri'.

tanpa sadar, kita membuat sesuatu yang lama itu 'rindu'
tanpa sadar, kita membuat sesuatu yang lama itu 'iba'
dan tanpa sadar kita 'melupakan' sesuatu yang lama

Dari kutipan sebuah buku dan film "semua yang ada di dunia ini mudah kadaluwarsa". Awalnya yang tidak percaya ini, perlahan akan percaya. Bahwa cinta, persahabatan, pertemanan akan mudah kadaluwarsa dan diganti dengan sesuatu yang baru.
***

Ketika saya tidak percaya, bahwa pertemanan dan cinta itu akan kadaluwarsa. Akhirnya saya dihadapkan pada fase itu, saat ini.
Dimana semua yang dulu menarik dimata saya, dimana dulu yang membuat saya ingin cepat kembali pulang dan bertemu dengan semua yang saya tinggalkan, dimana semua yang saya simpan dihati dan dimana setiap kenangan indah saya ingat, perlahan memudar. Terlihat ada yang berbeda, bukan ada tapi sudah benar-benar berbeda. Saya tidak lagi mengenal dimana saya mesti berada, saya tak lagi paham pembicaraan apa yang menarik untuk saya bahas dengan mereka, saya tak lagi memiliki perasaan menggebu-gebu ingin bertemu setelah saya sadar, keadaan sudah merubah cara pandang saya.

Dan hati,
saya tidak lagi mengerti harus bertahan atau melepaskan. Dulu saat saya tak merasakan apa-apa, sosok itu hadir membuat saya jatuh cinta padanya. Namun, setelah kepulangan saya, kami bertemu dan dibuatnya saya semakin jatuh cinta. Lalu kami harus berpisah lagi, setelah pertemuan singkat itu entah kenapa semua terasa beda. Semua menjadi dingin. Apa yang salah dengan dia, atau ada yang salah dengan saya? Yang jelas, saat ini saya tidak tahu harus berjalan disisi yang mana. Saya berhenti ditengah. Entah kenapa tiba-tiba saya tidak ingin pulang lagi. Sedikit perasaan negatif saya berbicara, cinta laki-laki itu kepada saya mungkin sudah kadaluwarsa. Dan jika itu memang terjadi, saya akan seratus persen percaya, semua yang ada didunia ini akan kadaluwarsa.

Memang benar, kita tidak bisa mengharapkan manusia akan sama selamanya. Semua akan berubah dan semua akan pergi dari hidupmu, diganti dengan orang-orang yang lebih baik. Mungkin sudah kodratnya, perubahan itu terjadi. Setidaknya saya sadar, ketika saya akan kembali, bersikaplah seolah tidak ada yang berubah.


NB:
makasih buat Raditya Dika yang udah ngasih inspirasi buat menulis ini lewat buku cinta brontosaurus dan koala kumal~

write by @aistiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...