Langsung ke konten utama

sebuah hubungan

perlulah kiranya kita berhenti sejenak dengan sebuah perasaan. mengenai sedang mencintai siapa atau ingin dicintai oleh siapa. terbesit dalam benakku mengenai sebuah hubungan yang diikat oleh banyak kenangan yang terbuang. hal ini, membuat hubungan itu hanyalah sebuah hubungan dengan kenangan. sebatas aku pernah mencintainya di masa lampau dan ia pernah mencintaiku dengan sabar. namun, dalam kenyataan cinta bukanlah semudah itu. ternyata bagiku tak cukup menjadikan kenangan sebagai landasan utama aku mempertahankan. baik kiranya rasa sayang yang terlanjur berlebih ini, tidak untuk disimpan terlalu lama. semua orang berhak mencintai terlalu dalam, tapi tidak untuk melukai dirinya sendiri.

sebuah hubungan yang kerap dijalani penuh api, tak lagi baik untuk dijalani. begitulah kata pepatah. bukankah aku dan dia sedang sama-sama belajar dewasa?

saling meninggalkan bukanlah berarti, kita harus berhenti mencintai. hanya saja, melepaskan berarti kita tau batas apa yang membuat kita harus pergi. bukan perkara perasaan saja yang harus dihitung, melainkan hal-hal kecil yang bisa menjadi penyebab mulainya luka di hati. semua yang terjadi diantara kita adalah sikap diri. kita selalu menyangka kita saling mengerti dengan baik. kita mengira kita sudah saling membutuhkan satu sama lain. ternyata memang benar, hubungan ini terbangun hanya karena kita belajar menebus kesalahan di masa lalu. atau karena kini kita sudah mulai dewasa dan semua isi kepala kita bertabrakan. seolah kita sudah memberi segalanya.

tak ada hubungan yang baik, jika salah satu pihak merasa terluka. bagi seorang perempuan, banyak hal yang bisa membuatnya terluka. tak cuma terhentinya komunikasi saja, melainkan gerak tubuhmu yang tak kau sadari saja bisa melukainya diam-diam. mengutarakan isi hati memang bentuk penyelesaian yang terbaik, tapi percayalah tak pernah ada kejujuran yang utuh dalam percakapan itu. hati akan terus terluka diam-diam karena tak ingin orang yang disayangi ikut terluka. karena imajinasi perempuan itulah yang menyebabkan masalah. seperti aku.


love, itijonas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...