Langsung ke konten utama

sebaiknya berhenti

untuk mencintai dengan sepenuh hati, setiap manusia mungkin bisa melakukannya. melangkah sejauh dunia dan bertahan sedalam samuderapun akan terjadi. tapi, bagaimana jika perasaan itu terlalu membuatmu menjadi manusia lemah, yang tak bisa membahagiakan dirimu sendiri. bahkan disaat kau merasa gundah, kau tak bisa berkutik pada cinta. sementara, kau sibuk menjadi pribadi yang sempurna dengan memberikan segalanya pada seseorang yang tak mampu melihatnya. banyak hal yang terjadi dalam mencintai, seolah semua gemuruh rasa hanya ada untuk dibahagiakan, bukan saling membahagiakan; sebaiknya berhenti, sebelum pisau melukaimu lebih dalam.

teruntuk hati yang mulai lemah, detak jantungmu bukanlah ukuran cinta selamanya. melainkan, bahagia. dalam hidup, setiap manis akan dibalas manis. setiap pahit akan dibalas pahit. jangan sibuk memberi manis untuk menyejahterakan yang lain, sementara detak jantungmu mulai layu dan mengkerut tak kau sadari. belahlah dunia dengan hati yang kuat, menjadikanmu pengembara yang tangguh dalam melawan paksaan terhadap kalimat-kalimat cinta. bangun dirimu dengan tembok setebal angkasa, agar penyakit seperti berpura-pura tegar dapat sirna secepat kilat menyambar.  

mencintailah sewajarnya, agar tak terluka begitu dalam. berharaplah pada batasnya, agar tak jauh melangkah. percayalah sekedarnya, karena semua manusia takkan bisa; memberikan hal yang sama. jangan menjadi yang terbaik untuk orang lain, karena terbaik adalah kata yang terlalu sempurna untuk mendefinisikan seorang manusia yang kerap khilaf. jadilah apa adanya, dengan menghargai setiap waktu dan hembusan nafas yang tersisa.

sebaiknya kau berhenti; pada kalimat kau adalah segalanya.



with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...