Langsung ke konten utama

menjadi dewasa #1 (cerita move on ...)

mengukur kedewasaan biasanya tidak lagi bisa dari umur semata. katanya, zaman sekarang anak kecil bisa dewasa dari umurnya. dan saya setuju jika dewasa itu terbentuk dari pengalaman hidup setiap orang. segala hal yang terjadi dalam hidup seseorang dapat merubah cara pandang seseorang. apalagi, hal-hal tersebut sangat mempengaruhi hidupnya. menjadi dewasa adalah sebuah usaha yang bisa dibilang cukup rumit. dalam fase itu segala bentuk rasa akan saling berbenturan, sehingga mood kita akan secara acak berubah. keadaan seperti itu sangat wajar dialami semua orang. terutama untuk orang-orang dengan pribadi overthinking dan overfeeling. fase ini akan menjadi fase terberat dalam perubahan karakternya.

dalam fase ini, diri sendiri akan merasa muak dengan berbagai keadaan. ia merasa ingin memiliki waktu yang lebih untuk diri sendiri. ia akan merasa semua hal disekitarnya sangat menjengkelkan. ia akan merasa ingin melarikan diri bersama sepi, dan berteman dengan hening. 

fase tersulit yang saya rasakan dimana saya tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata bahwa saya lelah berjalan kesana-kemari. saya tidak bisa mengatakan saya tidak ingin ikut berdiskusi dengan siapapun. fase yang membuat saya masuk dalam keadaan harus memikirkan orang lain. ya, memang seperti itulah yang terjadi dalam sebuah kehidupan. kita belajar mengendalikan apapun yang terjadi dalam diri kita. meski begitu sulit, semua akan berlalu.

jika memang berat, berilah jeda pada dunia sekitar. nikmatilah dirimu sendiri. istirahatlah dengan tenang. namun, jangan berlarut. perjalananmu masih panjang, masih banyak tembok lain yang harus kau panjat. jangan berhenti, hanya karena lelah. jika lelah istirahat setelah itu kembali mendaki.


with love, itijonas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...