Langsung ke konten utama

melipat kenang

sudah seberapa jauh aku berkelana, hingga kelam hanya jadi akhir penantian.
sudah seberapa lama aku memendam, hingga kamu hanyalah kenangan.

musim hujan kali ini, aku mulai memilih untuk kembali kepada aku yang sempat hilang. awalnya aku hanya bilang, aku bosan dengan segala hal tentang hari depan. sepertinya, semua akan sama. semua orang baru dalam hidupku tak cukup mudah untuk menjadi sasaran untuk bersandar. semua orang baru, hanya seperti angin singgah dan berlalu tanpa bisa terlihat. 
musim hujan beberapa tahun lalu, aku memilih untuk menjadi seseorang yang penuh kisah dan kasih. rasanya, menjadi berbeda akan membuatmu berjalan pada ruang yang indah. ternyata, menjadi penuh kasih bukanlah alasan untuk membuat ku merasa puas. aku dikhianati waktu. semesta saat itu seolah-olah menunjukkan bahwa aku kurang cakap menjadi baik-baik saja. 
musim hujan tahun lalu, aku menjadi begitu murung dengan gelapnya hari-hari. seolah gemuruh senantiasa setia menemani perjalananku dari senin hingga minggu. semakin hari semakin tak tertarik dengan udara pagi dan warna senja terlihat semakin masam. kenapa semakin menyebalkan menjalani kehidupan? aku tak sanggup ungkapkan cinta berlebihan lagi, karena mereka yang ku beri cinta tak cukup cakap membalas semua kasih sayang. begitukah manusia ingin sekali mendapatkan perhatian?

namun musim hujan kali ini cukup deras, hingga parit-parit di depan rumah ikut meluap. rasanya, bahagia melepas semua sesak, walaupun masih banyak yang ditahan. pelan-pelan kususuri ruang rindu melihat aku beberapa tahun yang lalu, mengharap banyak pada sesuatu.
rasanya musim hujan kali ini menumpahkan semua isi yang bertahun-tahun membebani. aku memilih mundur menjadi orang penuh kasih. mungkin aku belum sanggup, karena ego yang masih setinggi langit untuk tak mengharap diperlakukan sama. aku masih apatis dan akan selalu begitu. menjadi berbeda, ternyata lebih menyakitkan. melihat orang di sekelilingmu menjadi buas karena kau melunak. ternyata sangat menyakitkan melihat orang-orang di sekitarmu meminta lebih banyak dari yang dia berikan. apakah begini rasanya mengalah?

tapi tampaknya, aku terlalu mudah memutuskan.
aku hanya kurang beruntung, karena tidak menemukan orang-orang dengan frekuensi yang sama. karena tidak menemukan orang-orang yang bisa memahami kurang dibanding lebih. atau aku hanya merasa kurang percaya pada orang-orang sehingga aku tak izinkan mereka untuk mencoba menetap. tapi sepertinya bukan. musim hujan beberapa tahun yang lalu aku adalah deskripsi yang bahagia di mata orang banyak, tapi aku tidak.

dan sepertinya, aku perlu mundur dari banyak hal dan mulai menemukan mereka yang sama.



with love,

iti jonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...