Langsung ke konten utama

menjadi dewasa #2 (cerita menikah ..)

rasanya sudah lama sekali tidak menulis pada laman yang dulu begitu saya gemari, rasanya dulu menulis adalah bagian paling penting dari sisa hari saya. entah kenapa, semakin hari semakin berkurang intensitas terhadap moodbooster yang satu ini. sebenarnya banyak sekali faktor yang menyebabkan saya sedikit lebih mundur pada laman kesayangan ini, salah satunya adalah waktu. semakin berjalannya waktu, saya semakin sibuk dengan urusan dunia, urusan masa depan dan urusan perasaan, sehingga laman ini jadi terbengkalai. ide-ide cemerlang sering hilang karena fokus pada hal yang saya rasa terlalu berat untuk ditulisakan.

memasuki fase hidup yang semakin tua menjadikan saya menyadari sudah berapa lama saya melewati banyak hal. terkadang ketika saya melihat tulisan terdahulu ingin tertawa rasanya, begitu polos dan tulus, penuh semangat dan integritas, rasanya saya ingin bisa menulis dengan hati lagi atau ingin bisa lebih peka melihat situasi agar dapat menciptakan karya yang menarik. dulu awalnya, ketika menulis saya selalu merasa kurang, tapi ada-ada saja yang menyemangati. ada-ada saja yang terinspirasi dari tulisan itu. walaupun tulisan itu saat ini terkesan receh, tapi hal itu yang menjadikan saya selalu ingin menulis. namun sejak tumpukan tugas menghantui saya, saya jauh dari orang-orang yang merindukan tulisan itu. saya kerap menerima pesan untuk kapan menulis lagi, namun tak saya jawab. saat itu fase keinginan menulis saya menjadi buruk sekali, berminatpun tidak sampai pada akhirnya, mereka berhenti memberi support. ya, memang begitu rasanya melewati orang-orang yang memberi semangat terkadang menjadi penyesalan yang dalam.

balik lagi pada fase hidup yang semakin dewasa, saya kini sering kali mendengar istilah nikah muda. dulu, saat masa sekolah saya pernah membanyangkan membangun keluarga pada usia yang relatif muda, namun sepertinya Tuhan tidak mempercayakan saya untuk membangun keluarga dengan kondisi emosi yang belum stabil. perjalanan dalam perubahan pola fikir dan hati saya sudah terjadi sejak saya memasuki umur 18 tahun. sejak itu, saya menyadari yang paling penting sebelum membangun sebuah keluarga adalah membangun diri sendiri. saya merasakan hidup sendirian, mengadu nasib pada diri sendiri, belajar mandiri dan menata pola fikir agar kedepan tidak sulit. mungkin untuk sebagian teman dekat saya, melihat saya hanya takut dan tidak dewasa. namun, saya sendiri bisa melihat perubahan dalam diri saya. hal itu yang membuat saya terus belajar mengejar ketertinggalan saya.

pada fase ini saya seringkali berdiskusi dengan teman-teman perihal usia produktif untuk menikah, rata-rata mereka mengatakan ingin menikah setelah lulus kuliah. mungkin mereka merasa sudah cukup usia akan hal itu. namun untuk saya lagi-lagi hal ini entah mengapa mengganggu. saya selalu bilang ketika berdiskusi saya tidak bisa menikah semuda itu, masih banyak tanggung jawab saya yang belum saya penuhi termasuk pada diri saya sendiri. saya heran kenapa masih banyak orang yang takut nikah pada usia yang relatif tua. dulu saya pernah berfikiran begitu namun setelah saya menjalaninya saya memang merasa masih banyak hal lain yang harus saya lakukan. seperti ingin bekerja, ingin berpetualang sendiri, punya penghasilan sendiri, bisa membeli kebutuhan sendiri, memberi orang tua dan adik dari hasil kerja sendiri, bahkan memiliki tabungan masa depan sendiri. 

saya banyak dikomentari karena hal tersebut, mereka katakan hal itu bisa dilakukan bersama dengan suami. memang benar, tapi perasaan mendapatkan hal dari kerja keras sendiri itu beda dengan menyemangati suami untuk dapat kerja yang bagus. menurut saya itu adalah dua hal yang berbeda. ketika memiliki suami, saya tidak bebas kemanapun, bertemu siapapun atau membeli apapun. ada hal lain yang menjadi pikiran. namun, ketika sendiri saya bisa merasakan bagaimana mendapatkan sesuatu, bagaimana memberikan sesuatu. sepertinya sudah jelas bedanya. hal yang saya sebutkan bukan semata-mata karena saya ingin materi atau saya tidak bisa menjadi calon yang baik.

menurut saya menjadi seorang istri yang baik adalah mampu mengerjakan apapun dengan baik. tidak hanya diam di rumah menyambut suami pulang dan mengurusi anak. namun bisa membantu keluarga dari segi keuangan, memiliki pengalaman yang baik di dunia kerja, punya keahlian di rumah dan dapur, hal inilah yang saya pelajari ketika saya sendiri. hal-hal seperti ini yang perlu saya pelari sampai akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan hidup dengan seseorang. 

untuk mendapat seseorang juga butuh proses, sepuluh tahunpun kita mengenal seseorang belum tentu menjadikan mereka pantas menjalani hidup salamanya dengan kita. maka dari itu, perlu melihat perubahan karakter mereka dari tahun ke tahun. sangat cinta juga bukan dasar dalam memilih pasangan hidup, itu nasihat ibu saya. saya harus tahu pasangan saya, saya harus tahu apa visi dan misi pasangan saya, bagaimana dia memperlakukan saya, apakah kita punya cita-cita yang sama atau hanya sekedar ingin bersama saja. hal itu berlaku untuk sebaliknya. pasangan saya berhak mengenal saya, dan memutuskan apakah saya pantas menjadi pasangannya atau tidak. 

perihal menikah ini adalah hal yang paling sulit bagi saya. saya harus berhati-hati memilih. saya harus berhati-hati menjalani. karena saya tidak ingin gagal satu kalipun. 
hanya itu.


with love, itijonas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...