Langsung ke konten utama

Menjadi dewasa #3 (cerita kualitas ..)

Tulisan ini hanya opini dari sudut pandang saya. Setuju atau tidak bukan masalah~
Bercerita tentang kualitas memang sedikit lebih berat. Terutama cerita tentang kualitas terhadap suatu hubungan. Baik dengan keluarga, pasangan atau sahabat. Kualitas bagi saya adalah intim. Dalam artian setiap orang yang berada dekat dengan saya memiliki makna yang dalam. Pendeknya, hubungan saya dengan orang tergantung dengan kualitas pembicaraan. Memang hidup kadang tak perlu selalu serius. Tapi entah, saya hanya suka memilih beberapa orang untuk jadi bagian kecil dalam hidup saya. Karena, ketika lingkaran itu semakin kecil, saya dapat lebih dekat melihat mereka, memperhatikan mereka. Tapi tidak sedikit juga yang ingin pergi karena berada di dekat saya sama dengan sepi. Tidak bergejolak dan terlalu lurus. Memang banyak orang sangat senang jika bertemu dengan orang-orang yang 'lebih bahagia' secara mental. Karena mereka akan lebih leluasa melakukan apapun. Saya bahkan mempersilahkan siapapun untuk pergi tak kembalipun tak apa.
Karena buat saya, kualitas pembicaraan yang saya lakukan dengan seseorang akan membuat saya merasa menjadi manusia. Seperti halnya berbagi sudut pandang tentang suatu masalah, mendengarkan, menanyakan keadaan, atau mengerti harus apa ketika situasi diluar kendali. Karena dari kualitas pembicaraan tadi, akan muncul rasa perhatian, sayang, tanpa perlu diucapkan berkali-kali.
Kualitas pembicaraan juga bukan mengenai siapa yang selalu bercerita dan mendengarkan. Bukan mengenai siapa yang memulai. Tapi saling. Saling berbagi rahasia, saling bertukar perih. Karena perih dan pedih seharusnya dijalani bersama. Jika senang, silahkan sendirian tidak apa-apa. Kenapa? Ketika perih dan pedih muncul, yang ada dalam hidupmu hanya gusar dan kecewa. Rasa kecewa dapat membuatmu kecanduan. Dan itu harus ditolong. Tapi bahagia bisa datang dari mana saja dan siapa saja. Kadang ketika kita bahagia, kita bisa lupa berbagi dengan orang yang selalu menolong kita ketika sedang kecewa.
Ya, tapi semua orang juga perlu sesuatu yang baru. Lebih segar. Lebih jauh.
Oleh karena itu, kualitas ini membuat saya makin terpukul. Melihat dunia sekarang berbeda. Melihat kanan kiri saya tak lagi sama. Ya, orang-orang berubah dan berputar haluan. Saya yang mendapati diri saya sama, jadi semakin merosot. Orang-orang kepercayaannya saya, kesayangan saya juga ikut. Menikmati keindahan baru. Silahkan, dipersilahkan.
Tapi, saya hanya berharap tidak perlu kembali pulang. Karena pintu sudah saya tutup rapat meski kita saling bicara, saling menyapa. Tapi hati kita tak ditempat yang sama, tidak di tujuan yang sama. Kita di persimpangan menuju pulang dan tempat baru. Saya mudah melepaskan karena tak ingin melihat mereka menyakiti saya lebih lama. Baik itu dengan ucapan atau sikapnya. Saya sudah bentengi diri saya dengan ribuan ketidakpedulian yang saya coba perlihatkan, meski sulit dan berurai air mata akan tetapi saya terus lakukan. Ini bukan sekedar tentang harga diri, tapi tentang saya yang mulai belajar mencintai diri saya sendiri. Dengan tidak lagi mengikat diri saya terhadap sesuatu, siapapun selain Tuhan saya.
Karena saya sudah mengerti, tidak semua orang dapat mengerti rasa cemas berlebih, rasa ingin dicintai, rasa ingin diperhatikan adalah bagian dari kegagalan mental yang saya derita selama ini. Penderitaan yang harus saya putus sendirian dengan belajar mencintai diri saya tanpa perlu andil orang lain di dalamnya.
Pada akhirnya, saya akan menuju tempat baru dan bertemu orang-orang dengan satu visi dalam menjalin hubungan. Sama-sama mementingkan kualitas yang mencakup rasa sedih, perih, kecewa. Bukan bersama dengan orang yang bertahan tapi selalu menyakitkan dan mematahkan kualitas.
Ya, sebenarnya kualitas ini tentang waktu, kebersamaan dan saling bertukar perasaan. Bukan tentang pendengar atau yang didengar.
With love, itijonas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kau pantas mencari penggantinya

“kamu bertahan untuk apa? Memutar waktu? Membalikkan hati manusia yang sudah tak mengingatmu?” seru Anita  Dalam rintikan hujan, Dinda termenung memikirkan setiap rangkaian kata dari Anita. Dalam pikirannya hanya bermain-main satu orang laki-laki yang sejak dulu tak ingin ia lupakan.   Ia bertahan karena ia percaya bahwa keajaiban akan mengembalikan hati lelaki itu. Ia tak pernah bosan untuk bertahan menanti, walau ia tau bagaimana rasanya di abaikan berkali-kali. Andai waktu dapat menjawab hati manusia lebih cepat, penantian mungkin takkan pernah berujung lama dan penuh tanda tanya seperti yang terjadi pada setiap manusia saat ini. Andai rasa bisa di hapus dengan lebih cepat tanpa harus menunggu waktu, pasti tak banyak manusia yang merasakan luka dan rasa iba setiap saat. Tapi, waktu terlalu sering bermain-main hingga ia berlama-lama mengguncang hati manusia setiap kali manusia terluka. *** “bagaimana sudah berfikiran jernih?” tanya Anita tiba-tiba “ti...

saya bercerita sedikit

  hello semua para pembaca, ini cerita saya kemarin 8. Oktober 2013 selamat membaca dan melihat beberapa foto yang tertera :)   cerita kemarin, kemarau sudah mulai menampakkan jati dirinya. pepohonan mulai menguning dan gugur satu per satu. udara yang begitu dingin membuat tubuh sedikit menggigil. namun tidak menghalangi niat saya untuk terus berjalan dan mencari tahu seluk-beluk kota ini. ini dia salah satu taman kota yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal saya.  -Ronaldstrasse- haltestelle berkunjung kesana untuk pertama kalinya, dengan modal nekat tanpa tau tempat lebih tepatnya. berjalan bersama seorang teman sehabis pulang kursus, setidaknya melupakan sedikit beban kepala yang begitu menumpuk. balik lagi, taman ini sewaktu saya berkunjung tidak begitu ramai, mungkin di karenakan masih terlalu siang, banyaknya pohon membuat rindang taman ini, saya tidak banyak memotret tapi coba lihat beginilah kira-kira keadaan taman yang saya kunju...

kau biarkan aku berperang sendirian

tulisan ini terbentuk dari potongan-potongan perasaan yang tak bisa ku utarakan. saat itu menilai diriku dan kamu hanyalah bentuk ketidakdewasaan. namun setelah ku telusuri segala sisi dari hidupku, melihat dari sisi terluar perasaan kita, lingkungan baru membuat cara pandangku semakin berbeda. patutlah aku beranjak lebih cepat. depalan tahun lalu, sebelum kita memutuskan untuk saling memaafkan lagi. kita punya misi yang baik untuk dapat ku percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya. kau terjebak dengan pesona masa lalumu ini, aku terjebak dengan kata cinta yang selalu kau utarakan berkali-kali. sekejap kita bagaikan simpul tali yang terikat dengan erat. hari-hariku bersamamu adalah waktu dimana aku berusaha menyesuaikan diri, meninggalkan ego di kantong belakang, agar janji tersebut dapat terlaksana. ku beri kau seluruh dunia, agar semangatmu tak lagi hilang. ku beri kau seluruh cinta agar sepimu tak lagi datang. ku beri kau waktu yang berlimpah, agar kau tak perlu menanggung rindu. sa...