Tulisan ini hanya opini dari sudut pandang saya. Setuju atau tidak bukan masalah~
Bercerita tentang kualitas memang sedikit lebih berat. Terutama cerita tentang kualitas terhadap suatu hubungan. Baik dengan keluarga, pasangan atau sahabat. Kualitas bagi saya adalah intim. Dalam artian setiap orang yang berada dekat dengan saya memiliki makna yang dalam. Pendeknya, hubungan saya dengan orang tergantung dengan kualitas pembicaraan. Memang hidup kadang tak perlu selalu serius. Tapi entah, saya hanya suka memilih beberapa orang untuk jadi bagian kecil dalam hidup saya. Karena, ketika lingkaran itu semakin kecil, saya dapat lebih dekat melihat mereka, memperhatikan mereka. Tapi tidak sedikit juga yang ingin pergi karena berada di dekat saya sama dengan sepi. Tidak bergejolak dan terlalu lurus. Memang banyak orang sangat senang jika bertemu dengan orang-orang yang 'lebih bahagia' secara mental. Karena mereka akan lebih leluasa melakukan apapun. Saya bahkan mempersilahkan siapapun untuk pergi tak kembalipun tak apa.
Karena buat saya, kualitas pembicaraan yang saya lakukan dengan seseorang akan membuat saya merasa menjadi manusia. Seperti halnya berbagi sudut pandang tentang suatu masalah, mendengarkan, menanyakan keadaan, atau mengerti harus apa ketika situasi diluar kendali. Karena dari kualitas pembicaraan tadi, akan muncul rasa perhatian, sayang, tanpa perlu diucapkan berkali-kali.
Kualitas pembicaraan juga bukan mengenai siapa yang selalu bercerita dan mendengarkan. Bukan mengenai siapa yang memulai. Tapi saling. Saling berbagi rahasia, saling bertukar perih. Karena perih dan pedih seharusnya dijalani bersama. Jika senang, silahkan sendirian tidak apa-apa. Kenapa? Ketika perih dan pedih muncul, yang ada dalam hidupmu hanya gusar dan kecewa. Rasa kecewa dapat membuatmu kecanduan. Dan itu harus ditolong. Tapi bahagia bisa datang dari mana saja dan siapa saja. Kadang ketika kita bahagia, kita bisa lupa berbagi dengan orang yang selalu menolong kita ketika sedang kecewa.
Ya, tapi semua orang juga perlu sesuatu yang baru. Lebih segar. Lebih jauh.
Oleh karena itu, kualitas ini membuat saya makin terpukul. Melihat dunia sekarang berbeda. Melihat kanan kiri saya tak lagi sama. Ya, orang-orang berubah dan berputar haluan. Saya yang mendapati diri saya sama, jadi semakin merosot. Orang-orang kepercayaannya saya, kesayangan saya juga ikut. Menikmati keindahan baru. Silahkan, dipersilahkan.
Tapi, saya hanya berharap tidak perlu kembali pulang. Karena pintu sudah saya tutup rapat meski kita saling bicara, saling menyapa. Tapi hati kita tak ditempat yang sama, tidak di tujuan yang sama. Kita di persimpangan menuju pulang dan tempat baru. Saya mudah melepaskan karena tak ingin melihat mereka menyakiti saya lebih lama. Baik itu dengan ucapan atau sikapnya. Saya sudah bentengi diri saya dengan ribuan ketidakpedulian yang saya coba perlihatkan, meski sulit dan berurai air mata akan tetapi saya terus lakukan. Ini bukan sekedar tentang harga diri, tapi tentang saya yang mulai belajar mencintai diri saya sendiri. Dengan tidak lagi mengikat diri saya terhadap sesuatu, siapapun selain Tuhan saya.
Karena saya sudah mengerti, tidak semua orang dapat mengerti rasa cemas berlebih, rasa ingin dicintai, rasa ingin diperhatikan adalah bagian dari kegagalan mental yang saya derita selama ini. Penderitaan yang harus saya putus sendirian dengan belajar mencintai diri saya tanpa perlu andil orang lain di dalamnya.
Pada akhirnya, saya akan menuju tempat baru dan bertemu orang-orang dengan satu visi dalam menjalin hubungan. Sama-sama mementingkan kualitas yang mencakup rasa sedih, perih, kecewa. Bukan bersama dengan orang yang bertahan tapi selalu menyakitkan dan mematahkan kualitas.
Ya, sebenarnya kualitas ini tentang waktu, kebersamaan dan saling bertukar perasaan. Bukan tentang pendengar atau yang didengar.
With love, itijonas.
Komentar