ada kalanya aku ingin berhenti sejenak dari segala hiruk-pikuk cinta yang rumit. ada rasa ingin berhenti dalam permainan kasih sayang. rasanya, jatuh cinta seharusnya membuat kita bahagia tanpa tanda tanya. namun, mengapa justru cinta malah membuat hati bahkan diri kita kosong? ternyata aku belum benar-benar bisa beradaptasi pada kenyataan bahwa perasaan yang ku miliki adalah perasaan yang penuh dengan tanda tanya. aku selalu mempertanyakan kredibilitas ku sebagai seorang yang mencintai orang lain. namun, pada akhirnya aku sendiri yang terjebak dan merasa tersakiti oleh pilihanku sendiri.
menjadi pribadi yang rumit memang melelahkan. semua yang ada pada diriku terasa amat berat. melalui hari-hari rasanya sangat datar, bahkan perasaanku beberapa tahun belakangan ini tidak mengalami fluktuasi yang jelas dalam menjalani kehidupan. rasanya seperti kapal ku karam. perasaanku berhenti sembari waktu berjalan dengan sangat lambat. aku tak temukan rasa bahagia dan bergembira berjalan bersama dengan cinta.
apa yang terjadi?
bukannya, selama kita bisa mencintai dengan baik perasaan itu akan selalu ada?
tapi, mengapa isi kepalaku menyimpulkan beberapa hal perihal kondisi ini.
pertama, mengapa hubungan bersama orang lain yang terjalin begitu lama menjadi semakin memberatkan diri sendiri?
karena perasaan itu hanya bernilai dengan jumlah angka yang dihabiskan tanpa memperhitungkan sebuah kualitas yang ada di dalamnya dengan baik. waktu yang begitu lama, yang ternyata hanya berjalan ditempat bisa membuat semua isi pikiranmu rasanya ingin pecah.
kedua, mengapa dua orang yang saling cinta bagaikan dua kubu yang selalu yang sulit untuk menemukan titik terang?
salah satu ingin menyerang dengan melibatkan semua isi perasaannya dan kritikannya, satu lagi menyerang dengan ribuan ucapan yang sulit dilihat oleh mata dan keadaan. apakah, keadaan seperti ini adalah sebuah proses dari sebuah hubungan?
bukankah, dalam hubungan yang baik kita seharusnya lebih banyak menggunakan dua telinga ketimbang membela diri?
apa yang aku perlukan saat ini?
J E D A
iya. kita perlu jeda untuk bernafas sejenak perihal perasaan. melihat lagi kilas balik apa yang tengah kita jalani. menelusuri setiap lorong dalam perasaan sendiri, apakah aku membutuhkan dia? atau karena Tuhan tahu, aku dan dia belum saling membutuhkan untuk saat ini? kita perlu jeda untuk berfikir jernih. perlu jeda untuk mencintai diri sendiri.
karena mencintai bukan perihal aku mencintaimu titik.
with love, itijonas
Komentar