Langsung ke konten utama

j e d a

ada kalanya aku ingin berhenti sejenak dari segala hiruk-pikuk cinta yang rumit. ada rasa ingin berhenti dalam permainan kasih sayang. rasanya, jatuh cinta seharusnya membuat kita bahagia tanpa tanda tanya. namun, mengapa justru cinta malah membuat hati bahkan diri kita kosong? ternyata aku belum benar-benar bisa beradaptasi pada kenyataan bahwa perasaan yang ku miliki adalah perasaan yang penuh dengan tanda tanya. aku selalu mempertanyakan kredibilitas ku sebagai seorang yang mencintai orang lain. namun, pada akhirnya aku sendiri yang terjebak dan merasa tersakiti oleh pilihanku sendiri.

menjadi pribadi yang rumit memang melelahkan. semua yang ada pada diriku terasa amat berat. melalui hari-hari rasanya sangat datar, bahkan perasaanku beberapa tahun belakangan ini tidak mengalami fluktuasi yang jelas dalam menjalani kehidupan. rasanya seperti kapal ku karam. perasaanku berhenti sembari waktu berjalan dengan sangat lambat. aku tak temukan rasa bahagia dan bergembira berjalan bersama dengan cinta.

apa yang terjadi?
bukannya, selama kita bisa mencintai dengan baik perasaan itu akan selalu ada?

tapi, mengapa isi kepalaku menyimpulkan beberapa hal perihal kondisi ini. 
pertama, mengapa hubungan bersama orang lain yang terjalin begitu lama menjadi semakin memberatkan diri sendiri? 
karena perasaan itu hanya bernilai dengan jumlah angka yang dihabiskan tanpa memperhitungkan sebuah kualitas yang ada di dalamnya dengan baik. waktu yang begitu lama, yang ternyata hanya berjalan ditempat bisa membuat semua isi pikiranmu rasanya ingin pecah.

kedua, mengapa dua orang yang saling cinta bagaikan dua kubu yang selalu yang sulit untuk menemukan titik terang?
salah satu ingin menyerang dengan melibatkan semua isi perasaannya dan kritikannya, satu lagi menyerang dengan ribuan ucapan yang sulit dilihat oleh mata dan keadaan. apakah, keadaan seperti ini adalah sebuah proses dari sebuah hubungan?
bukankah, dalam hubungan yang baik kita seharusnya lebih banyak menggunakan dua telinga ketimbang membela diri?

apa yang aku perlukan saat ini?

J E D A

iya. kita perlu jeda untuk bernafas sejenak perihal perasaan. melihat lagi kilas balik apa yang tengah kita jalani. menelusuri setiap lorong dalam perasaan sendiri, apakah aku membutuhkan dia? atau karena Tuhan tahu, aku dan dia belum saling membutuhkan untuk saat ini? kita perlu jeda untuk berfikir jernih. perlu jeda untuk mencintai diri sendiri. 

karena mencintai bukan perihal aku mencintaimu titik. 



with love, itijonas








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...