Langsung ke konten utama

hanya dia yang mengerti

pernahkah terfikirkan olehmu bahwa kau adalah seorang pendengar yang baik dan sangat perhatian? meskipun kau tak pernah merasa demikian, semua hal kecil yang kau lakukan selalu menyentuh hatiku. walaupun semua telah lama berlalu, tapi semua rasa aman dan tentram itu masih ku rasakan jika mengingatmu. seketika aku tak merasa kesepian lagi. untuk beberapa kesempatan aku selalu ingin kembali menjadi orang yang bisa bersandar kapan saja. tapi, kedewasaan ini harus memaksa ku untuk menyimpan semuanya sendirian. andai kau di sini, mungkin segala letih di fikiran ini bisa ku bagi bersama. 

saat ini, tak ada yang benar-benar menyimak dan bertanya mengenai lelah yang ku pikul. semua orang selalu berdalih hidup memang seperti itu, memikul segalanya sendirian dan jalani saja. semua orang selalu berusaha membela diri sendiri dan merasa menjadi orang paling lelah, paling menyedihkan, dan palinglah. semua orang sekarang yang ku kenal saat ini, tak ada yang punya sifat saling mendengarkan dengan baik. seperti yang kita lakukan bersama beberapa tahun. saling mendengarkan, saling menghibur. tapi kamu yang lebih sering menghibur. dengan semua cara, pertanyaan yang absurd dan tidak pernah kehabisan topik. sungguh aku selalu tertawa mengingatmu. semakin lama, aku terbiasa memang berada di lingkungan yang tidak seperti kau tawarkan dulu. tapi dari lubuk hatiku yang terdalam, aku tetap merasa kesepian. biasanya, ketika aku pulang dari akademi atau kerja di pabrik waktu itu, kau selalu menyempatkan diri untuk bertanya apa saja yang tengah ku alami satu harian penuh. kau tunggu aku pulang, meski saat itu kau lima jam lebih cepat daripada aku. saat aku pulang dari bekerja, dini harimu sambil terkantuk menunggu balasanku dan memilih tidur setelah mendengar semua ceritaku.

apa aku berlebihan menjelaskan ini? apa kau tak merasa sebegitu baiknya saat itu?

sampai hari ini aku masih merindukan seseorang yang akan bisa seperti itu. aku tak minta persis sama atau aku tak minta itu kamu. setidaknya, seseorang yang bisa ku jadikan tempat bersandar di titik terbawah dari diriku. seseorang yang begitu menerima kekurangan terburuk dari seorang aku dan selalu menjadi penyeimbang sebuah hubungan. seseorang yang begitu detail yang selalu menggebu-gebu saat bertemu denganku. seseorang yang tak pernah memperlihatkan wajah lelah, wajah sedih ataupun mengeluh seperti saat itu, kita melakukannya. kau selalu jadi cerminanku. kau selalu buatku tak ingin mengeluh, tak ingin sedih, tak ingin lemah. 

tapi, sekarang aku begitu lemah. mudah sedih. mudah kesepian dan lebih suka menyendiri. sekarang aku sangat tidak suka berkomunikasi dengan banyak orang. tak ada yang menyenangkan hatiku saat ini. aku dengan mereka semua hanya mencoba melanjutkan hidup, agar mereka tidak berusaha menebak perasaanku. sekarang aku mahir berbohong. aku selalu katakan baik-baik saja. ternyata itu adalah jawaban paling oke, sehingga orang lain tak tertarik lagi menyelam ke dalam sanubariku. jawaban itu tenyata juga mempengaruhi cara pandangku menentukan sebuah kepercayaan kepada seseorang. seperti yang kubilang di atas, tidak semua orang yang benar-benar mendengarkan.

sejak kau tidak ada, aku tidak pernah terbuka lagi dengan orang. sekarang, rahasiaku banyak. apa itu sebuah prestasi? sekarang semakin aku dewasa, aku tak pernah seceria sebelumnya. aku tak bisa tebarkan senyum yang banyak sesuai janjiku padamu.

jika suatu saat nanti kita diizinkan bertemu untuk bercerita, kau pasti katakan aku sangat berubah. ah iya aku hampir lupa, aku tau kau adalah pembaca setiaku. tak perlulah kita bertemu untuk bercerita. jika suatu hari nanti kau dapati tulisan ini, iya aku sedang membicarakanmu.




untuk sahabatku terkasih,


dengan cinta,

itijonas.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...