Langsung ke konten utama

titik nadir


malam yang semakin dingin, mengantarkanku pada kisah cinta sepasang anak manusia yang selalu dipertemukan meski waktu selalu berusaha memisahkan. kisah klasik namun menarik untuk diceritakan kembali dan berulang tanpa bosan. kisah romansa gadis belia yang tidak pernah membayangkan hidupnya hanya akan melihat satu lelaki dalam hidupnya. meski kerap berubah-ubah, pada suatu malam yang benar-benar gelap ia selalu merasakan lelaki itu, hanya dia pada titik nadirnya. lelaki itu selalu jadi alasan pertama dari perasannya yang kerap ditutup waktu. mendapati kisahnya yang kerap menyayat hati, akupun ikut terjun pada kisah milikku sendiri. 

dengannya mungkin adalah perjalanan paling panjang yang pernah aku lakukan bersama dengan seseorang. menjadi miliknya seperti ketidakmungkinan yang selalu menjadi nyata. berulang tulisan ini selalu kubuat untuknya tanpa bosan. mendapati diriku sangat cinta bahkan benci diwaktu yang sama. saat perasaan seorang gadis labil seperti ku dapat berubah-ubah, hanya dengan dia perasaan itu tak pernah padam. sekeras apapun ego ini meminta untuk menyudahi segala layu, aku selalu bertahan bersamanya. semua mengalir begitu saja tanpa aku sengaja. bahkan, tiap kali aku terlena dengan waktu dan tak bisa menemukannya dimana-mana alam bawah sadarku selalu ingin didekatnya. aku bahkan tidak tahu, pada bagian mencintai yang mana perasaanku saat ini padanya. aku hanya mencintainya, begitu saja. 

jika tulisan adalah sebuah kejujuran yang paling sulit untuk diucapkan lisan, ku rasa semua tulisanku adalah jawaban dari segala perasaan semerawut yang selama ini aku perlihatkan. kita memilih untuk diam agar semuanya terlihat baik-baik saja. tapi tenyata kediaman itu adalah badai paling hebat yang selalu ku rasa setiap kita melakukannya. dalam hubungan yang berlangsung hampir satu dekade lebih ini, aku yakin semua orang juga mengalami badai paling sulit. ternyata, kebersamaan itu selalu menjadi penyebab badai. aku masih terlalu dini untuk merasakan sakit, kecewa dan rangkaian patah hati lainnya. walaupun pada tahap ini aku hampir menyerah, ingatan bersamamu selalu jadi tiang yang selalu ku semen ulang agar terus kokoh meski dalam hening yang kita lakukan terus menerus. pelajaran yang selalu terlihat dimataku adalah tidak ada yang sempurna dalam mencintai seseorang. mesikpun mereka sudah membina hubungan itu begitu lama. tidak ada yang selalu hangat, tidak ada yang terus menerus harmonis. hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah tetap saling mencintai meskipun itu adalah bagian tersulit. 




with love itijonas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...