Langsung ke konten utama

melebur

meleburlah, agar kau rasakan bagaimana dirimu dicintai oleh mu sendiri.
                                                                                                            -itijonas


pada suatu hari yang biru, aku mencari jalan yang sunyi untuk bermenung. menatap langit yang memar, menghirup oksigen yang menenangkan. selama ini, aku sudah cukup letih bersembunyi dari balik senyum ini. rasanya, hari-hari berat semakin berbilang. rasanya, ingin sebentar berhenti ada di bumi. bukan raga, tapi jiwa. waktu berjalan lebih lambat saat aku merasa kosong. tak ada pundak tempat bersandar, tak ada raga yang bisa diajak bertukar cerita. semakin lama, rasanya hilang. ingin melakukan apa pun tak lagi menyenangkan. ingin percaya, tapi selalu takut. menitipkan hati, sepertinya bukan hal yang baik untuk saat ini. isi kepalaku, mudah meledak tiba-tiba. air mata seperti keran bocor setiap hari. jika ditanya mengapa, aku juga tidak mengerti. apakah ini namanya transisi hidup? menjadi dewasa adalah hal yang rumit dan absurd. menerima kenyataan bahwa segala hal bergerak lebih cepat dari perasaanmu. menerima kenyataan, perpisahan adalah makanan sehari-harimu.

pada sepertiga malam, suara berbisik padaku. menenangkan hati yang selama ini kalut. Ia mengatakan padaku untuk melebur. melebur bersama segala kenyataan dan Ia berjanji untuk selalu menemaniku, menghangatkan jiwaku, dengan syarat aku harus selalu menceritakan segala hal pada Nya. malam itu, seperti sebuah jawaban yang selama ini ku tunggu. dari segala tanya, segala arah yang mulai kabur. Dia, merangkulku.

pada suatu hari yang lebih cerah, aku mulai mengerti. segala pedih ini tak bisa ku simpan sendirian. bertahun aku merasa sepi meski berada di tempat ramai, perlahan mulai meluntur. aku mulai bisa melihat banyaknya warna setelah malam itu. ternyata, melebur artinya mulai untuk mencintai dirimu sendiri. melebur artinya bahagia untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, meskipun sulit. melebur artinya kau siap mendewasa, tanpa rasa terguncang, tanpa rasa ketakutan.

jika ragamu sudah habis pada waktunya, jiwamu akan puas karena kau sudah membiarkan dirimu melebur untuk bahagia dengan segala cara.



with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...