Langsung ke konten utama

Mencintai Kota Deli

aku mencintai kota Deli itu, jauh sebelum bertemu dengan dia. sewaktu kecil, aku ingin sekali menghabiskan hari-hari ku di kota itu. meskipun bukan kota kelahiran, rasanya ada satu hal manis yang terbentuk di relung ku terhadap hiruk-pikuk kotanya. jauh sebelum bertemu dengan dia, cita-cita ku adalah menetap di sana.

awal tahun yang kurang menyenangkan kembali hadir. aku dengan segenap hasrat, menyebarkan semua harapan agar tetap bertahan. menginjaki masa awal dewasa adalah pilihan terberat bagi semua orang, tak terkecuali aku. dengan segenap harapan yang ku gantung, aku berjalan sendirian, menikmati setiap kesepian yang sudah terlanjur ku pilih. piuh badai tetap ku terjang dengan kaki yang makin gemetar. lebih dari setahun sebelum pergantian tahun baru itu, hati ku sedang patah-patahnya. bunga-bunga dalam diriku sudah layu tak lagi bisa mekar. aku melihat cinta sebagai bentuk yang pudar. tak ku temukan gejolak, tak ku lihat harapan ada di sana. waktu seolah menjawab semua ketakutan ku akan perpisahan. semua yang ku bina bertahun-tahun, hati yang ku jaga menyeluruh, remuk sudah ditelan waktu. aku memilih untuk menyendiri, berteman dengan diri sendiri. 

setelah proses panjang menata hati yang patah, aku bertemu dengan dia. wajah yang tak pernah ku lihat sebelumnya, suara yang asing ku dengar, hingga perasaan yang tumbuh dalam waktu yang begitu tak terduga. saat melihatnya, aku sudah jatuh cinta. mengenalnya lebih jauh adalah paragraf panjang yang tak pernah aku tulis. aku tak mengusahakan apapun, dia hadir seperti kakinya memang diharuskan melangkah ke arahku. dia menemuiku di persimpangan jalan, dengan wajah yang sumeringah. aku merekam setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. aku menghafal setiap tahi lalat di wajahnya. aku memperhatikan matanya yang setiap hari semakin lelah dan hitam. aku tak pernah pedulikan, semua yang dia ucapkan adalah bohong atau benar. aku membiarkan diriku terjebak dalam panggilannya. aku bahkan membiarkan diriku menjadi seperti yang dia gambarkan. rasanya, setelah bertemu dengannya, patah hati itu hanyalah doa-doa yang belum terjawab. saat mengenalnya, segala sakit akibat patah-patah yang ku terima berangsur membaik. kehadirannya yang biasa aja, mampu membuatku merasa nyaman, walau tanpa ada sepatah kata cinta keluar dari masing-masingnya. 

dari awal aku sudah tau, dia takkan mencintaiku seperti perasaanku padanya. dari awal aku sudah tau, tapi aku tetap membiarkan diriku terbenam di hatinya yang keras dan dingin itu. meskipun meluluhkan hatinya adalah perkara yang sulit, aku menikmati itu dengan selalu bersyukur atas semua perbincangan yang sempat kami lakukan. kehadirannya, memberiku banyak alasan untuk bertahan di kota Deli ini. 

tapi itu kemarin. 
saat ini aku dalam pertimbangan untuk berpindah sekali lagi. memilih tempat yang lebih jauh agar tak bisa lagi menemukan dia. setelah kepergiannya, setiap jalanan yang ku susuri bagaikan dentuman drum di jantungku. aku selalu merasa was-was akan bertemu dengannya lagi. aku takut merasa kalah lagi, setelah bertemu dengannya. aku lelah, melihat tatapan nanar nan dingin yang terpancar dari matanya. padahal, binar di mataku tak redup untuknya. katanya, tunggulah beberapa bulan lagi, kau akan lupa.
 
aku menikmati waktu tanpa mencoba menghubunginya lagi. aku ikuti semua cara mainnya dengan ikut menghilang juga. tapi, isi kepalaku tak bisa menghilangkan namanya. apapun jenis kepergian yang dipilih oleh seseorang adalah obat terbaik untuk mereka dapat melanjutkan hidup. akupun begitu. perpisahan adalah makanan sehari-hari manusia. berpisah dengannya juga hal yang dari awal sudah ku duga. oleh karena itu, aku hanya mengenangnya sebagai sosok baik hati yang telah selasai berlayar dan memilih menepi terlebih dahulu. aku di sini, melanjutkan kapalku ke tengah belantara samudera yang lebih luas. aku tidak pernah meninggalkannya tanpa sebab, karena hilang tanpa jejak adalah perilaku yang buruk. saat kau mengenalnya dengan baik, akhirilah semuanya dengan baik. begitupula dengan perkara meninggalkan; kota lain akan menjadi pilihan yang jauh lebih baik.

semoga gambarmu semakin liar, desain mu semakin penuh warna dan cita-citamu segera terwujud tanpa cela. bertumbuh dewasalah dengan perlahan, aku akan nantikan segala karya yang akan kau ciptakan dari sudut kota lain. kau tau, aku mendukung segala potensi yang ada dalam dirimu, tanpa titik. mengalirlah jadi orang baik seperti yang selama ini berenang-renang di kepalaku.
 
aku mencintai kota Deli ini, aku mencintaimu, tapi aku lebih memilih diriku sendiri untuk terus berjalan.



with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...