Langsung ke konten utama

Berdamai

setelah berakhirnya hari itu, aku menutup diriku terhadapmu. "terima kasih" ucapku dalam hati sambil melambaikan tangan ke arahmu. kau berlalu dan hari itu adalah hari terakhir aku melihatmu. 

perpisahan adalah pilihan berat yang mau tidak mau harus setiap orang pelajari. meskipun, perpisahan terkesan menjadi hal yang lumrah, namun perasaan yang timbul akibat kepergian seseorang akan tetap menjadi luka yang tidak mudah bagi orang yang ditinggalkan. dalam sebuah perasaan, melepaskan hati yang selama ini berakar adalah keputusan yang memakan waktu yang begitu lama hingga bisa berdamai dengan ego nya untuk terus bersama. aku dipertemukan dengannya tanpa alasan apapun dan dipisahkan karena memang tidak ada lagi yang perlu dilanjutkan dari pertemuan itu. hati yang ku berikan padanya, sepertinya terlalu banyak. hingga tak satupun yang dapat ia rasakan ataupun ia lihat. aku mengganggap pemberian perasaan itu dapat meluluhkan hatinya, namun proses meluluhkan hati seseorang itu tidak semudah menaruh es batu di bawah terik matahari. 

semenjak aku tak lagi denganmu, aku mulai terbiasa bermain dengan perasaan orang-orang. menyambut dan memanfaatkan perasaan orang lain hanya untuk menjadi teman dalam kosongku yang sudah tidak ada kamu lagi di sana. aku bermain-main dan tertawa saat pagi hingga larut. namun, menangis karena merindukanmu di malam menjelang subuh. aku menikmati waktu ku dengan orang-orang baru, menikmati rasanya dunia dengan mengkhianati perasaanku sendiri. aku bersikap seolah menginginkan mereka, mengikat mereka dengan kata cinta agar tidak pergi, padahal dalam hatiku tidak ada sedikitpun terbesit untuk bermasa depan dengan mereka. membuat gejolak hatiku mendidih sejak kau tak ingin lagi kembali, aku tidak percaya pada lelaki manapun. tidak ada yang sebaik kamu. hanya kau satu-satunya tempat aku ingin pulang, tapi tak bisa ku ungkap pada dunia.

satu hari yang akan terus aku kenang.

begitulah aku akan mengingatnya. meski tak ada hal istimewa terhadap apa yang terjadi antara aku dan dia, setidaknya satu hari yang berlalu begitu cepat dapat membuat hari-hari yang kemarin terasa berat jadi lebih ringan. dia berdiri di depan pagar rumahku, dengan setelan jeans dan kemeja merah, warna favoritnya. dia terlihat begitu tampan, walau hanya sedetik ku pandang. senyumnya yang hangat membuat segala lelah yang ku lalui dalam seminggu itu tidak ada lagi artinya. tangannya di tanganku saling menggenggam di keramaian, membuatku merasa aman. hari itu menjadi kenangan terakhir yang selalu membuatku tersenyum di beberapa kesempatan. ingatan yang dia ciptakan satu hari itu adalah obat yang ku butuhkan ketika aku merasa sepi. harusnya, dia tak perlu tahu seberapa menyenangkannya menghabiskan hari bersamanya. mendengar semua keluh dan penat yang ada di pundaknya.

"aku sangat ingin memelukmu."

begitulah yang terucap di kepala ku ketika dia mulai menceritakan satu per satu rasa lelah yang selama ini dia simpan sendiri. aku ingin, menjadi tempat kau membuang segala resah dan gelisahmu, aku bersedia mendengar semua rasa sedihmu terhadap perempuan lain, aku bersedia menjadi telinga yang siap siaga, aku ingin jadi orang nomer satu yang selalu mendukung semua mimpi dan keputusanmu. aku ingin jadi orang yang pertama kau cari ketika kau butuh berdiskusi. aku menyiapkan diriku sebaik mungkin. tapi aku paham, keinginan itu hanyalah sepihak saja. aku mengeyampingkan kebutuhan hatiku. aku mengerti, dia menyampaikan segala cerita hanya untuk membuatku mundur. dia telah mempersiapkan skenario terbaik untuk menutup akses denganku. bahwa aku tak pernah ada di hatinya, aku tak pernah berkesan, dan bukan seseorang yang dia harapkan selama ini. dia hanya menceritakan hal-hal yang akan membuatku berat terhadap perasaannya. dia mengisyaratkan padaku untuk berhenti, tapi aku saja yang bebal tidak ingin berdamai. 

sampai di suatu titik aku memikirkan ulang segalanya.

sudah hampir setahun setengah aku menumpuk perasaan ini dan berpura-pura di hadapannya tak ada apa-apa. bersikap seolah dia bukanlah orang yang aku nanti selama ini. berfikir sekali lagi, untuk apa aku meneruskan perasaan sepihak ini. aku merasa tak ada gunanya, mencintai orang yang tidak ingin dicintai olehku. sehingga, saat dia keluar dari pintu rumah ku, melambaikan tangan. di saat itulah aku berbalik badan dan tidak lagi menyapanya. seolah-olah, dia dihapus begitu saja dan yang tersisa hanyalah satu hari yang begitu hangat itu. 

aku ingin berdamai dengan perasaanku, dengan cara tidak lagi menghubunginya walaupun itu berat. menghilangkan segala modus yang berusaha membuatnya melirik ke arahku. aku berdamai, dan membiarkan perasaan ini pelan-pelan digantikan dengan yang lebih baik. aku membiarkannya pergi tanpa bertanya kenapa, karena jawabannya bukan aku. dan takkan pernah menjadi aku.

 

with love, itijonas.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kau pantas mencari penggantinya

“kamu bertahan untuk apa? Memutar waktu? Membalikkan hati manusia yang sudah tak mengingatmu?” seru Anita  Dalam rintikan hujan, Dinda termenung memikirkan setiap rangkaian kata dari Anita. Dalam pikirannya hanya bermain-main satu orang laki-laki yang sejak dulu tak ingin ia lupakan.   Ia bertahan karena ia percaya bahwa keajaiban akan mengembalikan hati lelaki itu. Ia tak pernah bosan untuk bertahan menanti, walau ia tau bagaimana rasanya di abaikan berkali-kali. Andai waktu dapat menjawab hati manusia lebih cepat, penantian mungkin takkan pernah berujung lama dan penuh tanda tanya seperti yang terjadi pada setiap manusia saat ini. Andai rasa bisa di hapus dengan lebih cepat tanpa harus menunggu waktu, pasti tak banyak manusia yang merasakan luka dan rasa iba setiap saat. Tapi, waktu terlalu sering bermain-main hingga ia berlama-lama mengguncang hati manusia setiap kali manusia terluka. *** “bagaimana sudah berfikiran jernih?” tanya Anita tiba-tiba “ti...

saya bercerita sedikit

  hello semua para pembaca, ini cerita saya kemarin 8. Oktober 2013 selamat membaca dan melihat beberapa foto yang tertera :)   cerita kemarin, kemarau sudah mulai menampakkan jati dirinya. pepohonan mulai menguning dan gugur satu per satu. udara yang begitu dingin membuat tubuh sedikit menggigil. namun tidak menghalangi niat saya untuk terus berjalan dan mencari tahu seluk-beluk kota ini. ini dia salah satu taman kota yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal saya.  -Ronaldstrasse- haltestelle berkunjung kesana untuk pertama kalinya, dengan modal nekat tanpa tau tempat lebih tepatnya. berjalan bersama seorang teman sehabis pulang kursus, setidaknya melupakan sedikit beban kepala yang begitu menumpuk. balik lagi, taman ini sewaktu saya berkunjung tidak begitu ramai, mungkin di karenakan masih terlalu siang, banyaknya pohon membuat rindang taman ini, saya tidak banyak memotret tapi coba lihat beginilah kira-kira keadaan taman yang saya kunju...

kau biarkan aku berperang sendirian

tulisan ini terbentuk dari potongan-potongan perasaan yang tak bisa ku utarakan. saat itu menilai diriku dan kamu hanyalah bentuk ketidakdewasaan. namun setelah ku telusuri segala sisi dari hidupku, melihat dari sisi terluar perasaan kita, lingkungan baru membuat cara pandangku semakin berbeda. patutlah aku beranjak lebih cepat. depalan tahun lalu, sebelum kita memutuskan untuk saling memaafkan lagi. kita punya misi yang baik untuk dapat ku percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya. kau terjebak dengan pesona masa lalumu ini, aku terjebak dengan kata cinta yang selalu kau utarakan berkali-kali. sekejap kita bagaikan simpul tali yang terikat dengan erat. hari-hariku bersamamu adalah waktu dimana aku berusaha menyesuaikan diri, meninggalkan ego di kantong belakang, agar janji tersebut dapat terlaksana. ku beri kau seluruh dunia, agar semangatmu tak lagi hilang. ku beri kau seluruh cinta agar sepimu tak lagi datang. ku beri kau waktu yang berlimpah, agar kau tak perlu menanggung rindu. sa...