Langsung ke konten utama

cinta dipenghujung dua puluh

hari ini kotaku dingin. semilir angin menembus telingaku. aku termenung di depan jendela. merenungkan kebisingan yang bertebaran dalam kepalaku akhir-akhir ini. mempertanyakan mengapa manusia bisa tiba-tiba berhenti merasakan apapun. mengapa manusia tiba-tiba di usianya yang matang, malah terpeleset jauh dari prediksinya. seperti semua yang indah dalam diriku mati seketika.

aku membuka jendela kamarku dan merasakan angin sekali lagi. betapa bebasnya mereka bergerak, menembus semua kulit manusia. kenapa kebebasannya tidak bisa ku raih. kenapa rantai ini mengikat diriku pada sumur yang begitu gelap. aku menghela nafas berkali-kali, menahan diri untuk tidak cengeng. udara dingin ini menarikku pada banyak memori indah yang hanya ada dalam kepalaku. seketika aku tertawa, terharu, seketika lagi aku menangis dan menyesali. tapi, apakah pantas manusia memiliki rasa sesal, sedangkan pilihan dari awal adalah milik mereka? 

satu sisi kepalaku melarang untuk merasa menyesal dengan semua keputusan yang telah dibuat. sejak beberapa bulan ini, mengurung diri adalah bentuk kemarahanku pada semua yang terjadi. sempat menjadikan Tuhan sebagai alasan semua ini terjadi, namun aku ditampar kenyataan bahwa hanya manusialah yang membuat segalanya rumit.

waktu-waktu dimana aku menjadi salah satu manusia yang bahagia adalah disaat aku tak mengenalnya. begitu ucapku pada Tuhan. kehadiran cinta dalam diri seseorang itu, mengakibatkan kerusakan fatal pada rasa percaya diriku. aku seketika berantakan dan hilang kendali. aku merengek bagai manusia tak bertuhan saat kepercayaanku dibantai habis-habisan untuk pertama kalinya. aku menjadi lemah saat kebaikanku dijadikan busur paling akurat untuk dimanfaatkan berkali-kali. menjadi seorang pemaaf luar biasa saat semua kejelasan sakit bertubi-tubi yang dia berikan ada di depan mata. seketika aku melepaskan semua yang ada pada diriku demi mencintai satu orang. aku melupakan diriku yang begitu gagah berperang pada patriarki. aku melepaskan diriku yang biasa tegas dalam mengambil keputusan. semua hal yang ada pada diriku lenyap. yang tersisa hanyalah rasa takut yang selama ini dirantai lepas tak karuan. hanya ada satu yang tertinggal dalam diriku, yaitu bertahan. bertahan dari terkaan orang lain. bertahan dari kenyataan yang memaksa ku untuk biasa saja. 

ku kira, ini akan berhasil. dengannya akan berhasil. 

ku kira, aku sudah bertahan. namun aku semakin berantakan.

dalam setiap sujud, ku rangkai doa yang paling buruk untuk membunuh rasa yang ada dalam hatiku selama ini. berharap ia terluka dengan jutaan duri yang ditancapkan Tuhan dalam hatinya. berharap malam tak pernah nyenyak untuknya. semua beban diletakkan dalam kepalanya sampai nafasnya tak lagi sanggup menopang betapa berat rasa sakit itu. dan ketika dia memohon ampun, aku meminta pada Tuhan, hanya akulah satu-satu jawaban itu. 


with love,

itijonas





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...