hari ini kotaku dingin. semilir angin menembus telingaku. aku termenung di depan jendela. merenungkan kebisingan yang bertebaran dalam kepalaku akhir-akhir ini. mempertanyakan mengapa manusia bisa tiba-tiba berhenti merasakan apapun. mengapa manusia tiba-tiba di usianya yang matang, malah terpeleset jauh dari prediksinya. seperti semua yang indah dalam diriku mati seketika.
aku membuka jendela kamarku dan merasakan angin sekali lagi. betapa bebasnya mereka bergerak, menembus semua kulit manusia. kenapa kebebasannya tidak bisa ku raih. kenapa rantai ini mengikat diriku pada sumur yang begitu gelap. aku menghela nafas berkali-kali, menahan diri untuk tidak cengeng. udara dingin ini menarikku pada banyak memori indah yang hanya ada dalam kepalaku. seketika aku tertawa, terharu, seketika lagi aku menangis dan menyesali. tapi, apakah pantas manusia memiliki rasa sesal, sedangkan pilihan dari awal adalah milik mereka?
satu sisi kepalaku melarang untuk merasa menyesal dengan semua keputusan yang telah dibuat. sejak beberapa bulan ini, mengurung diri adalah bentuk kemarahanku pada semua yang terjadi. sempat menjadikan Tuhan sebagai alasan semua ini terjadi, namun aku ditampar kenyataan bahwa hanya manusialah yang membuat segalanya rumit.
waktu-waktu dimana aku menjadi salah satu manusia yang bahagia adalah disaat aku tak mengenalnya. begitu ucapku pada Tuhan. kehadiran cinta dalam diri seseorang itu, mengakibatkan kerusakan fatal pada rasa percaya diriku. aku seketika berantakan dan hilang kendali. aku merengek bagai manusia tak bertuhan saat kepercayaanku dibantai habis-habisan untuk pertama kalinya. aku menjadi lemah saat kebaikanku dijadikan busur paling akurat untuk dimanfaatkan berkali-kali. menjadi seorang pemaaf luar biasa saat semua kejelasan sakit bertubi-tubi yang dia berikan ada di depan mata. seketika aku melepaskan semua yang ada pada diriku demi mencintai satu orang. aku melupakan diriku yang begitu gagah berperang pada patriarki. aku melepaskan diriku yang biasa tegas dalam mengambil keputusan. semua hal yang ada pada diriku lenyap. yang tersisa hanyalah rasa takut yang selama ini dirantai lepas tak karuan. hanya ada satu yang tertinggal dalam diriku, yaitu bertahan. bertahan dari terkaan orang lain. bertahan dari kenyataan yang memaksa ku untuk biasa saja.
ku kira, ini akan berhasil. dengannya akan berhasil.
ku kira, aku sudah bertahan. namun aku semakin berantakan.
dalam setiap sujud, ku rangkai doa yang paling buruk untuk membunuh rasa yang ada dalam hatiku selama ini. berharap ia terluka dengan jutaan duri yang ditancapkan Tuhan dalam hatinya. berharap malam tak pernah nyenyak untuknya. semua beban diletakkan dalam kepalanya sampai nafasnya tak lagi sanggup menopang betapa berat rasa sakit itu. dan ketika dia memohon ampun, aku meminta pada Tuhan, hanya akulah satu-satu jawaban itu.
with love,
itijonas
Komentar