Langsung ke konten utama

berbicaralah dengan lantang

setiap orang pernah memiliki cinta yang disembunyikan dalam hatinya, walaupun sempat diuji terang-terangan kepada yang bersangkutan. terlalu kompleksnya pikiran satu manusia dengan manusia lain, sehingga selalu menumbuhkan banyak pertanyaan yang membuat kepala perempuan seperti aku ini ingin meledak. apakah berdosa, memiliki sebuah perasaan lalu menyimpannya seolah perasaan itu sudah tidak ada. namun sewaktu-waktu mudah saja muncul lagi ke permukaan? bukankah artinya, perasaan itu selama ini sengaja tidak dihilangkan. dengan harapan, pertemuan selanjutnya akan merubah kesepakatan di awal tadi.
aku tidak bisa menjadi teman dari seorang yang kadang saat berbicara dengannya, diam-diam hatiku berdebar. aku tidak bisa menenggelamkan keinginanku untuk berjalan pada jalur yang sudah ditetapkan. bagaimana, jika terus-terusan aku akan semakin menginginkannya? 

namun pada kenyataannya, aku memilih untuk mencintai yang lain.
aku membiarkannya menilai sebanyak yang dia mau tentang ucapanku yang membuatnya tidak yakin. aku tidak bisa meyakinkan orang, jika dia sendiri memilih untuk tidak ingin yakin pada apa yang telah di dengarnya langsung dari mulutku.  ada satu cerita yang sangat membuat hatiku berdebar, aku pernah baca satu kutipan "jika kau ingin memenangkan hatinya, maka senangkanlah perutnya." lalu aku berupaya untuk memberikannya sekotak makan siang yang ku buat khusus untuknya. masakan itu adalah resep original pertamaku yang berhasil. aku mempersembahkan padanya hatiku melalui apa yang ku masak. karena kata orang-orang jika seseorang sudah memberimu makan, itu artinya dia sudah memberimu hatinya. aku ingin memperlihatkan kesungguhan itu, namun nilai kesungguhan itu hanyalah ucapan terima kasih. di saat itu hatiku menjadi kerdil. ini pertama kalinya aku menerima penolakan yang begitu halus, sampai-sampai aku tidak mengerti dia menerima hatiku atau meletakkannya saja.

sampai di penghujung waktu, keragu-raguannya terhadap perasaanku yang membuatku mundur secepat kilat. artinya, dia tak ingin di yakinkan olehku. dia tak izinkan ku menggenapkan hatinya. lalu aku memilih pergi nemerima hati lain yang siap pada saat itu. aku terlalu takut, jika hatiku sampai pada akhinya, tetap tidak disambut dengan baik. aku terlalu takut menerka isi perasaannya. apakah pernah terbesit aku dalam kepalanya, apakah pernah tercetus dalam hatinya akan menua bersama. pikiran-pikiran seperti ini kadang jahat. mengkontaminasi hatiku yang pada awalnya dapat melangkah. karena saat mengenalnya, aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. 

ada masa dimana aku ingin mengatakan padanya, berbicaralah dengan lantang bahwa kau tidak menginginkanku. berbicaralah dengan lantang bahwa selama ini tidak pernah ada debar untukku. berbicaralah dengan lantang bahwa kau menjadikanku sekedar sebagai teman cerita saja. agar aku tak lagi salah paham menilai senyummu. agar aku tak kembali mengorek lagi apa yang sudah pernah ku sampai padamu bertahun-tahun lalu.

aku takut menginginkamu lagi pada usia ini.
aku sudah rentan patah hati. aku tidak ingin kau menjadi bagian dari orang-orang yang mematahkan hatiku. meski tidak bisa bersaman, aku ingin menjaga namamu sebagai orang yang pernah ingin aku miliki.


with love, itijonas.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...