setiap orang pernah memiliki cinta yang disembunyikan dalam hatinya, walaupun sempat diuji terang-terangan kepada yang bersangkutan. terlalu kompleksnya pikiran satu manusia dengan manusia lain, sehingga selalu menumbuhkan banyak pertanyaan yang membuat kepala perempuan seperti aku ini ingin meledak. apakah berdosa, memiliki sebuah perasaan lalu menyimpannya seolah perasaan itu sudah tidak ada. namun sewaktu-waktu mudah saja muncul lagi ke permukaan? bukankah artinya, perasaan itu selama ini sengaja tidak dihilangkan. dengan harapan, pertemuan selanjutnya akan merubah kesepakatan di awal tadi.
aku tidak bisa menjadi teman dari seorang yang kadang saat berbicara dengannya, diam-diam hatiku berdebar. aku tidak bisa menenggelamkan keinginanku untuk berjalan pada jalur yang sudah ditetapkan. bagaimana, jika terus-terusan aku akan semakin menginginkannya?
namun pada kenyataannya, aku memilih untuk mencintai yang lain.
aku membiarkannya menilai sebanyak yang dia mau tentang ucapanku yang membuatnya tidak yakin. aku tidak bisa meyakinkan orang, jika dia sendiri memilih untuk tidak ingin yakin pada apa yang telah di dengarnya langsung dari mulutku. ada satu cerita yang sangat membuat hatiku berdebar, aku pernah baca satu kutipan "jika kau ingin memenangkan hatinya, maka senangkanlah perutnya." lalu aku berupaya untuk memberikannya sekotak makan siang yang ku buat khusus untuknya. masakan itu adalah resep original pertamaku yang berhasil. aku mempersembahkan padanya hatiku melalui apa yang ku masak. karena kata orang-orang jika seseorang sudah memberimu makan, itu artinya dia sudah memberimu hatinya. aku ingin memperlihatkan kesungguhan itu, namun nilai kesungguhan itu hanyalah ucapan terima kasih. di saat itu hatiku menjadi kerdil. ini pertama kalinya aku menerima penolakan yang begitu halus, sampai-sampai aku tidak mengerti dia menerima hatiku atau meletakkannya saja.
sampai di penghujung waktu, keragu-raguannya terhadap perasaanku yang membuatku mundur secepat kilat. artinya, dia tak ingin di yakinkan olehku. dia tak izinkan ku menggenapkan hatinya. lalu aku memilih pergi nemerima hati lain yang siap pada saat itu. aku terlalu takut, jika hatiku sampai pada akhinya, tetap tidak disambut dengan baik. aku terlalu takut menerka isi perasaannya. apakah pernah terbesit aku dalam kepalanya, apakah pernah tercetus dalam hatinya akan menua bersama. pikiran-pikiran seperti ini kadang jahat. mengkontaminasi hatiku yang pada awalnya dapat melangkah. karena saat mengenalnya, aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama.
ada masa dimana aku ingin mengatakan padanya, berbicaralah dengan lantang bahwa kau tidak menginginkanku. berbicaralah dengan lantang bahwa selama ini tidak pernah ada debar untukku. berbicaralah dengan lantang bahwa kau menjadikanku sekedar sebagai teman cerita saja. agar aku tak lagi salah paham menilai senyummu. agar aku tak kembali mengorek lagi apa yang sudah pernah ku sampai padamu bertahun-tahun lalu.
aku takut menginginkamu lagi pada usia ini.
aku sudah rentan patah hati. aku tidak ingin kau menjadi bagian dari orang-orang yang mematahkan hatiku. meski tidak bisa bersaman, aku ingin menjaga namamu sebagai orang yang pernah ingin aku miliki.
with love, itijonas.
Komentar