Sebenarnya, banyak hal yang tidak ingin aku rasakan ketika memilih mengenalnya lebih baik, untuk saat ini. Namun semua mengalir tak terkendali. Dunia seolah menarikku pada alunan kisah yang dirangkai isi kepalaku sendiri. Mengenai kebaikannya, wajah tampannya, kepribadiaannya, seolah-olah aku dihipnotis waktu. Tapi, aku selalu menyangkal bahwa ini adalah kebenaran yang sudah berulang kali ku temukan pada dirinya. Sampai berandai-andai bahwa dia sangat layak untuk ku jadikan harapan di masa depanku. Setelah berkali-kali hatiku patah, tak terbendung percaya, dan banyak koleksi ketakukan lain terhadap makhluk yang bernama laki-laki, seseorang ini mengembalikan harapan itu. Sesorang ini kembali membuatku merajut harapan di kepala, bahwa masih ada yang layak, masih banyak yang baik, dan masih ada yang bisa diandalkan.
Pada setiap percakapan kami yang ku rekam di kepalaku, setiap nasihat yang
ku dengar, setiap perlakuan yang ku nilai diam-diam menyimpulkan banyak
kebaikan dalam hatiku. Aku tidak memilih untuk bersamanya, tapi aku membiarkan
diriku sembuh sebelum bertemu dengannya. Seperti itulah aku ingin hadir menjadi
perempuan yang tidak ingin melibatkannya dalam kelam-kelam perasaanku. Aku menata
ulang hidupku lagi, tanpa sadar aku mendengarkan semua nasihatnya, mengerjakan
semua yang dia katakan. Aku menjadi lebih baik melalui dia sebagai
perantaranya.
Ternyata menilai terlalu baik dengan cepat juga merupakan sumber penyakit
lain yang ku pelajari. Meskipun aku mengenalnya jauh lebih lama, bukan berarti
aku mengenal semua pribadinya. Ternyata manusia memang begitu, hanya
menampilkan hal-hal baik agar mudah dicintai. Semua hal-hal tadi yang ku
rangkai dalam kepalaku, pelan-pelan bubar tak karuan. Banyak hal yang membuatku
kaget dalam waktu yang instan, membuatku menelisik lebih dalam lagi, penilaianku
kemarin apakah meleset begitu jauh? Padahal, sebelumnya getar yang ku rasakan
saat dengannya terasa begitu tulus. Beberapa hal yang tidak bisa disangkal
adalah laki-laki memanglah makhluk pemburu. Dia akan terus berburu sampai ia
lelah.
Betapa egoisnya pikiranku mengira aku adalah pemburuan terkahirnya.
Ternyata, dia masihlah pemburu liar yang ingin menjajah kesana kemari
menemukan rumah yang mungkin nyaman ditempati. Darahnya masih begitu panas untuk
mengoleksi rumah-rumah rapuh yang siap untuk dihancurkan. Kenyataannya, banyak
hati yang patah akibat ia sering berpindah tempat. Penciumannya hanya tajam pada
gadis-gadis rapuh, namun tumpul terhadap hati wanita yang telah hancur karena
kedatangannya.
Padaku, ia mengatakan bahwa karirnya sedang ia titi dengan baik. Hal inilah yang membuatnya harus fokus pada masa depan yang entah sampai kapan bisa ia capai. Padaku, katanya waktunya habis untuk istirahat, pekerjaan dan menjadi dewasa membuatnya sulit untuk membentangkan perasaan yang lebar. Padaku, ia mengatakan bahwa ia tidak pernah jalan berdua dengan lawan jenis dalam waktu bersamaan. Padaku, ia berkata jika aku sudah milik orang lain aku tidak akan pergi denganmu.
Hingga, membuatku menyimpulkan, laki-laki seperti ini yang ku
butuhkan. Laki-laki yang tau bagaimana rasanya punya tanggung jawab yang besar,
laki-laki yang paham bahwa ia harus jadi pundak dan pondasi yang kokoh. Sampai-sampai
aku mendoakan agar masa depannya cepat tercapai. Dan beban di pundaknya segera
diringankan. Tapi pada cerita yang lain, ia mengatakan sudah sangat ingin
memiliki rumah yang hangat. Ia sudah ingin memiliki tempat pulang yang bisa memberinya
rasa nyaman. pada yang lain dia memiliki waktu yang fleksibel untuk sekedar
bertukar cerita. Pada yang lain dia bisa tepat waktu dan pada yang lain dia
bisa lebih leluasa.
Dia membiarkan aku bergumul dengan doa baik untuknya dibalik pesan singkat
yang ku dapat hanya sehari sekali itu. Dia membiarkan aku menjadi orang bodoh
yang percaya bahwa selama ini aku disalah pahami oleh ekspektasi dari doaku
sendiri. Harusnya, dari awal dia tidak ku beri akses untuk menjebol tembok tebal
yang bertahun-tahun ku bangun. Harusnya dari awal dia tidak katakan ingin
menyirami hidupku yang sedang layu itu. Harusnya dari awal, dia tidak
menempatkan diri sebagai pundak kokoh untuk mendengarkan semua rahasia hidup
yang tidak pernah ku bagi pada siapapun. Seharusnya, aku tidak mempercayainya
dari awal.
Dipenghujung dua puluhku, aku menemukan hal baru mengenai pria. Tidak semua
yang terlihat begitu sempurna dimatamu adalah persona dirinya yang sebenarnya. Diantara
banyak yang ku temui memang dia yang sempat menduduki peringkat sempurna. Namun
ternyata, memilih yang sempurna juga bukan jawaban yang tepat untuk bahagia,
toh, kali ini kecewa lagi kan?
with love, itijonas.
Komentar