Langsung ke konten utama

Enigma; sebuah sikap yang tidak jelas

 Sebenarnya, banyak hal yang tidak ingin aku rasakan ketika memilih mengenalnya lebih baik, untuk saat ini. Namun semua mengalir tak terkendali. Dunia seolah menarikku pada alunan kisah yang dirangkai isi kepalaku sendiri. Mengenai kebaikannya, wajah tampannya, kepribadiaannya, seolah-olah aku dihipnotis waktu. Tapi, aku selalu menyangkal bahwa ini adalah kebenaran yang sudah berulang kali ku temukan pada dirinya. Sampai berandai-andai bahwa dia sangat layak untuk ku jadikan harapan di masa depanku. Setelah berkali-kali hatiku patah, tak terbendung percaya, dan banyak koleksi ketakukan lain terhadap makhluk yang bernama laki-laki, seseorang ini mengembalikan harapan itu. Sesorang ini kembali membuatku merajut harapan di kepala, bahwa masih ada yang layak, masih banyak yang baik, dan masih ada yang bisa diandalkan.

Pada setiap percakapan kami yang ku rekam di kepalaku, setiap nasihat yang ku dengar, setiap perlakuan yang ku nilai diam-diam menyimpulkan banyak kebaikan dalam hatiku. Aku tidak memilih untuk bersamanya, tapi aku membiarkan diriku sembuh sebelum bertemu dengannya. Seperti itulah aku ingin hadir menjadi perempuan yang tidak ingin melibatkannya dalam kelam-kelam perasaanku. Aku menata ulang hidupku lagi, tanpa sadar aku mendengarkan semua nasihatnya, mengerjakan semua yang dia katakan. Aku menjadi lebih baik melalui dia sebagai perantaranya.

Ternyata menilai terlalu baik dengan cepat juga merupakan sumber penyakit lain yang ku pelajari. Meskipun aku mengenalnya jauh lebih lama, bukan berarti aku mengenal semua pribadinya. Ternyata manusia memang begitu, hanya menampilkan hal-hal baik agar mudah dicintai. Semua hal-hal tadi yang ku rangkai dalam kepalaku, pelan-pelan bubar tak karuan. Banyak hal yang membuatku kaget dalam waktu yang instan, membuatku menelisik lebih dalam lagi, penilaianku kemarin apakah meleset begitu jauh? Padahal, sebelumnya getar yang ku rasakan saat dengannya terasa begitu tulus. Beberapa hal yang tidak bisa disangkal adalah laki-laki memanglah makhluk pemburu. Dia akan terus berburu sampai ia lelah.

Betapa egoisnya pikiranku mengira aku adalah pemburuan terkahirnya.

Ternyata, dia masihlah pemburu liar yang ingin menjajah kesana kemari menemukan rumah yang mungkin nyaman ditempati. Darahnya masih begitu panas untuk mengoleksi rumah-rumah rapuh yang siap untuk dihancurkan. Kenyataannya, banyak hati yang patah akibat ia sering berpindah tempat. Penciumannya hanya tajam pada gadis-gadis rapuh, namun tumpul terhadap hati wanita yang telah hancur karena kedatangannya.  

Padaku, ia mengatakan bahwa karirnya sedang ia titi dengan baik. Hal inilah yang membuatnya harus fokus pada masa depan yang entah sampai kapan bisa ia capai. Padaku, katanya waktunya habis untuk istirahat, pekerjaan dan menjadi dewasa membuatnya sulit untuk membentangkan perasaan yang lebar. Padaku, ia mengatakan bahwa ia tidak pernah jalan berdua dengan lawan jenis dalam waktu bersamaan. Padaku, ia berkata jika aku sudah milik orang lain aku tidak akan pergi denganmu. 

Hingga, membuatku menyimpulkan, laki-laki seperti ini yang ku butuhkan. Laki-laki yang tau bagaimana rasanya punya tanggung jawab yang besar, laki-laki yang paham bahwa ia harus jadi pundak dan pondasi yang kokoh. Sampai-sampai aku mendoakan agar masa depannya cepat tercapai. Dan beban di pundaknya segera diringankan. Tapi pada cerita yang lain, ia mengatakan sudah sangat ingin memiliki rumah yang hangat. Ia sudah ingin memiliki tempat pulang yang bisa memberinya rasa nyaman. pada yang lain dia memiliki waktu yang fleksibel untuk sekedar bertukar cerita. Pada yang lain dia bisa tepat waktu dan pada yang lain dia bisa lebih leluasa.

Dia membiarkan aku bergumul dengan doa baik untuknya dibalik pesan singkat yang ku dapat hanya sehari sekali itu. Dia membiarkan aku menjadi orang bodoh yang percaya bahwa selama ini aku disalah pahami oleh ekspektasi dari doaku sendiri. Harusnya, dari awal dia tidak ku beri akses untuk menjebol tembok tebal yang bertahun-tahun ku bangun. Harusnya dari awal dia tidak katakan ingin menyirami hidupku yang sedang layu itu. Harusnya dari awal, dia tidak menempatkan diri sebagai pundak kokoh untuk mendengarkan semua rahasia hidup yang tidak pernah ku bagi pada siapapun. Seharusnya, aku tidak mempercayainya dari awal.

Dipenghujung dua puluhku, aku menemukan hal baru mengenai pria. Tidak semua yang terlihat begitu sempurna dimatamu adalah persona dirinya yang sebenarnya. Diantara banyak yang ku temui memang dia yang sempat menduduki peringkat sempurna. Namun ternyata, memilih yang sempurna juga bukan jawaban yang tepat untuk bahagia, toh, kali ini kecewa lagi kan?  


with love, itijonas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kau pantas mencari penggantinya

“kamu bertahan untuk apa? Memutar waktu? Membalikkan hati manusia yang sudah tak mengingatmu?” seru Anita  Dalam rintikan hujan, Dinda termenung memikirkan setiap rangkaian kata dari Anita. Dalam pikirannya hanya bermain-main satu orang laki-laki yang sejak dulu tak ingin ia lupakan.   Ia bertahan karena ia percaya bahwa keajaiban akan mengembalikan hati lelaki itu. Ia tak pernah bosan untuk bertahan menanti, walau ia tau bagaimana rasanya di abaikan berkali-kali. Andai waktu dapat menjawab hati manusia lebih cepat, penantian mungkin takkan pernah berujung lama dan penuh tanda tanya seperti yang terjadi pada setiap manusia saat ini. Andai rasa bisa di hapus dengan lebih cepat tanpa harus menunggu waktu, pasti tak banyak manusia yang merasakan luka dan rasa iba setiap saat. Tapi, waktu terlalu sering bermain-main hingga ia berlama-lama mengguncang hati manusia setiap kali manusia terluka. *** “bagaimana sudah berfikiran jernih?” tanya Anita tiba-tiba “ti...

saya bercerita sedikit

  hello semua para pembaca, ini cerita saya kemarin 8. Oktober 2013 selamat membaca dan melihat beberapa foto yang tertera :)   cerita kemarin, kemarau sudah mulai menampakkan jati dirinya. pepohonan mulai menguning dan gugur satu per satu. udara yang begitu dingin membuat tubuh sedikit menggigil. namun tidak menghalangi niat saya untuk terus berjalan dan mencari tahu seluk-beluk kota ini. ini dia salah satu taman kota yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal saya.  -Ronaldstrasse- haltestelle berkunjung kesana untuk pertama kalinya, dengan modal nekat tanpa tau tempat lebih tepatnya. berjalan bersama seorang teman sehabis pulang kursus, setidaknya melupakan sedikit beban kepala yang begitu menumpuk. balik lagi, taman ini sewaktu saya berkunjung tidak begitu ramai, mungkin di karenakan masih terlalu siang, banyaknya pohon membuat rindang taman ini, saya tidak banyak memotret tapi coba lihat beginilah kira-kira keadaan taman yang saya kunju...

kau biarkan aku berperang sendirian

tulisan ini terbentuk dari potongan-potongan perasaan yang tak bisa ku utarakan. saat itu menilai diriku dan kamu hanyalah bentuk ketidakdewasaan. namun setelah ku telusuri segala sisi dari hidupku, melihat dari sisi terluar perasaan kita, lingkungan baru membuat cara pandangku semakin berbeda. patutlah aku beranjak lebih cepat. depalan tahun lalu, sebelum kita memutuskan untuk saling memaafkan lagi. kita punya misi yang baik untuk dapat ku percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya. kau terjebak dengan pesona masa lalumu ini, aku terjebak dengan kata cinta yang selalu kau utarakan berkali-kali. sekejap kita bagaikan simpul tali yang terikat dengan erat. hari-hariku bersamamu adalah waktu dimana aku berusaha menyesuaikan diri, meninggalkan ego di kantong belakang, agar janji tersebut dapat terlaksana. ku beri kau seluruh dunia, agar semangatmu tak lagi hilang. ku beri kau seluruh cinta agar sepimu tak lagi datang. ku beri kau waktu yang berlimpah, agar kau tak perlu menanggung rindu. sa...