Langsung ke konten utama

ingin ku sebut namamu sekali lagi dalam denyutku

tak pernah ku mencoba untuk melupakan rasa yang pernah kau gores kan ke dalam jiwaku
kau beri ku sayap, kau buat ku terbang dan ajak ku mengelilingi dunia
melihat indahnya bumi ciptaan tuhan yang tak bisa di bandingkan dengan apa-apa
kau ajarkan aku mengenal luka, dan ajarkan ku mengobati nya
kau izinkan ku ber manja, menikmati dunia remaja
kau buatku tertawa dengan semua lelucon garing yang kau punya
bahkan kau belajar berbicara dengan bahasa yang jarang kau gunakan

hatimu, aku mengenalnya..
jiwamu, aku memahaminya..
cintamu, aku merasakannya..

kau.. cinta yang dikirimkan tuhan untuk memperbaiki hati yang luka
kau.. cinta yang di anugerahkan tuhan untuk beri ku senyuman
setiap kali ku terbangun dari tidur
ingin ku sebut namamu sekali lagi dalam denyut ku..
entah apa alasan yang bisa ku jelaskan
hanya saja ingin ku sebut namamu sekali lagi dalam denyut ku

sadarkah engkau kini ku merindukan mu?
absurd perasaan ini mengingatkan tentang kita
dulu ku putuskan untuk meninggalkan segala petualangan cintaku dan cintamu
dulu ku tinggalkan kau di ujung rasa bersalah
dan kini kau telah beranjak pergi dari sana
hujan menerpa tangis mu, hingga petir melukiskan amarahmu
luka-luka yang kau rasakan akibat ulah yang ku perbuat
tapi, apakah kau bisa mengobati luka mu karenaku seperti kau ajarkan ku mengobati luka ku  karenanya?

sayang, maaf..
aku tak bisa menjadi pengobat hatimu
penghapus air matamu
bahkan untuk menjadi sandaran kesedihan mu pun aku tak mampu
karena kau terlalu kecewa akan cara ku

bahkan kau tak bisa menutupui nya bukan?
tapi kau tetap tidak bisa menutupi bahwa kau masih menginginkan ku
begitu pun aku
aku masih sangat menginginkan mu
apakah yang harus aku lakukan untuk menebus ini?
ingin ku sebut namamu sekali lagi dalam denyut ku


write by  @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...