Langsung ke konten utama

lidahku belum cukup berani untuk jujur

"disaat lidah tak bisa berbicara hanya hati yang memiliki segala kejujuran yang tak terduga oleh logika"

pandanganku. hatiku. bahkan getaran jemari kecilku tertuju untuk kau yang berjalan melewati dinding-dinding pembatas yang ku buat sejak kepergianmu. kau masih memiliki banyak rentetan cara untuk merobohkannya. selalu ku coba membangun kembali puing-puing yang sempat kau hancurkan dengan seulas senyum manis mu itu. Lalu, lagi-lagi dinding itu roboh hanya dengan satu tatapan yang begitu ku rindukan. ada banyak hal yang ingin ku ceritakan tapi banyak pula faktor yang mengurungkan niat ku untuk jujur. hanya angin dan hujan yang selalu mendengar celotehan ku tentang kau. dan lagi-lagi tentang kau.

kerinduan ku akan sosok dirimu tak bisa ku hindari ketika malam mulai menyelimuti. kerinduan yang begitu hebat membuat denyut-denyut ku tak bisa berkelakuan normal. memandang handphone dengan penuh harapan kosong. berjam-jam rela ku lakukan untuk menunggu panggilan darimu. 5 bulan 28 hari itulah kira-kira waktu ku hitung untuk menunggu mu kembali menjamah ku dengan kehangatan. tapi ini kosong tak ada harapan, tak ada kesempatan. kau hilang bak di telan sang bumi dan jika pagi mulai menyongsong, hal pertama yang selalu  ku lakukan kembali melirik gadget yang selalu ku pegang bahkan disaat aku terlelap, tetap saja panggilan itu tetap tidak ada. siapa yang tau aku rela melakukan hal ter bodoh seperti itu? siapa yang percaya kebiasaan yang memalukan itu ku lakukan demi meringankan rindu yang tak berbalas? karena lidahku belum cukup berani untuk jujur..
dimulai dengan hari yang begitu menggairahkan untuk mengikuti deretan pelajaran yang membosankan ku lirik arloji, menunggu kedatangan mu di gerbang sekolah. tak kunjung ku dapati makhluk tuhan itu berada disana. memasuki ruangan kelas yang berisi pelajar-pelajar yang sibuk mendiskusikan mata pelajaran yang tak pernah membuatku bersemangat itu, duduk dan mendengarkan beberapa alunan lagu yang sempat kau kisah kan tentang betapa besar cintamu kala itu. dan mulai saat yang ku tunggu jam istirahat. berlari keluar layaknya sedang berada dalam lomba pacu lari aku berdiri di depan pintu kelas menunggu kau lewat disana. ya! kau disana! berjalan layaknya pangeran yang melelahkan semua organ-organ pada tubuhku. tiada kedip, tiada ucapan untukmu. hening yang berkepanjangan ku persembahkan karena lidahku belum cukup berani untuk jujur padamu bahwa aku merindukan mu selalu. kau lewati tubuhku seolah kau tak lihat aku disana. kau tertawa layaknya ada hal yang sangat ingin kau tertawakan disana. kau .. kau .. dingin..
aku belum bisa berkata jujur akan perasaan ku kini. aku belum berani mengambil sikap tegas pada hatiku ini. karena aku belum cukup berani untuk jujur. karena yang ku tahu terkadang jujur itu menyakitkan. pikiran dan bayangan negatif selalu bermain-main di kepalaku. entah apa yang aku pikirkan hanya saja lidahku belum cukup berani untuk jujur pada keadaan!

"sekarang atau tidak selamanya!" kalimat yang menghantam ulu hatiku ketika mereka meyakinkan ku untuk berkata jujur padamu.
dan saat itulah ku beranikan diri untuk mencoba membuka lembaran-lembaran yang sempat ku kunci rapat dalam dunia khayal ku ini. mencoba untuk berkata "hai!" dan memberikan sedikit sentuhan senyum pada pesan singkat yang ku kirimkan pada mu. jelas dan jujur aku belum cukup kuat untuk jujur sampai detik ini pun niat ku masih ku urungkan bahwa dialog-dialog dalam otak ku mati seketika membeku. kini ku masih ragu untuk jujur karena lidah ku belum cukup berani untuk jujur bahwa aku merindukan hadir mu mengisi hari-hari ku lagi. merindukan sapaan mu setiap pagi dan malam menjelang tidur ku. merindukan hangatnya genggaman mu melindungi ku bahkan merindukan tawaran mu untuk bermain-main dengan hujan. untuk kini hanya paragraf-paragraf bodoh yang bisa ku tuliskan. karena aku hanya terbiasa mengungkapkan kejujuran lewat tulisan. jika nanti lidahku sudah berani untuk berkata jujur. Bisakah kau izinkan aku mendapatkan kesempatan kedua?


write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...