Bunda, hari demi hari aku tumbuh dewasa. Apakah kau bahagia melihatku tumbuh? Bunda aku juga merasa semuanya terlalu cepat. Aku masih merasa seperti anak kecil yang merengek memintamu untuk menggendong ku, membelikan kebutuhanku dan membacakan dongeng ketika ku ingin tertidur. Tapi kini aku sudah dewasa bunda. Aku sudah bisa berfikir mana yang harus aku lakukan dan yang tidak harus aku lakukan. Bunda pernah kah bunda bangga kepadaku? Bunda, pernahkah aku membuat bunda menangis? Bunda apa ada yang kurang dari pengabdianku?
Bunda, aku
anakmu yang selalu mencintaimu.
Bunda, apa kau
lelah? Mengerjakan pekerjaan kantor lalu mengerjakan pekerjaan rumah sendirian?
Bunda aku ingin sekali membantumu. Meringankan bebanmu. Aku ingin setiap hari memberi
senyum untuk mu. Bunda aku ini anakmu yang mungkin belum bisa menjalankan
kewajiban untukmu.
Bunda, aku
anakmu yang selalu mencintaimu.
Bunda, kau tau
bukan? Kau adalah pahlawan yang memberiku jiwa baja seperti ini. Bunda ingatkah
kau pernah berkata “anak yang memiliki
tongkat sendiri untuk berdiri ketika ia terjatuh adalah anak yang paling bunda
idamkan” bunda aku sedang belajar seperti itu. Seperti yang kau katakan kau
selalu ingin melihat anakmu ini mandiri, berjiwa besar dan tegar. Kau mengajariku
hal-hal apa yang seharusnya aku lakukan ketika aku sendiri. Kau mengajariku untuk
selalu tidak bergantung pada kehadiranmu. Walau sesungguhnya bunda, aku sangat
menginginkan kau selalu berada di sisiku mendampingiku. Mengingatkan ku ketika
jalan ku sudah tak lurus lagi. Tapi karena kau telah memberi tongkat untukku,
jadi ketika aku terjatuh sendirian pun aku masih bisa bangkit. Terima kasih
bunda tercinta.
Bunda, aku
ingin sekali memelukmu pada saat malam mulai menghapiri. Aku ingin mencium
keningmu seperti ketika aku kecil selalu kau kecup hingga aku merasakan
kehangatan cintamu bunda. Aku ingin sekali membuatmu bangga kepada ku. Aku ingin
sekali melihatmu tersenyum. melihat anakmu berada di cita-cita yang selama ini
ia idam-idamkan. Bunda apakah masih ada waktu ku untuk membuatmu tersenyum?
Bunda, aku pernah
melukai hatimu. Aku pernah tak mendengarkan nasehatmu. Aku malah pernah
menangisi seseorang yang orang itu bukan dirimu. Bunda apa kau sempat kecewa? Bunda
aku ingin berubah. Aku ingin mengabdi untukmu. Aku ingin berjalan sesuai apa
yang pernah kau katakan. Aku ingin kau membimbingku sekali lagi. Aku ingin
menghapus air mata kekecewaan mu. Bunda ingat tidak bagaimana dulu aku pernah
menangis di depan mu karena seseorang itu? Kau melihatku dengan iba seraya
mengelus rambutku memberi ku nasehat yang hingga kini selalu ku yakini. Bunda bilang
“air matamu itu bukan untuk menangisi
kesalahan masa lalu yang pernah kau buat. Tapi tersenyumlah katakan kau bisa
lebih baik dari sebelumnya. Manusia hebat itu yang selalu belajar dari
kesalahan untuk tidak jatuh pada lubang yang sama. Manusia hebat itu yang
selalu bersabar jika di hadapkan pada situasi sulit. Manusia hebat itu yang
selalu bisa menjaga dirinya. Manusia hebat itu yang selalu bangga dan bersyukur
dengan apa yang dia miliki. Manusia hebat
itu tak mengenal penyesalan. Mereka manusia hebat akan selalu berpacu untuk
maju walaupun ribuan tali mengikat langkahnya. Manusia hebat itu seperti anak
bunda. Anak bunda yang kuat. Anak bunda yang selalu berjalan dengan penuh
senyum. Anak bunda yang paling bunda banggakan”. Bunda, itu adalah
serangkaian kalimat indah yang pernah bunda sampaikan padaku. Bunda begitu
percayakah kau kepadaku?
Bunda jika
kali ini, kesempatan mengizinkan ku untuk membuktikan segalanya. Aku ingin
membuktikan padamu bahwa aku ini anakmu yang pasti akan membuatmu bangga. Bunda
maafkan aku jika selama ini aku belum memberi mu banyak kebahagiaan. Suatu saat
nanti ku pastikan senyuman kebanggaan yang kau harapkan hari ini akan terwujud.
Bunda, aku sedang belajar untuk mencari pengalaman hidup. Bunda maafkan aku
jika ketika mencari aku sempat mengabaikan mu. Bunda aku hanya anakmu. Manusia biasa.
Bunda bersabarlah, kekuatan mu. Kesabaran mu. Ketabahan mu. Akan menuai hasil. Bunda
aku bahagia memiliki mu disisiku. Bunda tetaplah menjadi perisai ketika aku
mulai lelah. Aku akan mengejar semua mimpi yang pernah ku janjikan padamu. Kali
ini aku mungkin hanya bisa berjanji. Tapi nanti kau akan melihat hasilnya
sambil tersenyum bangga. Bahwa aku anakmu ini adalah manusia hebat yang selama
ini kau mimpikan.
Bunda terima
kasih atas segala cinta, cerita, pengalaman dan nasehat yang pernah kau hiasi.
Bunda terima
kasih atas kepercayaan mu padaku.
Bunda terima
kasih atas kesabaranmu mendidikku.
Bunda aku
mencintaimu lebih dari mereka yang pernah membuatku jatuh cinta.
Bunda aku
mencintaimu lebih dari apa pun.
Karna kau
bundaku.
Bunda terhebat
sepanjang masa.
Hilangkanlah keraguanmu,
tersenyumlah bunda, percayalah aku selalu mencintaimu
Selamat hari “Bunda”
22 Desember
write by @istiqasuwondo
Komentar