Langsung ke konten utama

Terima kasih bunda tercinta


Bunda, hari demi hari aku tumbuh dewasa. Apakah kau bahagia melihatku tumbuh? Bunda aku juga merasa semuanya terlalu cepat. Aku masih merasa seperti anak kecil yang merengek memintamu untuk menggendong ku, membelikan kebutuhanku dan membacakan dongeng ketika ku ingin tertidur. Tapi kini aku sudah dewasa bunda. Aku sudah bisa berfikir mana yang harus aku lakukan dan yang tidak harus aku lakukan. Bunda pernah kah bunda bangga kepadaku? Bunda, pernahkah aku membuat bunda menangis? Bunda apa ada yang kurang dari pengabdianku?

Bunda, aku anakmu yang selalu mencintaimu.
Bunda, apa kau lelah? Mengerjakan pekerjaan kantor lalu mengerjakan pekerjaan rumah sendirian? Bunda aku ingin sekali membantumu. Meringankan bebanmu. Aku ingin setiap hari memberi senyum untuk mu. Bunda aku ini anakmu yang mungkin belum bisa menjalankan kewajiban untukmu.

Bunda, aku anakmu yang selalu mencintaimu.
Bunda, kau tau bukan? Kau adalah pahlawan yang memberiku jiwa baja seperti ini. Bunda ingatkah kau pernah berkata “anak yang memiliki tongkat sendiri untuk berdiri ketika ia terjatuh adalah anak yang paling bunda idamkan” bunda aku sedang belajar seperti itu. Seperti yang kau katakan kau selalu ingin melihat anakmu ini mandiri, berjiwa besar dan tegar. Kau mengajariku hal-hal apa yang seharusnya aku lakukan ketika aku sendiri. Kau mengajariku untuk selalu tidak bergantung pada kehadiranmu. Walau sesungguhnya bunda, aku sangat menginginkan kau selalu berada di sisiku mendampingiku. Mengingatkan ku ketika jalan ku sudah tak lurus lagi. Tapi karena kau telah memberi tongkat untukku, jadi ketika aku terjatuh sendirian pun aku masih bisa bangkit. Terima kasih bunda tercinta.

Bunda, aku ingin sekali memelukmu pada saat malam mulai menghapiri. Aku ingin mencium keningmu seperti ketika aku kecil selalu kau kecup hingga aku merasakan kehangatan cintamu bunda. Aku ingin sekali membuatmu bangga kepada ku. Aku ingin sekali melihatmu tersenyum. melihat anakmu berada di cita-cita yang selama ini ia idam-idamkan. Bunda apakah masih ada waktu ku untuk membuatmu tersenyum?

Bunda, aku pernah melukai hatimu. Aku pernah tak mendengarkan nasehatmu. Aku malah pernah menangisi seseorang yang orang itu bukan dirimu. Bunda apa kau sempat kecewa? Bunda aku ingin berubah. Aku ingin mengabdi untukmu. Aku ingin berjalan sesuai apa yang pernah kau katakan. Aku ingin kau membimbingku sekali lagi. Aku ingin menghapus air mata kekecewaan mu. Bunda ingat tidak bagaimana dulu aku pernah menangis di depan mu karena seseorang itu? Kau melihatku dengan iba seraya mengelus rambutku memberi ku nasehat yang hingga kini selalu ku yakini. Bunda bilang “air matamu itu bukan untuk menangisi kesalahan masa lalu yang pernah kau buat. Tapi tersenyumlah katakan kau bisa lebih baik dari sebelumnya. Manusia hebat itu yang selalu belajar dari kesalahan untuk tidak jatuh pada lubang yang sama. Manusia hebat itu yang selalu bersabar jika di hadapkan pada situasi sulit. Manusia hebat itu yang selalu bisa menjaga dirinya. Manusia hebat itu yang selalu bangga dan bersyukur  dengan apa yang dia miliki. Manusia hebat itu tak mengenal penyesalan. Mereka manusia hebat akan selalu berpacu untuk maju walaupun ribuan tali mengikat langkahnya. Manusia hebat itu seperti anak bunda. Anak bunda yang kuat. Anak bunda yang selalu berjalan dengan penuh senyum. Anak bunda yang paling bunda banggakan”. Bunda, itu adalah serangkaian kalimat indah yang pernah bunda sampaikan padaku. Bunda begitu percayakah kau kepadaku?

Bunda jika kali ini, kesempatan mengizinkan ku untuk membuktikan segalanya. Aku ingin membuktikan padamu bahwa aku ini anakmu yang pasti akan membuatmu bangga. Bunda maafkan aku jika selama ini aku belum memberi mu banyak kebahagiaan. Suatu saat nanti ku pastikan senyuman kebanggaan yang kau harapkan hari ini akan terwujud. Bunda, aku sedang belajar untuk mencari pengalaman hidup. Bunda maafkan aku jika ketika mencari aku sempat mengabaikan mu. Bunda aku hanya anakmu. Manusia biasa. Bunda bersabarlah, kekuatan mu. Kesabaran mu. Ketabahan mu. Akan menuai hasil. Bunda aku bahagia memiliki mu disisiku. Bunda tetaplah menjadi perisai ketika aku mulai lelah. Aku akan mengejar semua mimpi yang pernah ku janjikan padamu. Kali ini aku mungkin hanya bisa berjanji. Tapi nanti kau akan melihat hasilnya sambil tersenyum bangga. Bahwa aku anakmu ini adalah manusia hebat yang selama ini kau mimpikan.

Bunda terima kasih atas segala cinta, cerita, pengalaman dan nasehat yang pernah kau hiasi.
Bunda terima kasih atas kepercayaan mu padaku.
Bunda terima kasih atas kesabaranmu mendidikku.
Bunda aku mencintaimu lebih dari mereka yang pernah membuatku jatuh cinta.
Bunda aku mencintaimu lebih dari apa pun.
Karna kau bundaku.
Bunda terhebat sepanjang masa.
Hilangkanlah keraguanmu, tersenyumlah bunda, percayalah aku selalu mencintaimu
Selamat hari “Bunda” 22 Desember 

write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...