'kita meyakini satu hal, cinta kita seperti; waktu hujan turun'
waktu itu kita selalu menyebutkan 'pertemuan kita selalu bersama hujan'. entah percaya ataupun tidak, aku juga meyakini itu. tak pernah terkecuali sedikitpun setiap pertemuan yang ada, kau dan aku selalu bersama hujan. tidak mengada-ada, aku memperhatikan, aku menghitung setiap pertemuan dan aku menandakan semua kegiatan, kita di temani hujan. aku suka bermain hujan, sama halnya denganmu. aku mencintai hujan, jauh sebelum pertemuan kita dulu. aku merindukan tetesan hujan setiap harinya, sama seperti setiap tetes hemoglobin ku merinduimu.
waktu hujan turun, kakiku bergegas menuju teras rumah, duduk berlama-lama menikmati aroma tanah basah, percikan menggelitik dari tetesan hujan membuatku memutar kenangan, saat bertahun-tahun yang lalu kita duduk menikmati hujan di temani sebuah ular tangga dan coklat panas di teras yang sama, menadahkan tangan serta bercanda di antara deru hujan yang memburu. tapi itu hanya memori. hanya ingatan yang masih menempel dengan ramah setiap kali hujan meminta untuk membasahi bumi.
waktu hujan turun, lingkaran senyum yang tergambar dari raut wajah mu terlihat jelas, menatapku dengan hangat, lalu menarikku. kita berlarian kesana kemari seperti dua anak kecil yang sangat berbahagia, berdansa tanpa mengerti bagaimana caranya, hanya mengepalkan kedua tangan lalu berputar seperti orang bodoh, tapi itu tak apa, semua tertawa melihat tingkah kita, tak ada yang melarang, mereka hanya melihat, tertawa dan berlalu.
sama halnya di saat Senin bertahun-tahun lalu, waktu hujan turun, kita tanpa sengaja bertemu, waktu itu jalanan padat sekali, aku tak menemukan kendaraan umum menuju rumahku, memang itu sebuah kebetulan, kau menyeru menyebutkan namaku dua kali dengan teriakan sedang, menoleh dan kau menghampiriku menyuruhku mengikuti laju sepeda motor putihmu. disepanjang perjalanan pun kau tak mengeluarkan ucapan apapun, kau menepikan sepeda motormu, kita berhenti di sebuah warung kecil, kau bilang penglihatanmu sudah mulai buram. kau memesankan dua cangkir coklat panas kesukaan kita, kau mulai bertanya.
'kenapa nggak kasih kabar kalau nggak dapat angkot?'
'maaf hp ketinggalan'
'lain kali jangan kayak gini, kamu perempuan gak baik pulang sendiri'
'iya. terima kasih ya'
dan kita melanjutkan menikmati segelas coklat panas masing-masing, seperti halnya pria, kau tak lupa memberi jaket kulit mu padaku. aku menolak dengan pelan dan kita memutuskan untuk tidak mengenakan jaket ataupun helm. kita berdua, hangat bersama dinginnya hujan waktu itu.
kini, diwaktu hujan turun, aku hanya mengingatmu.
membuka buku yang didalamnya berisi tentangmu, aku kembali duduk di teras yang sama. aku tak bersedih, hanya aku merindui. hujan dimatakupun ikut turun, perlahan, tak deras, tapi tak berhenti. menyebutkan namamu sekali lagi; waktu hujan turun.
jantungku masih berdebar menyebutkan namamu, kakiku masih bergetar ketika bertemu denganmu, nafasku masih tersendat berbicara denganmu. kita sudah lama tak bertemu, tapi melihatmu sekali lagi, aku tak bisa menepiskan, betapa kau belum sepenuhnya hilang dari memoriku, tak luput, kau masih sama; satu pria yang kurindui diwaktu hujan turun.
aku dan kamu; waktu hujan turun
recommended by TNL
write by @istiqasuwondo
Komentar