Langsung ke konten utama

waktu hujan turun

'kita meyakini satu hal, cinta kita seperti; waktu hujan turun'
 
waktu itu kita selalu menyebutkan 'pertemuan kita selalu bersama hujan'. entah percaya ataupun tidak, aku juga meyakini itu. tak pernah terkecuali sedikitpun setiap pertemuan yang ada, kau dan aku selalu bersama hujan. tidak mengada-ada, aku memperhatikan, aku menghitung setiap pertemuan dan aku menandakan semua kegiatan, kita di temani hujan. aku suka bermain hujan, sama halnya denganmu. aku mencintai hujan, jauh sebelum pertemuan kita dulu. aku merindukan tetesan hujan setiap harinya, sama seperti setiap tetes hemoglobin ku merinduimu. 

waktu hujan turun, kakiku bergegas menuju teras rumah, duduk berlama-lama menikmati aroma tanah basah, percikan menggelitik dari tetesan hujan membuatku memutar kenangan, saat bertahun-tahun yang lalu kita duduk menikmati hujan di temani sebuah ular tangga dan coklat panas di teras yang sama, menadahkan tangan serta bercanda di antara deru hujan yang memburu. tapi itu hanya memori. hanya ingatan yang masih menempel dengan ramah setiap kali hujan meminta untuk membasahi bumi.

waktu hujan turun, lingkaran senyum yang tergambar dari raut wajah mu terlihat jelas, menatapku dengan hangat, lalu menarikku. kita berlarian kesana kemari seperti dua anak kecil yang sangat berbahagia, berdansa tanpa mengerti bagaimana caranya, hanya mengepalkan kedua tangan lalu berputar seperti orang bodoh, tapi itu tak apa, semua tertawa melihat tingkah kita, tak ada yang melarang, mereka hanya melihat, tertawa dan berlalu. 

sama halnya di saat Senin bertahun-tahun lalu, waktu hujan turun, kita tanpa sengaja bertemu, waktu itu jalanan padat sekali, aku tak menemukan kendaraan umum menuju rumahku, memang itu sebuah kebetulan, kau menyeru menyebutkan namaku dua kali dengan teriakan sedang, menoleh dan kau menghampiriku menyuruhku mengikuti laju sepeda motor putihmu. disepanjang perjalanan pun kau tak mengeluarkan ucapan apapun, kau menepikan sepeda motormu, kita berhenti di sebuah warung kecil, kau bilang penglihatanmu sudah mulai buram. kau memesankan dua cangkir coklat panas kesukaan kita, kau mulai bertanya.
'kenapa nggak kasih kabar kalau nggak dapat angkot?'
'maaf hp ketinggalan'
'lain kali jangan kayak gini, kamu perempuan gak baik pulang sendiri'
'iya. terima kasih ya'
dan kita melanjutkan menikmati segelas coklat panas masing-masing, seperti halnya pria, kau tak lupa memberi jaket kulit mu padaku. aku menolak dengan pelan dan kita memutuskan untuk tidak mengenakan jaket ataupun helm. kita berdua, hangat bersama dinginnya hujan waktu itu.

kini, diwaktu hujan turun, aku hanya mengingatmu. 
membuka buku yang didalamnya berisi tentangmu, aku kembali duduk di teras yang sama. aku tak bersedih, hanya aku merindui. hujan dimatakupun ikut turun, perlahan, tak deras, tapi tak berhenti. menyebutkan namamu sekali lagi; waktu hujan turun.
jantungku masih berdebar menyebutkan namamu, kakiku masih bergetar ketika bertemu denganmu, nafasku masih tersendat berbicara denganmu. kita sudah lama tak bertemu, tapi melihatmu sekali lagi, aku tak bisa menepiskan, betapa kau belum sepenuhnya hilang dari memoriku, tak luput, kau masih sama; satu pria yang kurindui diwaktu hujan turun.



aku dan kamu; waktu hujan turun


recommended by TNL

write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...