Langsung ke konten utama

sehari kemarin : 'Kedutaan Negara Federasi Jerman'

kali ini gue mau share deh tentang kejadian yang gue alami tanggal 5 juni kemaren. ini demi melanjutkan mimpi-mimpi yang masih tergantung indah di otak gue. ini ceritanya, gue -insyaallah- bakalan ngelanjutin study ke negara Jerman. itu memang kesempatan yang nggak pernah gue bayangin selama ini. gue yang belum pernah mengenal bahasa ataupun kultur dari negara itu dengan pasti, tapi memutuskan untuk menginjakkan kaki kesana, mangadu nasib dan merubah kepribadian mungkin lebih tepatnya. setahun gue mempelajari banyak hal tentang negara Jerman. banyak yang belum gue mengerti, tapi gue nggak pernah nyerah buat cari tau segala hal yang menyangkut tentang sistem perkuliahan, cara belajar, jenis-jenis universitas, tatacara bebicara, dan segala hal lainnya. gue sempat ragu, negara ini, terlalu menjunjung tinggi kedisiplinan. waktu adalah hal yang paling berharga. begitulah kata mereka

dilanjutkan, mungkin pas ditahun gue kena apes lagi, sistem perkuliahan di Jerman mengalami perubahan, biasanya, yang ingin masuk Universitas ataupun Fachhochschule harus memiliki setifikat belajar bahasa Jerman minimal 600 jam. dan di tahun gue sekarang, 2013 di rubah menjadi 800 jam!! coba bayangkan! alhasil bapak Amran alias bapak Markus Wunsche yang akan mengayomi keberangkatan kami memutar otak untuk mencari jalan keluarnya. jika, 200 jam itu di tambah di negara Jerman, biaya akan bertambah 4 kali lipat, jadi bapak Amran memutuskan untuk meminta kami belajar ke Balikpapan selama 2 bulan dan Dosen yang didatangkan langsung dari Jerman sebanyak 4 orang. lebih ekonomis, begitulah.

dan, gue juga dapet kiriman e-mail dari beliau seminggu sebelum keberangkatan ke Jakarta, untuk mengisi surat interview untuk di selesaikan di kedutaan Jerman, Juli mendatang. dan juga, informasi untuk menandatangani surat pembukaan rekening di Bank Jerman pada tanggal 5 juni 2013 pukul 13.00, haruslah membawa kedua orang tua, jika belum berumur 18 tahun. karna, gue masih beberapa bulan lagi menuju 18 gue pergi bareng mama,papa. di karenakan mama dan papa gue terlalu sibuk, kami memutuskan untuk balik hari. pikir aja, dapet tiket pesawat paling pagi, 05.45 dan mama ngebanunin gue jam 3 subuh! what the *** padahal semalemnya gue tidur jam 1 malam. terpaksa dengan mata masih setengah tertutup gue menuju kamar mandi, ini mungkin udah yang ke 3 kali gue mandi jam segini, karna semalem hujan, jadi hawa dinginnya masih terasa sampai jam segitu, alhasil air buat mandi bikin gue kesetrum, dingin banget sodara-sodara!!

gue kurang inget jam berapa pastinya keberangkatan gue kemarin, yang jelas gue sampai di bandara Soekarno-Hatta jam 08.10. gue berangkat barengan sama temen papa gue yang kebetulan anaknya juga temen deket gue. kami ber 6, duduk cari sarapan di sekitaran bandara, jadwal kami waktu itu jam 13.00 masih terlalu banyak waktu yang bisa di habiskan, bener-bener pengin jalan-jalan, putar otak sekali lagi, ini Jakarta! dimana sih di Jakarta yang gak nemu macet. bener-bener mengurungkan niat. alhasil duduk di resto sekitar bandara, berbincang banyak hal tentang gue dan temen gue namanya cynthia. kami duduk disana, kira-kira hampir 1 jam, tepat 09.10 kami meninggalkan resto, mencari taksi, sialnya gue dan keluarga dapat urutan ke 39. bayangkan, itu taksi baru di nomer 19. dalam hati gue ngutuk bener, 'nunggu taksi aja udah kayak nunggu angkot belimbing di Padang. LAMA'. 25 menit menunggu, kami mendapatkan taksi. gue terpisah dengan keluarga cynthia. perjalanan dari bandara menuju kantor kedutaan Jerman yang terletak di jalan Thamrin, dekat sekali dengan bundaran HI memakan waktu 2 jam. mungkin di karenakan macet. dan macet yang sungguh di maklumi.

pukul 11.35 taksi berhenti di depan gedung sepertinya segi empat berwarna putih yang begitu besar, berpagar hijau tua menjulang, di atas pagarnya dililiti kawat entah untuk apa, disepanjang pagar, kira-kira terdapat 23 sisi tv. gedung yang benar-benar megah, kokoh dan memiliki struktur yang sederhana. lalu keluarga cynthia menyusul, kami kembali bersama. bertanya kepada satpam yang menjaga gedung itu, mungkin, gue fikir dateng lebih cepat bisa nunggu di dalam gedung, tapi ternyata untuk masuk kedalam, sesuai dengan janji yang sudah tertera di dalam list yang di pegang sang satpam tersebut. jadwal kami adalah jam 13.00 gue dalam hati bener-bener sudah mengutuk, panasnya Jakarta hari ini benar-benar membuat mood gue, seratus delapan puluh derjat berubah. gue yang nggak bisa nunggu dan berdiri didepan gedung, mengajak para orang tua untuk berjalan kaki, entahlah kemana, mencari makanan atau sekedar berteduh. ditambah lagi alergi cuaca gue mulai kambuh. di samping kiri kantor kedutaan tersebut, terdapat taman berbentuk segitiga yang mungkin bisa untuk berteduh. kami duduk sebentar, lagi-lagi gue bosan seperti ini. mengajak untuk mencari tempat makan, gue dan ibu-ibu itu berjalan mencari tempat makan, namanya juga Jakarta, di hamparan gedung-gedung pencakar langit yang di agung-agungkan itu, ternyata masih terlalu banyak kawasan-kawasan kecil bahkan disekitaran jalan Thamrin itu sulit di temukan tempat makan yang menyediakan pendingin. hanya gedung dan jalan raya. begitulah. jauh berjalan kaki, kami menemukan warung makan, sederhana sekali di sekitaran Bank mandiri kalau gue nggak salah. makan seadanya, gue lebih memilih makan Rujak tanpa kuah. kuahnya terlalu pedas. lama berada disana akhirnya pukul 12.45 kami meninggalkan warung makan itu. berjalan kembali menuju kedutaan. dan gue juga udah ketemu temen-temen gue dari Padang yang mungkin udah berdiri di depan kantor tersebut. membuka topik pembicaraan, heboh mungkin, setidaknya mood gue kembali lebih baik. dan akhirnya Pak Amran memunculkan diri, mengambil absen, untung karena nama gue Annisa paling awal, gue berdiri di barisan paling depan.

masuk kedalam kantor kedutaan. KTP seperti itulah hal yang pertama di tanyakan satpam disana. setelah mengeluarkan KTP kami di perbolehkan masuk. tapi tunggu dulu, setelah melewati gerbang, masih ada 2 satpam lagi, antri kembali untuk memeriksa keseluruhan badan, no handphone guys! semua tas di periksa ketat, semua yang ada di dalam kantong celana di keluarkan, bahkan jam tangan di lepaskan. setelah melewati alat pemeriksaan, kami di beri kunci masing-masing untuk mengambil handphone dan semua alat elektronik yang ada nanti setelah selesainya pengurusan. gue masuk ke kantor pengurusan pembukaan rekening Bank, nggak jauh dari tangga, membuka pintu dan duduk menunggu nama gue di panggil. 
dan, beberapa menit, nama gue di panggil, untung di giliran gue yang melayani orang Indonesia jadi nggak perlu translator. gue menyerahkan semua persyaratan, seperti Akte kelahiran asli, paspor, dan KTP kedua orang tua gue. setelah si mbaknya memeriksa semua dokumen gue secara teliti, menyakinkan sekali lagi kalau nggak ada yang salah dengan nama gue dan keluarga gue, si mbak menyerahkan kontrak yang harus gue dan kedua orang tua gue tanda tangan kan. hanya itu tidak banyak. sekali lagi dalam hati gue ngomong, 'cuma gini doang? kenapa ngebetein banget! shit!' setelah semuanya selesai, pak Amran kembali memberi informasi tambahan, seperti keberangkatan ke Balikpapan sudah di tetapkan pada tanggal 7 Juli 2013 dan keberangkatan ke Jerman ada 3 kali kuota, tanggal 1, 3 dan 4 september, itu tergantung pembagiannya. dan pak Amran menambahkan lagi, akan ada hal yang seperti ini lagi setelah Ijazah SMA dan SKHU keluar, kembali untuk mengurus Visa. dan hal seperti ini gue harapkan tidak menyebalkan lagi.

selesai jam 4.15 keluar dari kantor kedutaan, gerimis mendampingi, gue bahagia, setidaknya tidak terik. tapi, jalanan macet. benar-benar. gue langsung mencari taksi yang lewat untuk menuju bandara. tapi sulitnya mencari taksi kosong memang begitu adanya. 15 menit berlalu kami mendapatkannya dan kembali kebandara. pesawat kami berangkat pukul 19.45 sepertinya itu pesawat terakhir. menunggu dan menunggu. gue bener-bener capek pengen buru-buru nemu kasur. selama di atas pesawat ngantuk tidak juga muncul, jadi gue memutuskan terus membaca novel yang gue beli di bandara tadi, sampai lampu buat pesawat landing di matikan. sebelum pesawat landing, dalam hati gue ngomong 'gue udah mati-matian ngurus kuliah sampai mengorbankan lelah badan gue dan orang tua, semoga kelancaran kedepannya menyertai jalan gue, semoga dan semoga' pesawat mendarat sempurna, gue turun, langsung menuju mobil yang dari jam 4 subuh tadi terparkir di bandara. gue pulang, gue tidur. dan selesai.

begitulah perjalanan melelahkan ke Kantor Kedutaan Negara Federasi Jerman. ini cerita gue, apa cerita lo? ;)
thank's for read!


one day to remember


write by @istiqasuwondo


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...