Langsung ke konten utama

best friends like a sister

'kita terbiasa berbagi kisah. mulai dari terkecil hingga besar. kita seperti kembar yang berbeda. kita melalui setengah hidup bersama. bagaimana bisa sebuah kenangan itu PUDAR? TIDAK AKAN'

1998~
mungkin tepatnya kita tumbuh saling mengenal. berbagi banyak hal kecil yang dilakukan 4 bocah ingusan yang baru mulai belajar mengenal dunia luar. tak perlu mengenalkan nama masing-masing entah bagaimana kejadian mulanya, kita sudah terpatri untuk menghabiskan banyak hari kosong dimasa-masa transisi itu. ataukah dikarenakan pekerjaan orang tua kita yang sama? entahlah mungkin.

BLOK F dan G ASRAMA POLISI ALAI
1 gadis lahir lebih awal 31 Agustus 1994 Izdihar Sausan, 2 gadis lagi lari berurutan, 13 Agustus 1995 Dwi Hariana Pane, kemudian 26 Agustus 1995 Annisa Istiqa Suwondo, dan 1 gadis terakhir hadir mengisi tempatnya Yuni Minzuriatina 24 Juni 1996. berempat mengarungi masa kecil yang begitu indah. tak terlupakan itu pasti. terlalu banyak hal unik dalam setiap detik yang pernah kita rasakan. apakah opini kalian sepertiku juga?

seperti pagi di waktu memori lama ku putar, mendengar jeritan dari kalian bertiga memanggil namaku. aku bergegas keluar menyambut dengan teriakan super heboh. kita memulai pertualangan hingga sore menjelang. menjelajahi setiap sudut asrama. seperti halnya sebutan orang-orang, Preman dari blok F. kedengaran unik? tapi seperti itulah. mulai dari hal kecil hingga hal gila. mungkin, saat itu akulaah yang menjadi yang paling 'badung' diantara kalian. menjadi sosok yang begitu egois bahkan pemarah. tapi atas nama apapun itu karena aku tak pernah ingin kehilangan dari salah satu diantara kalian.
permain kecil yang kita lakukan, mulai dari masak-masakan, bongkar pasang, main lautan boneka dan barbie di kamarku, main tukar-tukaran orji atau binder, main monopoli, ular tangga, lompat tali, dalam bahasa Padang disebut 'sembah lakon' atau 'tapak rok' mungkin. main kucing-kucingan, petak umpet dan hal bodoh lainnya. jalan-jalan setiap minggu pagi, berkhayal setiap melewati rumah-rumah besar, atau makan kacang padi pakai roti di Gor sehabis jalan-jalan pagi, berenang di kolam berenang buya, kejar-kejaran dengan anjing, atau memecahkan gelas hiasan rumah orang? atau mungkin pergi ke rel kereta api mencari daun 'inai',  hal lainnya yang lucu, atau mengingat ketika antusiasnya kalian mendengar aku memiliki seorang adik, bermain lift di rumah sakit hingga sang suster memarahi dan pada akhirnya kita kesasar kelantai yang asing. yang tak kalah menariknya setiap kali hujan turun, selalu berbondong-bondong kita mencari celah untuk bermain bersama. lempar-lemparan atau bahkan lari-larian yang tak jelas. teriak layaknya kebebasan itu berpihak pada kita. mengarungi banyaknya kejadian aneh yang mungkin hanya kita yang mengetahuinya.

mengulang segalanya membuat ku terkadang dilemma dan gelisah. aku begitu merindukan kebersamaan itu. dari hal terkecil hingga yang terbesarpun. ingin sekali aku berkumpul dan menghabiskan hari-hari ku kembali bersama kalian, tapi aku sadar semakin kita tumbuh dewasa semakin banyak tugas dan tanggung jawab yang harus kita kerjakan. tidak seperti dulu, yang bebas melakukan apapun. mengacaukan apapun dan tertawa sebesar apapun.
ditambah lagi, hidup di benua berbeda dengan kalian, apakah kalian akan merindukan aku? setelah kita hampir berbagi banyak kisah. sangaat mengenal siapa aku, sangaat mengetahui apa yang selalu kututupi dari orang banyak. sangaat mengerti jalan fikiranku. akankah kita akan pudar? Aku yakin tidak akan.

heey para sahabaat terbaikku sepanjang hidup!!!
terima kasih untuk semua kenangan indah yang kalian berikaan. terlalu banyak ucapan terima kasih dari bibirku yang tak sanggup lagi mendeskripsikan betapa aku bahagia mengenal kalian, menyayangi kalian. terutama, untuk semua pengertian yang kalian pupuhkan padaku. keegoisanku dimasa lampau, aku mengerti, kalian mampu membimbingku memutar logika menjadi prioritas utama. seperti salah satu dari kalian yang mengatakan padaku tentang 'luka itu pendewasaan hidup. alasan utama kita bisa bertahan, karena kita sudah terlalu banyak mengenal jenis luka. jadi pemikiran logis bisa dengan mudah memproses apa yang harus kita tindakkan pada dunia selanjutnya'

dari awal, berkumpul bersama kalian, aku sudah merasakan kehangatan sebuah keluarga. dimanapun aku ditempatkan, keluarga kalian menyambutku dengan tangan hangat membuatku nyaman berlama-lama bersama kalian begitupun sebaliknya. aku merinduka cerita tawa, air mata, bagaimana saat kita saling menguatkan menggenggam dan memeluk bahkan ciuman yang mendarat di pipi masing-masing. I MISS YOU SO BAD GUYS!

aku tak ingin banyak menuliskan ini, aku sadar tanpa aku menulis ini, memori tentang kalian selalu bermain-main bersama khayalku. kalian yang kedua ku kenal setelah keluarga besarku, dan kalian yang selalu disisiku, walaupun kita sudah terpisah sejak lama, tak ada yang berubah, ketika bertemu, hangatnya suasana tempo dulu hadir bersama atmosfir gelak tawa kita. masa kecilku, begitu berarti begitu indah dan begitu menyenangkan. menghabiskan banyak hal yang membuat aku percaya, 'SAHABAT SEJATI ITU ADA'

ketika bersama kalian aku merasakan menjadi diriku sendiri. yang membebaskan aku tanpa hukuman. yang membuat aku menjadi lebih berarti, yang menyadarkan aku bahwa aku tak pernah hidup sendiri. yang membuat aku sadar, kalian adalah SEGALANYA mygirls :) #AnnisaIstiqaSuwondo




NB: iti harap kak susan ada diantara kami betiga lagi kak :') miss youu


with love, write by
@istiqasuwondo/Annisa Istiqa Suwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...